Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

06 April 2011

Hasil UN bukan Parameter Masuk PTN

Beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan Nasional, mengemukakan wacana untuk menjadikan hasil UN SMA sebagai bagian dari parameter penerimaan mahasiswa baru di jenjang Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Namun pada hari ini, Rabu, 6 April 2011, harian Kompas menurunkan berita yang tampaknya menjadi jawaban final bagi PTN. Yaitu bahwa hasil UN (SMA) tidak menjadi parameter untuk masuk PTN.

Apa yang disampaikan oleh beberapa pejabat di tingkat PTN tersebut, bagi saya sebagai bagian dari masyarakat, adalah bentuk ketidakberhasilan atas wacana yang diusung oleh Mendiknas dan Dirjen Dikti. Artinya para lulusan pada jenjang pendidikan SMA/sederajat pada tahun pelajaran ini, akan sama saja dengan apa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Inilah kenyataan yang saya alami bersama putri saya pada tahun sekitar bulan April 2009 lalu. Dimana putri kami pada saat itu telah mendapatkan kursi di PTN, dan dia bertanya sekaligus meminta persetujuan pada saya; Ayah, berarti target berikutnya sebagai akhir dari pendidikan saya di SMA adalah lulus UN 'saja'? Saya menjawab dengan enteng juga; Benar. Yang penting lulus. Putri saya paham sekali bagaimana untuk menjadi pragmatis. Tapi saya berpikir; bahwa generasi mereka adalah generasi 'cerdas' dalam membaca lingkungan yang tumbuh di sekitarnya. Kanyataan yang semestinya membuat kita khawatir, karena pragmatis akan melahirkan sikap untuk memilih jalan yang lebih mudah. Namun hendak dikata apa, itulah memang jalan yang akhirnya ditempuh oleh putri saya.

Kendala PTN

Apa yang menjadi kendala bagi perguruan tinggi negeri untuk tidak menjadikan nilai dalam Ujian Nasional (SMA/sederajat) tidak menjadi parameter masuk ke bangku kuliah di PTN? Beberapa hal dikemukakan para petinggi yang ada di beberapa PTN sebagaimana yang dikutip dalam berita Kompas tersebut (Kompas, 6 April 2011).

Pertama, ketidakmurnian hasil Ujian Nasional. Seperti adanya beberapa daerah yang menjadikan hasil UN sebagai gengsi daerah. Dengan begitu maka ada beberapa daerah yang melakukan berbagai cara untuk meningkatkan nilai rata-rata hasil UN.

Pada tataran operasional, sinyalemen Pembantu Rektor (PR) I, Universitas Andalas Padang ini tampak, misalnya pada saat sosialisasi Ujian Nasional yang dilakukan oleh Dinas Dikpora di beberapa daerah kepada para kepala sekolah. Dimana penekanan amanat untuk meningkatkan hasil rata-rata nilai UN disetiap tahunnya, menjadi bagian penting pada rapat-rapat tersebut. Dan itu sebelumnya belum menjadi masalah apa-apa, apabila disampaikan jauh sebelum UN akan berlangsung. Tapi bagaimana bila hal tersebut baru disampaikan ketika waktu yang tersisa untuk persiapan UN tinggal 6 pekan?

Repotnya lagi, beberapa sekolah dan beberapa pihak, menyikapi amanat tersebut tidak secara alami, yaitu dengan bekerja keras dan cerdas dalam mempersiapkan peserta didiknya untuk berhasil secara maksimal dalam menempuh UN, namun kadang juga masih melakukan praktek tidak alami atau praktek instan.

Kedua, tingkat kesulitan bagi PTN untuk membuat penyaringan berdasarkan hasil UN. Karena nilai UN para calon mahasiswa tersebut relatif seragam. Padahal jumlah calon mahasiswa yang mendaftarkan diri ke PTN tertentu sangat tidak sebanding dengan jumlah kursi yang tersedia. Ketidakseimbangan rasio pendaftar berbanding kursi yang tersedia ini diungkapkan oleh PR I Universitas Negeri Makasar.

Ketiga, Bahwa nilai UN tidak mengukur sesuatu yang spesifik dibutuhkan oleh fakultas yang terdapat di perguruan tinggi.

Lulus, sebagai Prasyarat

Jika demikian kenyataannya, maka apa esensi bagi lulusan SMA atau sederajat untuk tetap meraih hasil UN yang tinggi, terutama bagi kepentigannya untuk melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi Negeri? Toh dengan hasil apapun, mereka harus tetap dituntut untuk berjuang memperebutkan kursi dengan melalui tes masuk?

Dari uraian berita yang dimuat dalam Kompas hari ini, jawabannya sangat sederhana: Yaitu tidak ada hubungannya. Selain hanya lulus saja. Karena lulus SMA/sederajat memang menjadi prasyarat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan di perguruan tinggi.

Kalau itu saja yang diperlukan, maka jangan heran kalau Program Paket C pada masa yang akan datang, masih akan menjadi incaran dan sekaligus alternatif bagi siswa SMA/sederajat.

Berbeda di perguruan tinggi swasta, diantara mereka sangat mengapresiasi bagi lulusan SMA/sederajat dengan hasil UN yang tinggi, dalam bentuk potongan harga dari uang masuk yang telah ditetapkan sebelumnya.

Jakarta, 6 April 2011

Tidak ada komentar: