Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

21 February 2013

"Apakah Sekolah Cukup Memberikan Kesejahteraan Pegawainya?"

"Apakah sekolah ini telah memberikan kesejahteraan atau gaji atau imbalan yang cukup untuk para pegawainya Pak?" Begitu sebuah pertanyaan kepada seseorang yang menjadi CEO dari sebuah lembaga pendidian swasta yang bernama sekolah. Sebuah pertanyaan yang diajukan oleh tamu saat melakukan kunjungan studi banding, yang kebetulan saya berada diantara mereka itu.

Sebuah pertanyaan yang sedikit menggelitik saya. Ini karena masalah yang disampaikan dalam forum tersebut, menurut saya yang juga adalah bagian dalam sebuah lembaga pendidikan, termasuk dalam bagian pertanyaan yang boleh dibilang sensitif. Untuk itulah saya sebenarnya merasakan berada dalam situasi yang tidak tepat ketika ada tamu yang bertanya sesuatu yang didengar saya kurang kena. Atau mungkin pilihan katanya saja yang kurang tepat? Setidaknya itulah telinga saya ketika mendengar apa yang harus diberikan jawaban.

Kesejahteraan Guru?

Sebagai lembaga pendidikan swasta, utamanya sekarang ini, bila benchmarknya adalah teman-teman yang berada dalam posisi status kepegawaian, maka sulit sekali memperbandingkan kami yang berada di lembaga swasta dengan teman-teman yang berada dalam status pegawai tetap pemerintah. Apalagi jika profesinya guru, dan bekerja di lingkungan pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota. 

Namun, saya sendiri selalu berpikir bahwa upah tidak selalu diartikan sebagai apa yang ada di rekening. Karena, sekali lagi menurut saya sendiri, anugerah ilahi yang diberikan kepada kita dalam bentuk kesehatan, kemudahan, kelancaran, dan mungkin lebih dari itu, yaitu keberkahan, yang pasti tidak dapat ditakar, adalah bentuk implikasi atas semua ikhtiar kita. Dan oleh karenanya, itu juga menjadi bagian integral dari yang diatas sebagai upah.

Dan saya yakin, jika argumentasi sepeti ini sangat subyektif. Tapi itulah keyakinan saya. Mengapa? Karena jika upah hanya didapat oleh seorang pegawai dari tempatnya bekerja saja, dan itu hanya dalam bentuk uang yang terkirim di rekening, maka inilah salah satu makna dari dikotomi. Dan masihkah kita katakan bahwa bekerja adalah ibadah? Juga, jikapun rekening itu luar biasa banyak tetapi terkuras tuntas untuk ikhtiar kita supaya sehat, supaya mudah dan selesai, supaya lancar, bukankah ini yang namanya bukan berkah?

Itulah makna sejahtera yang menurut saya menjadi tolok ukur pertama, yang pastinya tidak akan sama antara satu dengan yang lainnya.

Kedua, dan ini adalah yang menjadi penjelasan teman atas pertanyaan tamunya, bahwa relatif sulit mengukur apakan teman-temannya yag berada dalam lembaganya itu telah sejahtera atau tidak. Namun sebagai salah satu dari indikatornya adalah, bahwa rata-rata teman-temannya itu memiliki masa kerja yang relatif panjang. Mereka berada di lembaga itu ada yang sudah belasan atau bahkan puluhan dengan kepala 2? Maknanya, teman-teman itu merasa betah secara faktual.

Masih banyak beberapa hal yang menjadi khasanah baru bagi saya ketika teman saya itu mendapat pertanyaan pelik yang harus dijelaskannya. Akan tetapi saya berpikir dengan dua alasan itu telah cukuplah memberikan gambaran. Semoga.

Jakarta, 21 Februari 2013.

No comments: