Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 April 2011

'Revolusi' Tukang Ojek yang Saya Tumpangi

Beberapa waktu lalu, setelah turun dari shelter bus transjakarta di Rawasari, Jakarta Timur, saya lanjutkan perjalanan saya menyusuri Jalan H Ten di Rawasari, dengan diantar oleh tukang ojek. Ia mengantar saya dengan kecepatan yang wajar. Tidak terlalu 'bligsatan' saat harus mendahului angkat 24 yang klebetulan ngetem di pinggir jalan itu yang hanya untuk 2 lajur kendaraan saja. Tidak ada bunyi klakson, apa lagi umpatan.


Jalanan sepanjang H Ten yang relatif sibuk kala menjelang pukul 06.45 itu, menjadi sedikit tersendat menjelang pasar yang ada persis di depan Masjid Salman Al Farisi. Lajur yang kami lalui, yang semestinya kosong, banyak diserobot oleh pengendara sepeda motor bahkan bajaj. Jadilah kendaraan yang saya tumpangi juga menyesuaikan diri pada situasi.

  • Perilaku di jalanan sekarang semakin tidak membuat kita nyaman naik kendaraan ya Mas. Kata saya kepada tukang ojek.
  • Semakin hari semakin banyak saja pengendara semakin tidak memikirkan bagaimana orang lain. Lanjut saya. Pendapat saya ini saya kemukakan kepada tukang ojek saya, saat lajur kami diserobot oleh dua kendaraan bajaj dari lawan arah. Bajaj menerobos jatah kami karena lajur yang menuju lampu merah perempatan Rawasari punuh antrian kendaraan roda empat. Jadilah kami mengalah. Karena jalan hanya menyisakan sedikit celah bagi ojek kami untuk melaju.
  • Ini tidak apa-apanya Pak, kalau kita mau bandingkan dengan apa yang terjadi di kalangan elit negeri ini. Mereka jauh lebih tidak pedulikan kita yang harus berjuang untuk bertahan hidup dengan sikap yag jauh lebih memuakkan dan tidak tahu malu lagi. Lihat bagaimana ujung kasus bank, kasus pajak, banyak Pak. Sergah tukang ojek saya.
Pendek kata, dari apa yang dia kemukakan sepanjang perjalanan adalah pandangan orang yang mengisi kepalanya dengan berita yang muncul di koran atau televisi. Dia lancar menguraikan apa saja yang menjadi 'dosa' para 'penguasa'. Dan sekaligus mengkonfrontirkannya dengan apa yang dia dan teman-temannya alami dalam mengarungi kehidupan yang keras. Pemikirannya, menunjukka kalau dia berpendidikan. Bukan saja lulus dari pendidikan formal saja, tetapi memiliki pola analisa yang jernih bahkan 'revolusioner'. Mungkin dia lulusan dari universitas kehidupan ini.


'Revolusi'


Labih-lebih saat dia mengemukakan bagaimana lazimnya kesulitan hidup yang dialami oleh orang-orang seperti di kalangan dia. Berikut ini misalnya apa yang diasampaikan kepada saya sepanjang 5 menit mengantarkan saya. Yaitu:
  • Mau memasukan anggota keluarganya menjadi PNS, maka harus punya saudara yang terlebih dahulu menjadi PNS. Jadi kapan keluarga saya dapat menjadi bagian yang menikmati gaji pemerintah?
  • Mau tetap menggunakan kompor minyak yang lebih aman, tapi harganya yang jauh lebih mahal dari pada bensin sehingga harus menggunakan kompor gas yang kadang menyimpan bahaya.
  • Ingin menyekolahkan anak agar nantinya dapat lebih memiliki kemampuan dalam mengangkat harkat dan harga diri keluarga, tapi terbentur dengan biaya sekolah yang semakin berat meski masuk sekolah miliki pemerintah?
Seandainya, katanya, kami semua yang senasib seperti ini memiliki persatuan sehingga kita semua dapat bersatu, saya teringat dengan apa yang dikemukakan oleh Minke dalam tetraloginya Pamudya Ananta Toer, kita akan mampu melakukan revolusi!


Saya diam. Saya merasa kalah melawan argumentasinya. Namun saya juga menikmati atas 'kecerdasan' pikirannya. Sebuah kepintaran yang saya kira bukan berasal dari sekolahan. Saya yakin sekali itu. Sayangnya, saya tidak lagi bertemu dengan dia lagi. Atau mungkin saya lupa yang mana dia? Karena toh, saya selalu turun di shelter bus transjakarta yang sama. Dan, di halte bus kota itu, selalu ada tukang ojek yang mangkal. Meski demikian, setidaknya saya yang produk sekolahan belajar tentang; bagaimana model 'revolusi'nya tukang ojek yang mengantarkan saya itu.


Jakarta, 3 April 2011.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

subhanallooh ..."tukang ojek intelek..." .........nrimo ing pandum........ mbotten neko-neko...., berwawasan....., terhimpit oleh nasib...., inilah nasib anak bangsa, mungkin nenek moyangnya salah satu pelaku sejarah juga, yang memegang bambu runcing, bedil rampasan..untuk merebut kemerdekaan..., namun miris sekali jika kita melihat sekeliling kita yang dijaman ini banyak gedung2 tinggi menjulang, mall2 yang indah dengan kemerlapnya kehidupan yang glamour tapi dipenuhi oleh orang orang be_raskan non melayunesia_indonesia, sementara sang anak negeri hanya bisa memandanginya, ter_nganga nganga dan sulit untuk menikmatinya.....oh kasihan saudaraku..... memang harus ada revolusi setidaknya bukan dalam bentuk revolusi fisik...revolusi pemikiran dan rasa kebangsaan....wallohu 'alam bishowab....