Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 April 2011

Leyeh-Leyeh


Leyeh-leyeh sambil membaca buku, membuka buku harian, yang saya beri judul pada bukunya sebagai Buku Kegiatan, dan diselingi dengan menuliskan apa yang tertangkap di kepala saya, alhamdulillah dapat saya lakukan kembali sore ini dengan senang hati. Sebuah kesempatan yang dianugerahkan Allah kepada saya dan istri.

Sebuah kegiatan yang menyenangkan sekaligus menenangkan batin. Duduk di hamparan tikar lipat lawas, ditimpa semilir angin mengibas keringat yang masih menyisakan lengket di badan. Ber-seliwer membawa kesejukan yang terasa hingga menembus pori-pori keriangan, menyelinap melalui ruang penangkap dibelakang rumah. 

Kegiatan yang saya lakukan untuk sekedar mengasingkan diri dari alam 'nyata', sebagai bagian penting untuk mengembalikan daya juang setelah satu pekan berada di area perjuangan. Kegiatan yang mengembalikan denyut gairah setelah layu dihempas atmosfer yang tidak menyapa dengan keramahan dan ketamahan sepanjang waktu kerja. Situasi yang mengembalikan pertumbuhan kembali sel-sel keharmonisan hidup yang penuh berpengharapan. Inilah masa refleksi diri bagi saya sekaligus sebagai saat untuk mengaca dan bercermin. Yaitu kegiatan leyeh-leyeh, santai merenungi masa yang lalu dan menempa mimpi untuk masa berikut.

Ruang Refleksi 

Saya membuka buku yang lain. Buku Kegiatanku tahun 2010-2016, yang baru 15 halamannya penuh dengan tanda peristiwa yang sebagian besarnya memang telah menjadi masa lalu. Menjadi sejarah. Diantaranya ada yang bertinta merah, hitam dan biru, serta kadang-kadang ungu. Menghiasi mind mapping kejadian, peristiwa dan catatan kalbu dalam setiap bahasannya. Dan saya meresakan sentuhan denyut kejadian dalam catatan itu terbayang kembali. Inilah saat refleksi diri yang tenang dan mendalam. 

Semakin jernih dan semakin jujur saya membaca lembar demi lembar yang tertuang dalam buku itu saya rabai, semakin cepat saya untuk terus menerus memancangkan tekad sekokoh-kokohnya menuju akhir yang baik. Akhir yang tuntas. Akhir yang merupakan gerbang sebuah perjalanan baru. Maka kejujuran pada saat saya menengok ke dalam wilayah lalu akan semakin memberikan pengharapan yang juga semakin terang. Itulah sunatullah. Inilah hukum sebab akibat.

Refleksi yang penuh dengan kejujuran juga akan memberikan dorongan kita untuk menjadi semakin akseleratif pada saat menemukan harkat dan martabat dalam akhiran yang baik. Itulah perjalanan leyeh-leyeh saya sore itu. Tidak ditemati kopi dan roti atau singkong goreng...

Jakarta, 2-3 April 2011.

Tidak ada komentar: