Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Juli 2013

Jangan Menahan Ijazah!

Jangan menahan ijazah siswa, meski siswa tersebut masih tercatat belum menyelesaikan kewajiban administrasinya (baca: Uang bayaran sekolahnya, yang lebih kita kenal dengan sebutan SPP), kepada sekolah. Demikianlah ucapan Mendiknas kita yang arif ini disebuah acara edukasi di Jawa Tengah pekan lalu. Sebuah himbauan untuk sekolah yang ada di Indonesia tidak ada kecuali. Himbauan ini disampaikan dengan maksud agar siswa tidak terhambat akses pendidikan berikutnya. Selain juga karena karena hambatan pembayaran uang sekolah dengan sebutan dan istilah apapun, adalah kewajiban pihak orangtua. Oleh karennyanya tidak tepat kalau jika orangtua lalai menunaikan kewajibannya, tetapi justru anak atau siswa yang menerima implikasinya.

Dalam sebuah Tajuknya, Mang Usil menyampaikan pendapatnya tentang aopa yang disampikan Mendiknas itu pada Tajuk Mang Usil di Kompas, yang terbit pada hari Senin, tanggal 1 Juli 2013. Beginilah sentilan Mang Usil itu:



Di Sekolah Swasta

Bagaimana dengan sekolah swasta? Apakah beda dengan sekolah pemerintah? Setidknya itulah yag tersurat dari apa yang tersurat di Tajuknya Mang Usil di atas. Namun sebagai orang yang berada di sekolah swasta, ini kadang menjadi dilema saya sebagai pribadi. Mengapa? Karena memang ada jenis orangtua siswa yang memilih sekolah swasta sebagai tempat sekolahnya putra-putrinya, dan memang sebagian kecilnya seret jika harus memenuhi kewajibannya sebagai orangtua. Dan anehnya, sering juga saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa setiap pagi anak-anak itu diantar orangtuanya dengan kendaraan roda empat yang harganya mendekati 1 milyar? Sekali lagi, ini memang segelintir dari orangtua yag menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta. mayoritas diantaranya disiplin dalam memenuhi kewajibannya.

Dan kenyataan ini bukan menjadi pengalaman saya sendiri. Di beberapa sekolah swasta lainnya, juga relatif memiliki kasus yang sama. Bahkan ada juga pengalaman teman, kalau ia bertemu seorang temannya yang kebetulan menunggak uang sekolah. Yang menjadi tidak enak dari teman saya ini adalah ketika ia memergoki orangtua tersebut sedang minum kopi yang satu gelasnya seharga 4 liter beras berkualitas di sebuah tempat minum kopi?

Lalu? Sekali lagi, sebagai orang yang berada di sekolah swasta, kami harus bijak dengan rekam jejak para orangtua, khususnya yang memiliki masalah terhadap keuangan sekolah. Karena ada pula yag memang sedang dirundung masalah uang. Dan kepada orang seperti inilah kami layak memberikan perhatian yang berbeda. Jadi bukan gebyah uyah...

Jakarta, 17 Juli 2013.

Tidak ada komentar: