Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

25 April 2011

Kusir dari Giwangan

Siang ini, sepulang dari Prambanan, dimana rumah calon besan yang baru saja kami kunjungi, saya minta turun di perempatan Lampu merah Giwangan. Cuaca siang itu cukup terik. Sehingga udara terasa panas dan gerah.

Saya mengajak istri dan anak menyeberang ke arah pintu masuk utama terminal bus Giwangan, Yogyakarta. Karena saya berpikir di lokasi itu akan lebih mudah saya temukan taksi di banding jalur ring road. Meski keringat kami bercucuran menahan panas, kami masih harus tetap melanjutkan perjalanan.
Sampai di seberang pintu masuk utama terminal, saya menemukan taksi sedang mangkal persis disebelah kiri pintu keluar terminal. Saya melihat supir duduk di bangku warung yang ada di sebelah taksi berhenti. Saya bersiluir melengking memanggilnya. Dia menengok dan dengan kode dan aba-aba, saya memintanya untuk segera memutar arah dan menyeberang di sisi jalan dimana saya menunggu, guna mengangkut saya. Tapi rupanya maksud saya tidak sampai. Dia berdiri dari duduknya dan terlihat bergegas ke arah saya yang ada diseberang jalan.

  • Borongan mau ya Pak. Katanya setelah dekat dengan saya.
  • Berapa? Tanya saya. Rupanya Ia memilih borongan dibanding menggunakan argo taksinya. Mungkin cara itulah untuk mendapatkan uang lebih dari kami penumpangnya. Allahu a'lam.
  • Lima pulih ribu rupiah Pak. jelasnya.
Kami tidak menawarnya. Karena kami semua sepakat untuk tidak mau mengajukan penawarannya. Udara masih tetap panas. Saya berharap dalam hati agar kiranya segera ada kendaraan lain yang dapat mengangkut saya. Menuju losmen dimana kami bertiga sudah pesan beberapa waktu sebelumnya. Lokasinya di jalan Dagen.

Sebelum tuntas berpikir, datang dari arah Imogiri, dokar kuning dengan 3 penumpang yang sudah ada di atas.
Tanpa pikir panjang lagi saya menyapa mereka dan bertanya. Kemanakah tujuan yang ingin mereka tuju?

  • Malioboro Mas. Jawabnya.
  • Berapa ongkosnya?
  • Monggo mawon mas. Jawaban khas jawa. Yang bermakna lebih kurang berapa saja sesuai perkiraan penumpang. Sebuah jawaban ngambang yang sulit buat saya. Bagaimana saya dapat memperkirakan ongkos naik andong di Yogyakarta kalau saya datang ke kota ini tidak saban hari. Dan bukankah saya tidak selalu naik andong jikapun ada di Yogyakarta.
Saya bersyukur ketika tiga orang yang lebih dulu naik tadi ternyata juga lebih dulu juga turun. Karena saya jadi punya standarisati ketika salah seorang dari mereka mengulurkan uang sepuluh ribu kepada kusir untuk ongkos tiga orang. Maka ongkos itulah yang saya jadikan patokan perkiraan saya untuk ongkos naik andong dari Terminal Giwangan hingga ke jalan Dagen.

Tak berapa kemudian sampailah kami di jalan Dagen. Saya serahkan satu lembar uang kepada Pak kusir itu. Sebelum Ia pergi, Ia bertanya pada saya:
  • Tidak uang pas saja Pak? Saya tidak punya yang untuk kembali. Saya sejenak berpikir. Oh, jadi ongkosnya ketebak juga. Simpul saya.
  • Tidak perlu kembali mas. Sumua itu ongkos kami. Jelas saya.
  • Terima kasih sekali Pak. Terima kasih. Kata berikutnya.
Alhamdulillah, siang ini saya dapat melihat wajah syukur dari seorang kusir yang saya temui di Giwangan, Yogyakarta.

Yogyakarta, 23 April 2011-Jakarta, 25 April 2011.

Tidak ada komentar: