Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

07 November 2013

"Beda Casing Saja Pak."

Akhir pekan terakhir bulan Oktober yang alu, saya harus pontang-panting berada dalam dua acara yang sama-sama penting, yang harus saya hadiri. Acara yang mengharuskan saya berada di dalamnya untuk sepenuhnya adalah kegiatan pelatihan guru-guru di Cipete. Pelatihan tentang bagaimana 'menjual diri'. Lebih kurang seperti itulah pelatihan yang menitik beratkan kepada keterampilan berkomunikasi yang mengundang teman sebagai tutor dalam pelatihan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga berakhir sore hari tersebut.

Dan alhamdulillah, saya dalam acara tersebut nyaris full time. Dan ini didorong rasa inginnya saya belajar setelah sekian lama saya berkutat dalam masa yang rutin. Sebagai hal yang saya ingin ketahui tentang bagaimana berkomunikasi secara simulasi yang disuguhkan dalam pelatihan sepanjang hari itu, saya rasa mendapatkan apa yang saya harapkan. 

Acara berikutnya yang saya juga harus hadiri adalah memenuhi undangan perkawinan putri seorang teman sekolah di sebuah aula masjid yang terletak lebih kurang 8 kilo meter dari lokasi pelatihan saya tersebut. Inilah yang membuat saya harus pontang-panting.

Karena meski jarak tidak terlalu jauh, namun situasi jalan juga menjadi perhitungan. Maksudnya, kita harus memilih nyaman atau cepat. Tanpa bisa memilih kedua kondisi tersebut secara bersama-sama.  Itulah maka saya memilih cepat. Mengingat ada acara yang harus tetap berjalan dan saya harus juga tiggalkan. Oleh karena bermaksud untuk tidak meninggalkan acara pelatihan terlalu lama, maka naik ojeg dan bajaj menjadi pilihan saya untuk berangkat dan pulang.

"Beda Casing Saja Pak."

Karena kondisi Jakarta saat itu diguyur hujan, maka naik bajaj menjadi pilihan. Dan bapak pengemudi bajaj itulah yang merumuskan bagaimana perilaku para driver dalam berkendara. Anehnya memang, selama perjalanan yang tidak terlalu jauh itu, bajaj kami menjadi bahan olok-olok para pengendara lain. Apakah kendaraan roda dua atau roda empat.  Dan dari berbagai merek.

Dan terakhir kali ketika mash juga ada mobil yang seharga setengah milyaran masih juga menyodok bajaj biru dimana saya menyewanya, si tukang bajaj itu berkomentar sebagaimana judul catatan saya ini; "Beda casingnya saja kan Pak? Kita yang antri di barisan tetap saja masih disodok dari trotoar. Jadi bukan hanya supir bajaj saja Pak  yang kelakuannya blingsatan di jalanan."

Jakarta, 3 Nopember 2013.

Tidak ada komentar: