Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

25 April 2011

Pecel Kembang Turi

Mangkin sekali apa yang akan saya sampaikan dalam cerita ini tidak begitu istimewa untuk Anda pegemar makanan sejenis ini. Maksud harus juga saya sadari bahwa tidak istimewanya karena pecel memang adalah suatu makanan yang lumrah, makanan yang relatif biasa. Dan semua kita hampir pernah merasakannya. Atau bahkan menghidangkannya.

Sekedar mengingatkan Anda yang pernah singgah di Kota Yogayakarta umumnya, atau khususnya melintas di depan Pasar Bringharho, di jalan Malioboro, pedagang pecel akan setia melayani anda. Tapi saya yakin tidak semua Anda akan begitu saja mudah tergiur untuk membelinya di tempat seperti itu. Mungkin karena alasan hegenis atau gengsi. Namun jika Anda memiliki keinginan menggebu untuk menyantapnya, maka datanglah ke tempat itu pagi hari, sekitar pukul 07.00. Selain lebih sepi orang, juga sangat dimungkinkan masih fres!
Atau jika anda ada di daerah Banyumas, selain pecel, padagang juga akan menyediakan menu tambahan berupa tempe mendoan dengan lembaran yang lebar. Pecel di sini juga menantang selera kita. Karena selain jenis sayuran wajibnya yaitu kacang panjang, toge, dan kembang turi, kadang ada tambahan bunga yang warnanya merah dengan rasa yang sedikit 'menyengat'.

Namun ada hal lain yang beda dengan pecel yang saya sampaikan di atas, yang kami santap pada siang hari itu, Sabtu, tanggal 23 April 2011. Perbedaan itu karena inilah menu andalan saudara saya yang tinggal di pinggiran kota Yogyakarta. Keistimewaannya selain sambel kacangnya yang super pedas bagi saya, juga karena peyek daun bayamnya yang gurih dan renyah, serta kembang turinya yang empuk. Kembang turi dari pematang sawah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Yang anak saya dapat mengambil gambar bersama saudaranya ketika selesai menyantapnya. Termasuk juga kacang panjangnya yang juga satu paket dengan kembang turi pada menu pecelnya itu.

Itulah istimewanya pecel kembang turi saudara saya itu. Hampir semua bahannya merupakan hasil jerih payahnya sebagai petani sejak Ia memasuki dunia pensiun beberapa tahun lalu.

Dan tampaknya, Ia begitu menikmati dunianya kini. Seperti keceriaannya pada saat Ia menyambut kami untuk datang di kediamannya dan mengajaknya makan dengan pecel kembang turinya. Dunia pensiun yang jauh dari perasaan post power syndrom.

Yogyakarta, 23 April 2011-Jakarta, 25 April 2011.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

sdnegerikeduren@gmail.com>
View contact details
To:
alumnispgbruderanpwr@yahoogroups.com


Ha....kapan ke Malioboro lagi? ngampiri aku oke,tapi pagi hari cocok deh, aku pernah juga naik kereta Pramek dari Jenar sampai tugu 06.30. masuk Malioboro wow masih sepi, o begini to malioboro pagi hari, aku trus sarapan pagi bersama istri dan 2 anaku.pecelnya pakai pincuk... alias gak pakai piring. memang itu cok ngangeni deh. selamat mencoba lagi.