Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

10 April 2011

Semua 'Jalan' Sama?

Saya berharap semua teman dan pembaca faham dan mengerti maksud saya, tanpa terlebih dahulu harus saya jelaskan tentang makna 'jalan' dalam judul tulisan ini. Bukan karena sombong maka saya tidak perlu memberikan penjelasan. Juga bukan karena saya berkeinginan membuat teka-teki kepada Anda semua. Terus terang saja, selain saya sendiri merasa kesilitan bagaimana menjelaskannya, juga kawatir justru jika saya menjelaskannya secara terang, Anda menjadi tersinggung. Saya tidak mau ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Meski yang saya tulis ini masuk dalam domain yang relatif sensitif. Untuk itulah, tidak perlu saya menjelaskan lebih lanjut tentangnya. Cukup sampai disitu saja. Semoga cerita yang saya tulis nanti justru menjadi penjelasan yang oprasional.

Kembali kepada judul artikel ini; Apakah semua 'jalan' adalah sama? "Jalan' apakah Gus? Maaf, cukup sampai disitu saja. Saya perlu jawaban. Bukan penjelasan apa yang dimaksud dengan jalan tersebut.

Sekali lagi, jadi apa jawaban Anda dengan pertanyaan itu? Mohon jawabannya. Dan karena ini bukan pertanyaan sebagaimana yang ada di dalam soal ujian nasional, maka jawaban yang dituntut bukan memilih pilihan jawaban yang sudah ada dan tersedia. Dalam persoalan ini, saya meminta Anda untuk melakukan lebih dari sekedar memilih jawaban. Yaitu meminta Anda memberikan argumentasi terhadap jawaban yang diputuskan.


Mengapa saya sibuk dengan pertanyaan tentang 'jalan" ini? Karena, pertanyaan ini lahir terkait dengan jinggle lagu yang yang secara samar saya dengar. Jinggle itu syairnya mengatakan kalau semua 'jalan' adalah sama. Karena semua ('jalan' itu) menuju kepada Tuhan yang sama (?). Jinggle lagu yqng sekilas saya dengar di radio, saat saya berada di halaman sebuah pasar moderen yang ada di bilangan Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

'Jalan'

Dalam pemahaman saya tentang jalan menuju Tuhan, dan tentang saya sendiri menuju-Nya, maka saya menapaki jalan yang telah Tuhan saya berikan informasinya kepada saya. Sebuah informasi yang luar biasa karena saya harus memberdayakan akal dan pikiran saya serta rasa yakin. Jalan itu saya temukan melalui seorang yang paripurna liniernya antara pikirannya, gagasannya, ucapannya, serta perilakunya, yang saya yakini sebagai pemandu saya dalam menemukan tujuan akhir saya, dan mungkin juga Anda. Sebuah panduan yang jelas, yang tentunya dalam bentuk peta perjalanan. Inilah 'jalan' yang saya pilih dan yakini. Sebuah 'jalan' yang hakul yakin tidak ada duanya. Nah, bagaimana dengan 'jalan' yang Anda pilih? Mungkin sama dengan apa yang saya pilih. Tetapi sangat mungkin juga berbeda.

Kepada Anda yang memilih jalan berbeda dengan jalan yang saya yakini, maka saya mengajukan satu pertanyaan lagi; mengapa tidak anda memilih jalan yang saya pilih? Atau pertanyaan yang Sama anfa ajukan untuk saya; Mengapa saya tidak memilih jalan yang anda pilih? Tentu karena masing-masing kita meyakini bahwa 'jalan' menuju Tuhan yang berbeda tersebut, karena memang kita meyakini bahwa 'jalan' tersebut tidak sama. Beda.


Dengan logika sederhana seperti itu, saya berpendapat bahwa jalan menuju Tuhan tidaklah sama dan sebangun, jika kita kita membuat metapora dengan sebuah 'jalan' menuju kota Yogyakarta, misalnya.

Tidak Semua 'Jalan' Sama

Ada dua hal lagi yang ingin saya katakan. Bahwa kalau semua jalan menurut anda sama, sedang saya berpendapat berbeda, bukankah cukup bagi kita berhenti sampai di sini diskusi kita ini, dan mari saling menghormati apa yang menjadi keyakinan masing-masing kita. Karena jika Anda memaksa saya untuk meyakini kebenaran yang berbeda dari Anda, maka hingga akhir hayat pun, saya tetap mengakui yang sebaliknya. Oleh karenanya, mengapa dalam domain bertuhan pun saya harus diminta untuk mengatakan bahwa semua jalan sama?

Kalau hanya bermaksud mengibarkan bendera pluralisme tetapi harus memaksakan kehendak, saya justru meyakini bahwa Anda sebenarnya sedang memainkan dua peranan. Pertama, Anda sedang menjadi penebar perangkap dan sayalah korban yang menjadi sasaran Anda. Atau kedua, Anda sedang dijangkiti penyakit maju tak gentar membela yang bayar? Lalu kebenaran seperti apa jika dua peranan itu yang sedang dimainkan?

Jakarta, 10 April 2011.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

From:
sari suwarni : Pak, saya setuju dengan pendapat bapak..jalan setiap orang dalam hubungannya dengan Tuhan berbeda beda. dan ini bersifat vertikal ke atas kalo menurut saya urusan vertikal adalah urusan pribadi dan Tuhannya tidak boleh dicampuri oleh orang lain. jadi agar kita tidak menimbulkan keresahan dan konflik antar sesama marilah membangun budaya saling menghormati dan tidak mencampuri urusan vertikal setiap orang.