Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

18 Juli 2013

Mudik 2013 #1; 75 % Penduduk DKI Mudik

Itulah berita yang saya baru saja buka dan baca, yang  dimuat Kompas, Kamis, 18 Juli 2013. Dijelaskan pula bahwa 5,8 juta diantaranya akan melakukan mudik dengan mengendarai kendaraan bermotor. Dahsyat bukan? Pada hari Rabu, 17 Juli 2013, di dalam rubrik Tajuk Mang Usil, pada harian yang sama, mudik dijelaskan sebagai kembali ke udik. Maka ketika saya kembali kepada angka 75% itu, dalam pikiran saya akan langsung terbayang bahwa 1 keluarga dengan 5 anggota keluarga diantaranya, adalah saya. Yang akan juga mengikuti arus mudik dari Jakarta menuju Jawa Tengah.

Jangan Olok-Olok Saya

Saya bersyukur bahwa sampai detik ini, menjelang mudik Idul Fitri 2013 ini, belum ada berita miring dengan nada mempertanyakan esensi, dari kegiatan yang akan saya lakukan, mudik. Mudah-mudahan tidak ada hingga libur Idul Fitri berakhir nanti. Karena, meski diolok-olok sekalipun, dan dengan berbagai gagasan sebagai pengganti kegiatan mudik yang dilontarkan para 'pakar', pasti tidak akan saya dengar dan pertimbangkan. Karena mudik bagi saya adalah sesuatu yang paling saya rindukan. Mungkin jauh lebih menggembirakan untuk berangkat mudik sekluarga, di bandingkan saya mendapat tiket keliling Eropa gratis. Sumpah!

Untuk itu, bagi para 'pakar' yag akan mengemukakan fenomena mudik ini, untuk jangan pernah merasa pintar dengan melontarkan pendapat dan argumen yang seolah-olah mudik adalah atraksi kekonyolan. Karena Anda hanya akan kami tertawakan hanya karena Anda tidak mengetahui persoalannya. 

Untuk itulah, biarkan kami merencanakan perjalanan mudik pada tahun ini dengan lebih siap dan lebih menyenangkan.  Harapan kami adalah jalanan yang tidak rusak. Yang permukaan aspalnya membuat perjalanan kami nyaman. Jalanan yang garis markanya putih mengkilap dan bukan garis marka yang sudah lama dan tidak terjelas lagi ketika lampu kendaraan kami para pemudik menimpanya. Yang kanan-kiri jalannya ada cahaya pantul yang jelas, cahaya spot ligth yang memberi kami pejalan malam mengetahui apakah jalanan belok atau lurus.

Saya tidak membutuhkan yang banyak dari penyelenggara negara ini selain itu dan rasa aman. Karena saudara kami di sepanjang jalan yang akan kami lalui akan menyapa kami dengan penuh kerianggembira. Mereka akan tanggap dengan apa yang kami butuhkan sebagai pejalan jauh.

Itu saja. Tidak lebih.

Jakarta, 18 Juli 2013.

Tidak ada komentar: