Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

04 April 2011

'Kemudahan' dari Kartu Hutang

Kemudahanlah yang menjadi janji dan bukti bagi pemilik kartu hutang, yang sekarang ini sedang marak di ranah publik kita. Terutama sejak kasus meninggalnya seorang nasabah di kantor sebuah bank yang berkantor di Menara Jamsostek, Jalan Gatot Subroto, Mampang Prapatan, pada Selasa tanggal 29 Maret 2011 (Kompas, 4 April 2011). Salah satu kemudahan yang ditawarkan, antara lain datang kepada saya, saat saya mengganti baterai lap top saya di Ratu Plasa beberapa saat yang lalu. Dimana, karena saya tidak menyiapkan uang tunai, maka saya meminta kepada penjaga toko untuk membayarnya dengan menggunakan kartu ATM yang saya punya.
  • Ada kartu hutang Pak? Tanya pramuniaga itu kepada kepada saya.
  • Mengapa kartu hutang? Saya balik bertanya. Saya berpikir, jangan-jangan kartu ATM saya tidak laku lagi untuk digunakan sebagai kartu membayar belanjaan.
  • Karena kalau Bapak membayar dengan menggunakan kartu hutang bapak, Bapak akan mendapatkan potongan harga 5 %. Lumayan Pak. Lima persen dari satu juta ada lima puluh ribu rupiah Pak. Jelasnya dengan tetap memegang kartu ATM saya menuju mesin penggeseknya.
Saya tidak menjawab atau mengometari apa yang disampaikannya. itu Saya justru merenung. dan tertegun atas dua hal. Hal yang pertama, adalah shok karena harga baterai lap top saya, kok harganya tidak pernah turun(?). Padahal ini adalah baterai yang kedua sepanjang saya punya lap top ini. Baterai aslinya meleleh persis didekat adaptonya. Yang kedua juga tertimpa hal yang sama. Jadi saya pikir, harga mahal kok cengeng? Disisi lain, saya bangga karena lap top saya 'anti virus', tapi disisi lainnya lagi saya prihatin dengan harga spare partnya yang tidak pernah murah.

Hal yang kedua, adalah pertanyaan dari pramuniaga apakah saya tidak mau membayar apa yang saya beli dengan kartu hutang supaya mendapat 'keuntungan'? Apakah ini yang dimaksudkan dengan kemudahan itu? Membayar dengan menggunakan uang milik orang tetapi justru diberikan 'kemudahan' dibandingkan kalau saya membayar dengan uang yang jelas-jelas milik saya sendiri melalui kartu ATM? Pola pikir macam apakah model pembayaran semacam ini? Apakah dunia dalam keadaan baik-baik saja bila orang yang di dompetnya ada kartu hutang justru lebih trendy di banding dengan yang tidak memilikinya? Apakah tidak inilah jebakan gaya hidup yang 'berhasil' atas diri kita yang menjadi kalah di hadapan para pemilik modal? Saya tidak paham. Tapi saya masih sadar.

Kasadaran itu pararel dengan apa yang ditulis dalam Kompas hari ini , 4 April 2011, bahwa bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk menggunakannya memang penggunaan kartu ini relatif membantu. Namun kemampuan apakah itu? Menurut saya, yang paling penting dan utama adalah kemampuan finansial. Dimana orang model ini akan menggunakan kartunya karena kemampuannya untuk dapat mengembalikan dana yang telah digunakannya segera atau paling tidak sesuai dengan batas waktu yang diberikan. Namun bagi yang kemampuan finansialnya pas-pas saja, akan menjadi bumerang manakala ia menggunakannya tidak bijak, seperti gaya hidup besar pasak daripada tiang. Model pengguna seperti ini yang akhirnya terlilit hutang sekaligus bunga berbunga yang tidak berkesudahan.

Maka bijaklah bila Anda adalah salah satu dari pengguna kartu hutang ini.
Salam bijak,

Jakarta, 4 April 2011.

Tidak ada komentar: