Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

18 Oktober 2013

Gambar Bebas tetapi Seragam

Berikut ini adalah gambar yang barangkali akan mengingatkan kita semua akan masa-masa sekolah bahwa kita semua pernah membuat gambar yang sama. Tidak perduli kalau dimana kita  berada. Namun  itlah yang terjadi. Meski lokasi kita tidak sama, netah darimana inspirasi itu merambat di seluruh Bapak dan Ibu guru kita untuk memberikan contoh di papan tulisnya, padahal sudah dikatakannya untuk menggambar bebas, bagaimana menggambar persfektif itu.
Lebih kurang seperti inilah gambar 'bebas' tetapi 'seragam' generasi saya di kelas.
Renungan sebagai Siswa

Dari pengalaman menggambar bebas yang diminta oleh Bapak atau Ibu guru saat sekolah dulu, saya menemukan berapa renungan yang justru muncul begitu saya sekarang menjadi seorang guru di kelas. Dengan ini sekaligus juga mengingatkan kepada saya sendiri untuk berhati-hati ketika berada di depan anak-anak murid.

Pertama, Mengapa diminta menggambar bebas tetapi guru juga memberikan contoh? Ini mejadi cermin bagi saya. Tidak saja sebagai guru yang berada di dalam kelas, tetapi juga ketika saya berada di lingkungan yang memungkinkan orang lain meniru dan sekaligus manafsirkan apa yang saya inginkan terhadap kalimat perintah atau juga kalimat anjuran saya. Saya benar-benar ingin memberikan otonomi kpda lingkungan agar apa yang saya sampaikan adalah apa yang tersirat sekaligus tersurat dalam kalimat yang saya kemukakan.

Ini sebuah upaya agar ketika kita memberikan kebebasan kepada lingkungan  tetapi kita memberikan batasan serta ekspektasi justru kebalikan dari hal yang telah diberikan? Ada sebuah ketidaklinieran dari cara pikir. Ketidak setaraan antara yang terucap dengan yang diharapkan(?).

Kedua, Mengapa mengambar bebas tetapi teman-teman banyak juga yang mengikuti contoh yang dibuat guru di papan tulis? Pada sesi ini saya tentunya mendudukkan diri sebagai siswa. Sebagai lingkungan. Bahwa jika memang bentuk perintahnya adlah bebas, maka mengapa kesempatan itu tidak kita coba untuk mejadi pilihan? Mengapa kta mendengar sebuah perintah tetapi juga harus melkukan apa yang kita lihat? Meski antara yang kita dengar dan kita lihat berbeda, tetapi mengapa itu tidak menjadi bahan untuk berpikir dan mempertanyakan?

Mungkinkah saya tidak lagi memiliki daya kritis atau bahkan daya pembeda yang mampu menyimpulkan bahwa telah terjadi disharmoni antara apa yang kita dengar dengan apa yang kita lihat?

Ketiga, Mengidap gejala apakah ketika perintahnya adalah menggambar bebas tetapi kita justru menggambar seragam? Inilah yang menjadi kegalauan saya hari ini. Bahwa ada yang tidak sinkron antara perintah dengan apa yang saya lakukan dulu, tetapi itu mejadi sesuatu yang saya maklumi?

Dan tentang gejala yang saya idap, saya terpaksa harus menguburnya. Mengingat inilah doktrin yang telah menjadi sejarah tentang sebuah masa. Mungkin.

Jakarta, 18 Oktober 2013

Tidak ada komentar: