Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

09 April 2011

Pola Komunikasi dan Persepsi, Sebuah Refleksi dari Peristiwa Titipan

Artikel ini tidak membahas tentang pola komunikasi para anggota dewan yang terhormat berkenaan dengan pembangunan gedungnya yang hingga kini selalu hangat meski, katanya, anggaran pembangunannya sudah dialokasikan. Karena selain masalah itu begitu besar bagi saya pribadi yang hanya memiliki satu suara saat di dalam TPS, juga tidak ada guna dan manfaatnya bagi mereka yang ketika sudah menjadi anggota dewan terhormat, terlalu muskil untuk mampu dan bisa mendengar suara saya.

Jadi bukan tentang masalah itu. Tulisan ini adalah tentang hal kecil dan sehari-hari, yang kami alami di tempat kami memegang amanah sebagai guru di sekolah.

Berikut ini adalah kejadian yang saya alami di sekolah. Kejadian yang berkenaan dengan titipan barang, berupa hsil tugas siswa yang tertinggal, untuk dikirim kepada siswa melalui salah seorang anggota Satpam sekolah, yang ternyata tidak terkomunikasikan bahwa titipan sudah sampai. kepada orang yang dituju.

Peristiwa berawal dari komplain anggota Satpam kepada saya. Komplain berkenaan dengan titipan dari orangtua siswa yang setelah sampai di rumah, siswa mengaku belum mendapatkan titipan yang di kirim ke sekolah.

Bermula dari titipan yang diserahkan kepada salah seorang anggotaSatpam kepada guru yang bertugas di meja piket. Sebagai bentuk amanah, guru petugas piket langsung menyerahkan titipan kepada guru kelas yang dituju. Guru tidak mengkomunikasikan kepada siswa jikalau pekerjaan rumahnya yang tertinggal sudah diterimanya. Ketika sampai di rumah, sang Ibu yang menitipkan barang kepada Satpam bertanya kepada anak; Apakah titipannya sampai dan diterima? Jawab anak belum. Inilah model komunikasi yang sering membuat suasana dan atmosfer tidak lagi kondusif. Meski masalah yang timbul sesungguhnya terletak kepada kurangnya kepekaan dalam berkomunikasi.

Pola Komunikasi dan Persepsi

Peristiwa kecil di atas menjadi bahan tulisan ini, karena saya melihat ini adalah kejadian yang tampaknya sering menimpa kita. Anehnya kita sendiri membiarkannya, atau lebih tepatnya kurang memahami dan menyadarinya sebagai sumber penghambat dari sebuah keharmonisan hubungan. Tentu bagi kita, ketika kita berada pada pihak yang tidak diuntungkan. Seperti peristiwa di atas, dimana pihak otangtua akhirnya komplain kepada Satpam yang menerima langsung titipannya.

Padahal sesungguhnya tidak ada masalah dalam hal titipan itu. Bukankah titipan tetap sampai kepada orang yang dituju? Letak masalahnya adalah tidak adanya komunikasi antara guru yang menjadi tujuan dari barang titipan tersebut, kepada siswa yang bersangkut dengannya. Misalnya dengan mengabarkan kepada siswanya bahwa titipan berupa buku pekerjaan rumah yang tertinggal di rumah telah sampai dan diterimanya.

Sangat boleh jadi pihak guru, atau suatu saat dalam masalah lain misalnya adalah kita sendiri, tidak menyadari betapa pentingnya menyatakan apa yang telah diterimanya, itu kepada pihak yang berkait dengannya. Kenyataan seperti ini hanya dapat terjadi karena ketidaksadaran dan ketidaksampaian kita, bahwa menyatakan sesuatu yang diterima atau bahkan yang dipikirkan adalah hal yang bermakna bagi orang lain. Terutama yang berkait dengan sebab akibat dalam komunikasi sosial.

Atau boleh jadi hal semacam itu tidak terpikir karena guru yang menerima kiriman tersebut , karena pada saat yang sama sedang tidak fokus. Maka pemikiran titipan dari siapa dan untuk siapa, juga menjadi tidak diperhatikannya. Tapi itulah pola kamunikasi yang sering terjadi di lingkungan sosial kita. Bahwa sering kita menganggap orang lain telah tahu dan bahkan faham tentang apa yang ada di dalam benak kita padahal kita belum atau tidak menyatakannya. Karena tahu dan faham pada kenyataannya seperti itu baru ada pada tataran persepsi.

Pola komunikasi yang mengandalkan persepsi seperti peristiwa tersebut di atas itulah yang masih sering terjadi dalam domain sosial kita. Semoga hal semacam ini tidak terulang dimasa berikutnya. Terutama dan yang paling utama di lingkungan paling dekat dengan saya. Semoga. Amin.

Jakarta, 8-9 April 2011

Tidak ada komentar: