Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Juli 2013

Ketika Anak Menilai Profesi Orangtua

Inilah kisah yang sebenarnya menggelikan saya sendiri tepat ketika saya megetahuinya, tetapi justru dibalik cerita inilah sekaligus cermin seuah kecerdasan yang luar biasa pada diri anak didik kami. 

Inilah kisah yang saya dapatkan dari siswa kelas awal di sekolah dasar. Sebuah penilaian tentang profesi yang disandang oleh orangtua siswa, yang juga berarti adalah profesi dari orangtua mereka juga, namun tetap dari kacamata penilaian seorang anak yang orisinil. Namun mengagetkan!

Beginilah kira-kira cerita itu sampai kepada saya dari seorang guru. Ketika di dalam kelas, seorang siswa bersama bundanya, dihadapan gurunya;

"Kalau besar nanti Aku tidak ingin menjadi d***** Bun." Demikian seorang anak berkata kepada Bundanya di sela-sela menunggu giliran dia untuk diinterviu oleh kedua orangtua dihadapan guru pada saat pelaksanaan Konferensi Siswa di sebuah ruang kelas.
"Mengapa harus sepertui itu? Bukankah dulu saat masih di bangku Taman Kanak-Kanak kamu ingin sekali membantu orang susah?" Kata Bundanya mencoba membangkitkan ingatan si anak.

"Benar. Tapi itu dulu Bunda. Sekarang aku berubah inginnya." Jelas si anak.
"Mengapa bisa dan harus berubah?" Desak sang bunda kepada anaknya. 
"Bunda lihat M**** temenku itu. Diakan tidak diurus oleh Ayah dan Bundanya. Karena Ayah dan Bundanya menjadi d*****. Jadi Ayah dan Bundanya selalu sibuk. Setiap hari yang membantu M**** hanya mbaknya."

Tercengang

Bagi saya, mendapatkan cerita dalam bentuk dialog sebagaimana tersebut diatas adalah sebuah penemuan yang ajaib. Karena ini dilakukan oleh anak-anak dalam usianya yang masih relatif muda. Tercengang saya dibuatnya. Begitu jauhkah anak-anak itu dalam menganalisa fenomena lingkungannya? Mengagumkan bukan?

Kalimat anak dalam dialog tersebut benar-benar tidak meragukan tentang kualitas berfikir si anak didik kami tersebut. Ini merupakan bukti dari pencapaian cara berfikir tingkat tinggi kalau kita ingin memetakannya dengan ranah kognitif yang terdapat dalam taksonomi Bloom.

Jakarta, 11 Juni - 30 Juli 2013.

Tidak ada komentar: