Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

18 Juli 2013

Tamu Istimewa di Ruangan Saya

Siang itu, setelah waktu Dhuhur, saya kedatangan delapan orang di ruangan dengan tujuan silaturahim. Sebuah kehormatan bagi saya menerima kedelapan tamu istimewa itu. Karena mereka adalah anak didik kami empat tahun yang lalu, ketika mereka semua masih duduk di bangku SMP. Dan saat itu, ketika mereka datang, mereka akan segera menginjakkan kakinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu di prguaruan tinggi. Jenjang pendidikan yang menandakan bahwa mereka semua bukan lagi sebagai anak remaja.

Banyak yang menjadi topik pembicaraan kami selama lebih kurang satu setengah jam di siang bulan Ramadhan itu. Antara lain, dan yang paling hangat adalah perguruan tinggi pilihan mereka semua. Bahwa mereka sedang berbahagia membagi cerita atas diterimanya mereka di bangku perguruan tinggi yang menjadi favoritnya selama ini. Menjadi impiannya. Dan itulah saat yang paling berkesan yang dia sampaikan kepada saya, yang adalah mantan gurunya empat tahun lalu.

Saya juga bercerita bagaimana para adik-adik kelas di kelas 7, 8, dan kelas 9, sejak tahun kemarin secara rutin dan terus menerus melaksanakan Dhuha dan tilawah Al Qur'an secara 'nasional'. Sebuah program yang waktu mereka dilakukan secara klasikal di kelas mereka masing-masing dengan bimbingan guru yang mempunyai jadwal mengajar di jam pertama. Dan karena rutinnya itu, maka saya sampaikan juga bahwa adik-adik kelas itu mampu menyelesaikan tilawahnya hingga juz 18 selama satu tahun pelajaran. Ini merupakan hasil dari bacaan tilawah yang lebih kurang 2 halaman hingga 4 halaman dalam satu hari.

Saya juga bercerita tentang bagaimana masa-masa yang akan mereka hadapi ketika nanti mereka berada di luar kota, yang berarti jauh dari ayah dan bunda mereka masing-masing, yang berarti adalah babak baru kehidupan mereka untuk menjadi anak kos. Bagaimana mereka akan menjadi anak kos di awal-awal bulan hingga enam bulan berikutnya. Juga bagaimana rasa dan kesempatan yang seolah bebas karena tidak adanya orangtua yang dapat memantau secara fisik. Juga bagaimana rasa rindu ketika masa kos sudah memasuki masa-masa normal, yang biasanya masa itu datang mulau bulan kedua, bulan ketika, atau bahkan mungkin bulan keenam. Pun ketika nanti mereka akan perlu uang untuk keperluan apapun di tanah rantau. Pendek kata, saya mencoba mengajak para lulusan kami itu untuk melihat kemungkinan-kemungkinan di masa mendatang yang mungkin akan menjadi bagian hidup mereka.

Saya tidak ketinggalan juga mengajak mereka bernostalgia. Yaitu saat mereka menjadi siswa kami di bangku SMP. Bagaimana mereka begitu sebelnya ketika harus saya larang untuk bermain futsal di halaman sekolah hanya karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.15. Juga bagaimana mereka begitu ngeyel dan sering tidak satu pemikiran dengan kami para pendidiknya di sekolah.

Namun lebih dari itu semua, saya merasa senang, bangga, dan bahagia ketika tamu-tamu istimewa kami itu datang menemui kami di sekolah. Saya berpikir dan mengambil kesimpuln bahwa, mereka sekarang datang kepada kami dengan cita rasa dan paradigma berpikir yang total berbeda dengan ketika mereka masih menjadi siswa kami. Tentunya berbeda pada sisi kemajuan. Itulah alasan kami mengapa kami merasa senang, bangga, dan bahagia!

Jakarta, 18 Juli 2013.

Tidak ada komentar: