Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

02 Oktober 2013

Oleh-Oleh dari Luar Negeri, Belajar Manajemen Kelas

Ada perasaan bahagia yang merambati batin kami semua yang menjadi pendengar dalam pemaparan sahabat kami yang baru saja pulang dari luar negeri bersama anak-anak didik kami. Ada sekitar dua pekan mereka berada di ujung selatan pulau Australia untuk sebuah kegiatan belajar di sekolah negeri yang ada di kota satelit itu. Dimana selain pergi ke sekolah, anak-anak itu, juga gurunya, yaitu teman kami, tinggal bersama dengan salah stu keluarga yang bersedia menjadi bagian dari program tersebut. Itulah sebuah cerita yang saya catat di lembaran saya ini.

Apa yang dikemukakan dalam presentasi teman itu adalah sisi bagus yang didapatnya sebagai bagian dari sebuah pengalaman yang dipetik dari persfektif seorang guru. Menarik untuk terus kami nikmati. Sekaligus menyayat untuk kemudian membuat komitmen baru, komitmen bersama dalam sebuah langkah yang ada di dunia nyata kami di dalam sebuah kelas,  atau lingkungan yang lebih besar lagi. Sebuah budaya yang sesungguhnya justru bukan sebuah kalahiran baru bagi kami yang muslim.

Respect!

Mungkin itulah kata yang kami coba sepakati kala kami merumuskan apa yang diilustrasikan oleh shabat kami itu. Yaitu situasi dan kondisi dimana kelas menjadi bagian pengejawantahan rasa saling hormat menghormati. Menjunjung tinggi sportivitas yang berkeadilan. 

"Tidak akan ada suara dari semua anak-anak yang ada di dalam kelas ketika guru sedang memberikan penjelasan dalam pembelajaran!" begitu yang disampaikan oleh guru kepada kami. 

Sebagian banyak dari kami tentu heran kalau harus membayangkan bagaimana proses di kela itu terjadi. Mengapa? Karena itu sebuah situasi yang terasa amat sulit dijalani oleh sebagian dari kami. Dimana ada saja anak-anak yang tidak dapat secara sadar untuk mengikuti pembelajaran dalam situasi yang benar-benar berhenti berbicara atau berbisik.

Ini terjadi karena teman-teman tersebut ketika menyampaikan sesuatu dengan berbicara tanpa terlebih dahulu 'menguasai medan' dan fokus kepada audiens. Atau kalau boleh saya katakan, bahwa teman-teman kebanyakan masih fokus kepada apa yang disampaikan dan belu atau kurang memperhatikan kepada bagaimana kondisi anak-anak yang akan mendapat penjelsan darinya?

Dengan konsep inilah maka saya menyebutkan bahwa teman-teman masih memerlukan kekuatan, kemampuan, kepekaan, dan konsistensi dalam menjadikan dirinya, vokalnya, dan penguasaan materi pelajaran yang akan disampaikan dalam sebuah orkestrasi di dalam kelas dengan menjadikan siswa sebagai para penikmatnya. Selain itu, sering pula kami jumpai guru juga terlalu banyak menyampaikan penjelasan yang melahirkan kebosanan dan kejenuhan siswa.

Dari titik ini pulalah kami bersepakat bagaimana mengubah sebuah atmosfer pembelajaran di dalam kelas itu seperti yang disampaikan oleh sahabat kami yang baru kembali dari luar negeri itu?

Jakarta, 2 Oktober 2013.

Tidak ada komentar: