Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

02 Oktober 2013

Mempromosikan Sekolah?

Ada beberapa teman yang berasal dari sebuah sekolah swasta merasa gundah manakala perjalanan tahun pelajaran telah berjalan nyaris satu term atau satu catur wulan. Ini berkenaan dengan persiapan tahun pelajaran mendatang. Dimana hajatan pertama sebagai sekolah swasta adalah penerimaan peserta didik baru atau PPDB. Dan itu berarti mengkomunikasikan sekolah untuk mendapatkan siswa atau peserta didik baru. Itu berarti juga bahwa sekolah harus 'menjual' apa yang memang seharusnya menjadi pilihan bagi calon orangtua siswa baru.

Persiapan yang banyak dilakukan oleh sekolah itu antara lain adalah tentang persiapan yang berkenaan dengan PPDB. Kepanitiaan, perhitungan daya tampung, perhitungan stdent cost untuk menentukan besaran uang sekolah, melihat sekolah-sekolah lain yang setara, serta bagaimana berkomunikasi. Teman saya membahasakan semua itu dalam bahasa yang lekat sekali dalam dunia industri, yaitu mempromosikan sekolah.

Apa yang saya sampaikan dalam cacatan ini memang khas untuk sekolah yang berbasis swasta. Tentunya berbeda sekali dengan apa yang terjadi di negeri kita dewasa ini untuk sekolah-sekolah negeri. Karena dengan dukungan dari APBN dan APBD, sekolah yang bernaung dalam status sekolah negeri dilarang untuk melakukan pungutan dalam bentuk apapun.

Namun demikian, saya yang memang malang melintang di lembaga masyarakat yang mengelola sekolah swasta dari sono-nya, merasa risih dan gamang juga ketika teman mengajak saya untuk urun rembug dan berdiskusi tentang bagaimana mempromosikan sekolah.

Rasa jengah itu bukan karena saya anti dengan pengelolaan sekolah yang lebih modern, yang berparadigma bahwa sekolah adalah juga sebagai usaha jasa pendidikan sehingga harus dikelola juga sebagai industri yang mulia, tetapi karena konsep promosi yang saya pahami berbeda dengan apa yang menjadi pahamnya teman-teman itu.

Mempromosikan dengan EO

Konsep dasar yang tidak saya sepakati karena mereka mempromosikan sekolah dengan bantuan out sourcing, berupa lembaga yang ahli melakukan sebuah usaha promosi. Katakanlah semacam EO.

Mengapa? Karena dengan usaha mengkomunikasikan lembaga melalui bantuan lembaga yang terlepas semacam itu, akan menjadi bumerang bilamana informasi tentang lembaga yang kita miliki salah dikomunikasikan. Dan dari titik inilah akan muncul ketidakharmonisan antara orangtua siswa dengan pihak lembaga. Ini adalah ketidakharmonisan yang  seharusnya sama sekali tidak perlu muncul dan lahir.

Karena bagi saya, mempromosikan lembaga adalah bentuk komunikasi antara komunitas setiap orang yang ada di lembaga tersebut secara itens, terus menerus, dan jujur. Bentuk komunikasi yang membuat masing-masing pihak yang berada di komunitas tersebut

Jakarta, 2 Oktober 2013.

Tidak ada komentar: