Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Oktober 2013

Melihat Tidak Liniernya Belajar Karakter



Dalam renungan saya ini, saya mencoba menuliskan tentang fenomena belajar, usaha belajar, hasil belajar, dan tentunya apresiasi terhadapnya, dilihat dari sebuah garis lurus. Sebuah fenomena yang sebelumnya sebagai bahan bincang kami, para teman-teman yang bergerak di bidang pendidikan di sekolah, yang sama-sama tertegun jika fakta-fakta ini kami kemukakan. Karena dari garis merah yang kami temukan, ada ketidak 'benaran' bila kita menariknya sebagai garis lurus. Inilah sebuah kegiatan belajar formal di sekolah yang harus menjadi renungan kita, para teman-teman guru.

Meski perlu pula saya sampaikan disini bahwa, fenomena ini terbentuk dari beberapa bagian yang tidak sepenuhnya melibatkan seluruh bagian dari pelaku pembelajaran. Masih menjadi bagian-bagian, yang kalau di sekolah kami sendiri bagian itu masih minoritas. Itu pun bedasarkan pengakuan beberapa pelaku kepada kami, para gurunya.




Untuk membuat lebih jelas tentang apa sesungguhnya fenomena yang saya sampaiakan tersebut, ada baiknya jika saya memulainya dengan pembahasan SKL atau Kisi-Kisi Ujian Nasional, yang kalau di sekolah menjadi rujukan bagi ketercapaian target hasil belajar yang bagus.

SKL dan Kisi-Kisi

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sekolah dan seluruh komponen pendidikan menjadikan SKL, standar kelulusan, atau kisi-kisi sebagai acuan dalam menentukan keberhasilan ujian yang akan dihadapi.  Oleh karenanya tidak ada kecuali bagi seluruh komponen di sekolah untuk  belajar dan menguasai materi pembelajaran dengan panduan tersebut. Karena dari SKL atau Kisi-Kisilah soal-soal ujian dikembangkan.

Oleh karenanya, beberapa sekolah berjuang keras untuk mewujudkan ketuntasan para siswanya dalam menguasai SKL atau Kisi-Kisi yang ada. Keberhasilan belajarnya itu diupayakan antaralain dengan menambahkan waktu belajar kepada kelas yang akan menghadapi ujian. Dengan istilah yang antaralain adalah Pendalaman Materi. Atau juga mengintensifkan waktu belajar anak-anak tersebut. Bahkan beberapa sekolah, atas desakan dan persetujuan orangtua siswa untuk bekerjasama dengan lembaga bimbingan belajar. Semua usaha ini, kalau saya klasifikasikan sebagai usaha keras dan juga sekaligus usaha cerdas bilamana usaha kerasnya tersebut dibarengi dengan membuat analisa SKLnya.

Bahkan tidak cukup sampai dengan usaha keras yag mereka rencanakan dan ikhtiarkan, semua komponen sekolah juga akan melakukan doa bersama menjelang ujian berlangsung. Tentu semua usaha tersebut dilakukan sebagai rangkaian mendapatkan hasil ujian yang optimal.

Adanya Penyimpangan

Namun demikian, ada beberapa penyimpangan yang mungkin dilakukan oleh beberapa pelaku pembelajaran tersebut. Penyimpangan itu berupa upaya dan usaha untuk berpatungan uang dalam sejumlah tertentu, agar disaat ujian berlangsung nanti, ada kiriman kunci jawaban dalam bentuk SMS atau BBM. Dan dari cerita selentingan yang beredar, bahwa pihak yang memberikan tawaran untuk adanya kiriman SMS atau BBM tersebut adalah pihak-pihak yang masih berdekatan profesinya dengan pendidikan.
Bocoran kunci jawaban UN SMA tahun 2013, yang ditemukan seorang guru yang menjadi pengawas UN dan dipubikasikannya melalui facebook.


Lalu bagaimana pula agar siswa yang menjadi pihak pelau ujian tersebut dapat menerima, membaca, atau bahkan menganalisa kunci yang mana yang benar dari 20 paket kunci jawaban soal yang ada? Tentunya adalah dengan memegang alat komunikasi mereka di dalam kelas. Dan tentang bagaimana anak-anak didik itu masih memungkin memegang HP, itulah yang pada setiap tahunnya berganti modus.

Bagaimana pula jika hasil ujian telah diumumkan kemudian beberapa anak yang terindikasi menggunakan kunci jawaban memperoleh hasil yang relatif baik? Dari pengamatan saya, mereka juga ikut serta merayakan keberhasilannya itu.

Pada titik itulah saya ingin menyampaikan pesan kepada teman-teman semuanya bahwa, ternyata, ada garis yang tidak linier dalam mengembangkan karakter kepada generasi penerus kita. Dan tanpa hasru menuding siapa yang seharusnya memikul beban ketidaklinieran garis tersebut, saya akan ikut serta mengambil peran itu. Semoga!

Jakarta, 29 Oktober 2013.

Tidak ada komentar: