Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

03 April 2011

Bersahabat dengan Plastik



Barisan pohon dalam plastik bekas air kemasan satu setengah literan di samping berderet lebih kurang 50 meter di sepanjang jalan Slipi Cabang Utama, dekat rumah Ibu Mertua saya di Slipi, terlihat seperti gambar kiri. Ini adalah karya ketekunan dari Bapak tetangga kami, H. M. Nur Umar, yang juga adalah Bapak RT di Rt 009 Rw 05, Slipi, Palmerah, Jakarta Barat.

Sebuah ide yang sederhana menurut saya. Namun ketekunannya untuk merealisasikan ide bagi penghias di ranah publik, adalah kecerdasan lingkungan yang maha langka. 


Setidaknya inilah yang saya juga temukan di lingkungan saya yang lain. Dimana plastik bekas kemasan makanan dan minuman begitu mudah saya temui di sepanjang aliran air di sepanjang jalan MH Thamrin wilayah kami. Plastik yang telah menjadi sampah tersebut begitu cepatnya menumpuk di sana. Sore diangkat, maka keesokan harinya telah menumpuk di jaring kawat yang dibuat salah seorang warga, tetangga kami. Dan plastik menjadi sangat dominan dari tumpukan sampah tersebut. Sampah daun blimbing wuluh, daun pohon kelengkeng, dan daun pohon mangga yang tidak jauh dari aliran got, menjadi bagian minoritasnya saja. Menyedihkan.


Bukan saja karena tumpukan yang tidak pernah berkurang, namun justru karena sampah plastik adalah yang sulit di urai secara alami. Dan menjadi tren kemasan dalam setiap aktivitas kehidupan kita. Mengedukasi konsumen untuk ramah dan sekaligus cerdas terhadap sampah, terutama yang tinggal di perkotaan, sudah menjadi bagian sulit bagi aktivis lingkungan, di tambah lagi dengan perilaku produsen yang jauh lebih tidak berpikir ekosistem dan masa depannya. Maka akan datang suatu masa dimana kita akan mendapatkan kesulitan atas apa yang kita tampilkan sekarang ini terhadap sampah plastik.


Edukasi melalui sekolah, dimana siswa dibelajarkan untuk memisahkan sampah organik dan un-organik, dengan pemisahan tempat sampah, meski baik dan menampakkan hasil, juga nampak masih menjadi budaya hulu. Karena sepanjang perjalan sampah tersebut, pada akhirnya akan bertemu dan bersatu lagi saat dalam penampungan sementara hingga akhir.


Belum lagi perilaku sembrono dan tidak berbudaya para pengendara kendaraan yang 'menumpahkan' apa saya yang menjadi sampah dari kendaraannya saat masih melaju. Dimana pun. Tidak peduli apalagi tumbuh rasa malunya. 


Saya sebagai bagian dari masyarakat, mencoba untuk menumbuhkan apa yang saya sampaikan ini dengan sebaik mungkin 'memperlakukan' plastik. Selain menyatukannya mereka saat akan kita 'donasikan' kepada petugas pengumpul sampah, saya pun mencoba untuk menjadikannya pot pembibitan. Seperti tampak pada gambar kanan. 'Pot-pot' itu sebagai wadah bagi tunas pohon asem dan pohon cermai. Semoga ini menjadi bagian dari kontribusi sayauntuk mensyukuri apa yang telah Allah anugerahkan  terhadap kenyamanan hidup kami.

Jakarta, 3 April 2011.

Tidak ada komentar: