Pertama sekali mendengar kata ini disebut oleh pihak travel, saya terus terang hanya menebak-nebak sepeti apa gerangan. Dan yang tergambar dalam benak saya adalah sejenis mie nyemek yang biasa saya pesan di Warung Pakde Sutik, di Wojo. Tetapi ketika saya sebutkan gambaran saya itu, segera mendapat penjelasan yang ustru membuat saya tidak lebih jelas. Makanya, sepanjang perjalanan hingga saya barada di dapur Ibu Umi, penjual mie ongklok di Wonosobo, yang lokasinya berdampingan dengan Masjid dengan bangunan kokoh dan kuno di Wonosobo.
Sore itu, selepas Magrib, kami sudah berada di dalam warung Ibu Umi untuk menyantap mie ongklok. Dan dari sinilah, saya benar-benar kehilangan rasa penasarannya. Mie ongklok Ibu Umi kami santap plus dengan sate daging sapi yang membuat hidangan mie tersebut menjadi lebih yahud.
Salah satu kegiatan yang saya lakukan ketika mudik ke kampung halaman adalah membuat minyak klenthik. Yaitu minyak yang saya buat dari santan kelapa. Dimana santan tersebut saya masak menggunakan penggorengan hingga mendidih. Ketika santan tersebut mengental, maka akan menghasilkan dua hal. yang cair itulah yang kami sebut sebagai minyak klenthik atau original coconut oil, atau mijyak kelapa asli. Sementara ampasnya, yang padat dan memiliki warna sedikit kecoklatan dengan rasa manis, kami menyebutnya dengan blondo.
Anda bisa melihat video berikut untuk mengecek bagaimana saya membuat minyak kelapa asli. Minyak yang menyehatkan dan beraroma harus sekali;
Ini menjadi lat transportasi satu-satu yang ada pada saya ketika saya berada di kampung halaman. Sepeda tua, yang memungkinkan saya 'berjalan' lebih cepat ketika pergi ke warung yang ada di pinggir jalan raya. Juga ke tujuan-tujuan pendek lain, yang ada di sekitar kampung halaman. Sepeda yang sudah menemani saya sepuluh tahun belakangan ini.
Sebagaimana perlu diketahui bersama bahwa, bahwa saya meluangkan waktu di akhir pekan untuk berkunjung ke kampung halaman guna menemani mamak saya yang tetap betah berada di urmahnya di kampung. Sesuatu hal yang normal. Maka untuk mendengar cerita-ceritanya, saya menyempatkan diri sepanjang haris Sabtu berada di kampung. Dan untuk mempermudah mobilitas saya, maka sepeda akan membantu saya sepenuhnya.
Sepeda ini tidak selalu siap menhantarkan saya ketika beberapa pekan saya tinggal berkumpul dengan keluarga saya sendiri di Jakarta. Saya harus mengganti karet pentil bannya dan mengisi penuh dengan angin. Ini karena sepanjang sepeda berada jauh dari saya, maka dia akan nganggur.
Seperti bulan-bulan ini. Saya akan kembali lagi menggunakannya dalam sepuluh pekan kedepan. Ini tidak lain karena Mamak saya di akhir Desember lalu berkenan ikut kami, anandanya ke Jakarta guna melupakan sejenak rutinitasnya di kampung. Semoga.
Ini lokasi wisata di Bngkok, Thailand. Namanya Maeklong Rail Way Market. Destinasi yang kalau boleh saya sebut adalah super unik. Bukan pemandangan yang indah. Bukan lokasi belanja yang mewah atau yang murah, buka juga air terjun atau pertunjukkan gajah pintar, juga deretan barang antik atau kereta antik. Ini adalah destinasi yang mempertontonkan bagaimana uniknya wisata.
Terlihat begitu berjubelnya saya bersama dengan pengunjung yang terlebih dulu berada di tengah-tengah rel kereta api. Ini karena saya harus ke toilet terlebih dahulu sebelum hadir disini. Saya terlambat datang.
Unik, karena mungkin hanya di lokasi itu saja kita dapat melihat bagaimana kita menonton kereta api yang lewat di perlintasan kereta sebidang yang juga membelah pasar. Sebagai orang Indonesia, saya sering melihat situasi yang mirip-mirip seperti ini 15 tahun yang lalu.
Ini adalah penampakan kereta api yang kami tunggu-tunggu. Ternyata kereta api ini berpenumpang juga.
Yang membedakan? Kereta yang melewati pasar rel di Maeklong ini berjalan amat sangat lambat ketika harus membelah pasar yang kalau dia tidak ada maka di atas relnya akan tertutup rapat-rapat oleh tenda pedagang. Sementara dua (2) meter di depannya ada kerumunan orang yang semuanya sibuk dengan kamera mereka masing-masing. Toleran sekali.
Semua sabar menunggu. Kereta seperti apa yang sebenarnya akan muncul...
Beda di Indonesia, dimana beberapa perlintasan sebidang, maka kita diperdengarkan UU Perkeretaapian, bahwa perjalanan kereta harus didahulukan.
Ini perjkalanan singkat kami, berempatbelas mengendari mobil Jakarta-Dieng-Jakarta. Perjalanan singkat karena kami harus merangkat Jumat sore dan juga harus kembali lagi sampai Jakarta pada hari Minggu malam.
Namun ada prinsip yang bersama-sama kami pegang sebagai traveler, bahwa destinasi wisata bukan menjadi tujuan utama kami. Sehingga destinasi yang telah kami sepakati tidak harus semuanya kami kunjungi. Semua tergantung dengan situasi dan kondisi yang ada. Namun kebersamaanlah yang menjadikan tujuan utama dari setiap perjalanan bersama kami.
Ini pulalah yang terjadi dengan perjalanan pada awal November 2019 lalu kami, menuju ke Dieng. Dan meski destinasi Sikunir belum berhasil kami datangi, karena faktor kelelahan perjalanan yang terimbas macet 4 jam di jalan bebas hambatan Cawang-Cikampek. Namun sejuk dan indahnya Dieng, sudah mampu kami jejaki.
Mudah-mudahan kali lain kami benar-benar bisa menuntaskan distinasi yang ada di Dieng. InsyaAllah.
Saya bersyukur, bahwa bandara baru Yogyakarta, yang bernama Yogyakarta International Airport atau YIA, sekarang sudah beroperasi, meski belum sepenuhnya, lokasinya berada di tetangga kampung. Berjarak tidak lebih dari sepuluh menit dengan berkendara motor. Desa saya posisinya berada di sebelah desa dimana lokasi bandara berada. Dekat bukan?
Dan keberadaan ini menjadikan eporia di sekitar kami. Tanah-tanah pekarangan tiba-tiba di jual dengan taksiran penawaran harga yang jauh berbeda dari NJOP. Rumah-rumah kosong menjadi laku untuk disewakan kepada rombongan pekerja. Tananh-tanah gunung sebagai bahan untuk meguruk lahan bandara pada awal pembangunannya bercceran di jalan besar yang ada di kampung kami. Juga stasiun kereta api yang direvitalisasi untuk menjadi lokasi transit penumpang pesawat yang tidak menginginkan kendaraan bermotor menuju kota Yogyakarta.
Juga kata-kata promosi untuk penjualan apapun. Terutama properti, baik tanah atau juga rumah. Di jual... Lokasi dekat Bandara baru Yigyakarta... Demikian lebih kurang kata-kata yang dijadikan pemikat dari barang jualannya. Semua menjadikan bandara baru sebagai daya pikat.
Warung makan yang sebelumnya telah luamayan besar, juga dibuat menjadi lebih besar lagi dengan memperluas tidak saja ruangan untuk makannya, juga parkiran, mushala, dan toiletnya. Semua bergerak menyambut kehadiran keramaian baru di tetangga desa kami, bandara!
Tentu ini menjadi hal positif bagi semua warga yang ada di sekitar bandara tersebut. Kampung kami yag sebeklumnya adem ayem karena sedikitnya manusia bermobilisasi, sekarang mulai bergeliat meski belum hilir mudik. Stasiun kereta yang ada di desa kami, yang sebelumnya hanya untuk perlintasan kereta yang lewat, sekarang sudah ada 20 pemberentian kereta.
Minggu, 22 Desember hingga Rabu, 25 Desember 2019, 75 orang dari Yayasan, guru dan karyawan Tugasku melakukan trip ke Bangkok-Pattaya. Ini menjadi ghatering heboh buat kami. Pergi jauh bersama-sama.
Banyak destinasi yang kami berhasil datangi. Berhasil, karena ada beberapa lokasi yang karena waktu, maka lokasi yang ada di itenary terpaksa kami skip.
Minggu, 22 Desember hingga Rabu, 25 Desember 2019, 75 orang dari Yayasan, guru dan karyawan Tugasku melakukan trip ke Bangkok-Pattaya. Ini menjadi ghatering heboh buat kami. Pergi jauh bersama-sama.
Banyak destinasi yang kami berhasil datangi. Berhasil, karena ada beberapa lokasi yang karena waktu, maka lokasi yang ada di itenary terpaksa kami skip.
Distinasi yang kami dapat nikmati bersama adalah; gems gallery di Bangkok, Chatuchak, pasar malam, Nang Nooch Vilage, Pattaya, Herbal, Madu, perlintasan kereta unik yang berlokasi di Mae Klang Rail Way Market, pasar apung tertua di Thailand yaitu Damnoen Sanduak Floating Market, Chao Phraya dan beberapa lokasi disekitarnya.
Dalam liputan ini, adalah tentang destinasi wisata paling unik yang pernah nyangkut dalam hidup saya. Betapa tidak, wisatawan akan antri, berdesak-desakan dan ambil video atau foto 'hanya' untuk sebuah momen kereta kuno yang lewat. Dahsyat bukan. Ini terjadi di Thailand, dengan nama daerahnya adalah Maeklong Rail Way Market. Ini, bagi saya, sesuatu yang fenomental.
Yang dilihat? Kereta api melintasi pasar tradisional dg kecepatan super pelan. Semua tenda pedagang akan dilipat untuk kereta itu lewat. Dan tertutup kembali ketika kereta telah berlalu.
Dan yang lebih unik lagi, wisatawan berjubel di sepanjang pasar pinghi rel itu, hingga di pintu rel sebidang yang dekat pasar untuk ambil gambar!
Saya berkunjung ke sini pada Selasa, 24 Desember 2019.
Ini keisengan saya beberapa bulan lalu. Sebagai langkah untuk memanfaatkan potongan-potongan pohon kelapa di kantor untuk glodogan. Glodogan adalah tempat untuk memelihara lebah liar.
Saya kerjakan pada awal Agustus 2019 lalu. meski telah saya pasang glodogan itu, hngga sekarang, 13 Januari 2020, belum mendatangkan kawnan lebah untuk menetap di godokan yang saya pasang.
Pohon kelapa yang ada disisi belakang sekolah, telah menjulang lumayan tinggi. Pucuk daun kelapa itu telah sampai di atap, yang menjadikan logo serta sign board sekolah tertutup. Tidak memungkinkan bagi kita untuk dapat melihat, jika kita berada di seberang sekolah. Kasihan bagi orang-orang yang sedang mencari alamat dan sulit menemukan sign board tersebut. Dan dengan alasan tersebut, saya meminta kepada tukang tanaman untuk menebang pohon tersebut dan rencana menggantikannya dengan pohon nangka.
Selain alasan tersebut, sebenarnya masih ada alasan lagi yang kadang membuat saya kurang happy. Ini masih terkait dengan penebangan pohon kelapa dimaksud. Yaitu bahwa beberapa kali saya menemukan buah kelapa yang hingga tua dan bahkan sampai kulit buahnya kering. Sebagai orang kampung, yang di kala mudanya adalah pemetik buah kelapa, maka saya meminta dan bahkan mewanti-wanti kepada para pegurus taman untuk mengawasi buah-buah kelapa, jangan sampai mengering yang membuat buah tersebut dapat jatuh dengan sendirinya.
Jangan sampai. Karena hal itu dapat membuat kami celaka jika yang berada di bawah adalah kendaraan yang sedang parkir atau diantara kami yang sedang berdiri. Namun anehnya, para pegawai taman sering kurang menjadikan hal itu sebagai prioritas.
Pernah suatu kali saya menceritakan bagaimana pegawai hotel harus membersihkan bunga-bunga kelapa yang ada di halaman atau taman hotel hingga pohon kelapa tersebut tidak berbuah. Dengan demikian maka pengawasan terhadap buah kelapa tidak menjadi pekerjaan berikutnya. Ini sudah menjadi budaya di hotel tersebut. Dan ketika itu akan menjadi terapan di lokasi kerja sendiri, maka teman-teman masih belum dapat melihatnya sebagai prioritas.
Awal Mei 2019 lalu, saya berkesempatan untuk naik Jeep di Merapi, Yogyakarta. Ini acara ketika saya berada bersama dengan anak-anak SMP yang melakukan kegiatan akhir tingkat, perpisahan. Dan salah satunya adalah trip untuk naik jeep. Maka yang menjadi salah satu rutenya adalah bermain air di Kali Gendol yang kala itu masih dalam kondisi kemarau.
Saya se-jeep bersama tiga guru lainnya untuk menempuh rute dengan tujuan beberapa tempat wisata di wilayah Cangkringan, Yogyakarta tersebut. Di beberapa lokasi yang dituju, semua rombongan merasakan kegembiraan bermain bersama sembari berfoto. Tidak terkecuali ketika rombongan berada di posisi kali tersebut. Meski airnya tidak berlimpah, namun memberikn kesempatan kepada anak-anak untuk membasahi kostumnya dengan cara meminta driver jeep menrjang air yang ada di kali tersebut.
Saya sendiri, puas dengan mengamati beberapa kegiatan yang menjadi favorit anak-anak tersebut, dari bibir kali yang berada di ketinggian.
Ini acara saya bersama lembaga di Jakarta, yang kemungkinkan menjadi acara saya terakhir. Sebagai acara jalan-jalan. Acara piknik dan wisata. Utamanya untuk acara luar ruang. Karena setelahnya saya masih diikutsertakan dengan acara lain dalam bentuk pelatihan.
Karena pada April 2019 lalu, saya memang telah meminta untuk mundur terlibat secara formal di lembaga tersebut. Satu tahun menjelang usia pensiun saya. Alhamdulillah, sebagai upaya bagi saya untuk dapat lebih fokus kepada topoksi utama saya sendiri dan juga menyisihkan waktu untk mamak saya yang ada di luar kota, kampung haaman saya.
Di beberapa media, saya menemukan Kopi Ambal ini. Semula yang saya dapatkan adalah informasi berkenaan dengan si pemilik Yuam Coffee Roasted, yang bernama Mas Yudi Dullah. Namun setelah berita tersebut saya baca lengkap, maka penasaranlah kalau saya hanya membacanya. Maka saya mencoba untuk dapat memesannya dari Ambal, Kebumen, Jawa Tengah. Saya memesannya 8 paket sekaligus. Yang selain untuk sya sendiri sebagai pembuktian atas apa yang ada dalam berita juga untuk saya berikan kepada teman-teman saya yang hobi ngopi.
Maka jadilah kopi pesanan saya itu sampai. Dan segera saja saya kembali kirimkan kepada teman, saudara, juga kolega di kantor.
"Kopinya enak sekali Pak Agus. Itu pasti kopi mahal." Kata teman saya setelah menyedunya sendiri. Semula menggunakan drip bambu ciptaan Mas Yuri. Tetapi dia mengaku tidak sabar untuk menum kopi yang disaring dengan drip bambu yang memakan waktu. Jadilah, ceritanya, ia menyedu kopinya dengan tubruk.
"Bukan mahal Mas. Itu kopi standar. Kopi tenan. Bukan kopi saset." Kata saya.
Pertama sekali mendapt kabar bahwa kami akan menginap di sebuah hotel bagus, di lokasi yang bagus juga, di daerah Prigen, Pasuruan, sebuah daerah yang bersuhu dingin dan alam yang indah, saya benar-benar merasa penasaran. Seumur-umur saya belum pernah pergi ke lokasi yang bernama Prigen. Meski dalam pelajaran geografi saya sudah mengenalnya, namun belum terbayang seperti apa daerahnya dan dimana lokasi persisnya.
Maka tidak salah jika saya mencoba menuliskan nama hotel di aplikasi peta di layar seluler saya. Dari sini saya mendapat gambaran secara geografis tentang posisi Prigen di wilayah Pasuruan, Jawa Timur. Termasuk juga tentang foto-foto hotelnya, tempat kami menginap nantinya, saya dapatkan di dalam google.
Dan ketika kami mendarat di Surabaya, persisnya di Sidoarjo, beberapa saat kemudian gambaran tentang enaknya suasana dan bangunan hotel, airnya yang asli pegunungan, serta lanskap pegununganya, serta jarak pandang yang memungkinkan kami melihat ke bawah ke arah kota dimana lampu-lampu tampak berbaris bila malam tiba dan juga gunung-gunung yang berkilau diterpa matahari pagi, saya benar-benar mengaguminya. Bersyukur atas kesempatan untuk dapat berada di Hotel Royal Senyiur yang ada di Prigen itu.
Salah satu lokasi yang saya kunjungi ketika diajak ke Malang, adalah tempat wisata yang merupakan destinasi wisata sejak zaman beluela. Karena, dalam sejarahnya, Taman Bungan Selekta ini sudah ada dan eksis di zaman Pak Soekarno. Meski begitu, saya baru mengunjunginya kali itu ketika mengikuti rombongan sekolah tman yang sedang berkunjung. Jadi, sekali lagi, saya merasa beruntung sekali bisa datang dan mengunjunginya langsung. Dan kunjungan itu, menjadikan saya memiliki gambaran baru tentang Selekta, sekaligus merubah persepsi saya tentang destinasi wisata yang berupa taman.
Saya benar-benar takjub dengan kondisi dan lanskap taman yang ada di Selekta. Meski tidak semua spot yang ada di dalamnya saya datangi, juga wahana mainan yang saya jajal. Saya hanya mencoba masuk ke taman dengan tabian permukaannya saja untuk kemudian kembali ke arah pintu keluar.
Beberapa kali saya pergi ke Malang untuk tujuan wisata, sama sekali tidak terpikir oleh saya untuk mengunjungi Selekta. Ini karena, sekali lagi, karena persepsi yang telah terbangun di kepala saya tentang taman bunga. Namun setelah kunjungan kali itu, saya sepertinya harus mengajak handaitaulan untuk menemukan kesegaran sebuah taman bunga di Selekta.
Banyak sekali yang telah berubah di Stasiun Kutoarjo, atau KTA, bila saya membandingkan stasiun ini kala saya masih lulus sekolah dengan apa yang saya alami baru-baru ini. Perubahan fisik, tentu saja. Karena hampir di semua stasiun kereta api jaringan Jakarta, Cirebon, Kroya, hingga Yogyakarta, saya melihatnya perubahan besar-besaran. Dan nampaknya, selain jalur ganda untuk Purwokerto menuju Kutoarjo, stasiunnya juga sedang sibuk diperluas dan diperbesar. Sepertinya KAI sangat siap menyambut perkembangan penumpang di masa-masa mendatang.
Dan tidak hanya pada sisi fisik saya kesiapan tersebut, setidaknya sepertyi yang saya saksikan beberapa kali ketika saya naik kereta, yang antara lain pada relasi PSE-KTA dan sebaliknya, atau GMR-YK dan sebaliknya.
Perubahan itu adalah apa yang dilakukan para porter stasiun. Yang tidak hanya menawarkan jasa kepada penumpang saja, mereka juga turut serta menjadi bagian dari kehidupan stasiun itu sendiri. Seperti dalam rangka menjaga kebersihan, atau juga dalam keikutsertaan mereka pada upacara penghormatan kepada kereta yang akan berangkat sebagaimana yang saya lihat dan saya dokumentasikan dalam video terlampir...
Semasa kanak di kampung, Bapak selalu memanfaatkan glugu-glugu, batang pohon kelapa, yang paling ujung atas dan tidak menjadi bagian dari bahan bangunan, untuk beliau belah dan kemudian dibuat menjadi glodogan. Glodogan ini nantinya akan dipajang di dekan kandang kambing atau belakang pawon, rumah bagian belakang yang berfungsi sebagai tempat memasak atau dapur, untuk kemudian tawon lebah akan menghuninya. Lebah-lebah ini akan kami panen madunya secara rutin per satu setengah bulannya.
Dan untuk megenang itulah, saya membuat glodogan juga di kantor dengan memanfaatkan glugu-glugu, batang pohon kelapa yang telah menjulang tinggi, yang kami tebang. Maka beginilah penamakannya...
Akhir Juni 2019, saya mendapatkan kabar dari teman yang berada di Samarinda, Kalimantan Tmur, untuk bersiap-siap ikut serta dalam rombongannya, yang akan piknik ke Malang. Pesan khususnya, agar saya membawa serta istri.
Jadi, saya mendapatkan kesempatan untuk piknik bersama istri ke Malang, gratis! Saya bersyukur sekali mendapat tawaran ini. Tawaran yang luar biasa buat perjalanan hidup saya. Maka saya haturkan banyak terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Terimakasih...
Meski saya baru menuliskannya di catatan harian saya ini, pada dua builan setelahnya.
Saya benar-benar dibuat penasarang dengan wajah baru dari Stasiun Wojo. Pembangunan dan difungsikannya kembali Stasiun Wojo sebagai lokasi pemberangkatan dan kedatangan kereta api baru saja diulai di bulan Mei 2019. Ini sebagai dampak dari adanya pembengunan Yogyakarta International Airport, yang lokasinya ada di Kecamatan Temon, Kulom Progo, sehingga sebagai alternatif angkutannya selain taksi adalah kereta api. Dan di Stasiun Wojo ada Kereta Banada yang beroperasi sekali perjalanan setiap harinya.
Untuk itulah maka pada saatpulang kampung, saya benar-benar menyempatkan waktu untuk berkunjung ke stasiun guna melihat kembali kenangan sya ketika masih kecil dan berangkat ke Jogja bersama Mamak saya dengan membawa dagangan buah kepala dan daun pisang untuk di jual di Pasar Kranggan, Jogjakarta...
Ini kegiatan saya berikutnya pada kunjungan saya ke Jogja di awal bulan Maret 2019 lalu, yang memang masih ada di Jogja dan bersama Abqari! Sekaligus sebagai hiburan dan pengisi kegiatan selama saya ada di Jogjakarta, serta memberikan pengalaman kepada Abqari tentang dunia binatang. Dan Gembiraloka menjadi destinasi yang kami tuju.
Alhamdulillah, kami dapat mencapainya dan berkeliling di dalamnya dengan penuh suasana senang. Ini tidak saja karena cuaca yang begitu sejuk, serta pengunjung yang belum melimpah. Dengan situasi tersebut, kami dapat berjalan dan berkeliling guna melihat koleksi kebun binatang punya.
Ketika menapaki jalan Malioboro bersama istri dan Abqari, saya menemukan beberapa hal yang khas, yang membuat trotoar sepanajnag Jalan Malioboro menjadi istimewa. Setidaknya trotoar dibangun dan dirancang tidak sekedar sebagai tempat berjalan kaki para pelancong agar lebih nyaman, tetapi juga khas dan membawa kenangan yang membuat kita harus senang untuk kembali. Dan fakta inilah yang mungkin membuat saya terus menerus ingin kembali ke Jogja, selain untuk bermain dengan Abqari.
Dalam video yang saya buat tersebut, saya menemukan beberapa hal yang berbeda dan untuk itu membuatnya khas serta unik, yang hanya ada, setidaknya selama ini yang saya ketahui, hanya ada di kota Jogjakarta. Dan keunikan inilah yang membuat saya berpikir kalau Jogja memang Istimewa!
Ini adalah salah satu perjalanan kami ketika bersama Abqari. Meski di penginapan sudah mendapatkan sarapan, maka kami ajak Abqari untuk naik becak motor yang ada di Jogjakarta ini, yang kondisinya berbeda dengan becak motornya orang Gorontalo. Tapi itulah yang tersedia dan kami anggap relatif nyaman untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh namun juga tiodak terlalu dekat. Kami menyusuri Jalan Malioboro Jogjakarta untuk kemudian masuk ke gerbang atau benteng keraton di Jalan Wijilan. Dimana mejadi pusat makanan khas Jogja, gudeg.
Salah satu kegiatan ketika kami mengunjungi Abqari, yang kebetulan tinggal di luar kota, adalah mengajaknya berkeliling sejauh yang kami mampu melakukannya. Salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah dengan mangajaknya menemukan dan mendapatkan pengalaman untuk naik sedan tradisional di Malioboro, yaitu dokar.
Dan inilah yag saya lakukan beberapa waktu lalu di awal Maret 2019.
Rabu, 21 November 2018, pukul 15.00, kami kedatangan tamu dari manajemen Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Terpadu Al Islah, Gorontalo. Mereka datang ke Jakarta setelah sebelumnya selama satu pekan mengikuti perkemahan Pramuka di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.
Ada 4 tamu yang dipimpin oleh Ustadzah Ulin Ibrahim, yang kedatangannya ke sekolah kami tidak lain adalah untuk menyambung persahabatan keguruan. Juga berdiskusi dan bertukar pengalaman serta berfoto.
Tidak lupa tamu saya membawakan oleh-oleh khas Gorontalo, dan yang saya pajang di halaman ini, adalah kopi mereka. Kopi Robustanya Gorontalo! Terimakasih saya untuk kedatangannya dan juga oleh-olehnya.
Sabtu, 17 November 2018, saya mendapat kesempatan untuk datang dan berkunjung serta sekedar berfoto di Jakarta International Equestrian Park Pulomas. Ini adalah nama baru dari Pacuan Kuda Pulomas, Jakarta Timur. Yang kebetulan juga lokasintya tidak jauh dari tempat saya bekerja. Belum sampai 2 kilomater untuk perjalanan pergi dan pulang. Jadi nyaman untuk berjalan kaki selain juga dengan trotoar yang aman bagi pejalan kaki.
Lalu, apa keperluan saya datang ke Gedung JIEP yang menjadi venue Asian Games 2018 lalu itu? Tidak lain adalah menemani siswa saya yang masih duduk di kelompok B, TK. Mereka sedang ada kegiatan bermalam di sekolah yang pagi harinya sebelum kepulangan mereka, anak-anak anak-anak itu kita ajak keliling sekolah dan berolah raga pagi.
Jadi, kantor yang berdekatan dengan fasilitas olahraga yang wah, menjadi keberuntungan bagi saya. Juga trotoar yang dibangun baru dengan spek yang berbeda dengan trotoar sebelumnya, lebih membuat kami, saya dan teman-teman, menyukurinya. Kami gunakan untuk berjalan kaki tidak kurang 20 menit untuk sekedar mengeluarkan keringat dari badan.
Lalu, tidak ada kata yang tepat saya sampaikan disini selain berteimakasih atas diperbolehkannya kami sekali-sekali berkunjung untuk berjalan-jelan kaki ketika gedung itu sedang kosong dari event. Terimakasih.
Jumat, 16 November 2018, ada yang berubah di tempat kerja saya. Hall dan lapangan sekolah yang biasa untuk lokasi anak-anak berolahraga atau bermain saat istirahat, pada hari itu menjadi lokasi bermain, outbond, dan berkemah. Lay out dan properti di lolasi itu menjadi seperti lokasi perkemahan. Tentu ini menjadi pemandangan aneh sekaligus menari untuk anak-anak ketika pagi hari mereka datang ke sekolah. Dan karena terdorong oleh rasa penasarannya, maka tidak sedikit anak-anak yang memasuki area dimana 'perkemahan' akan digelar.
Ini tidak lain karena siswa di TK melaksanakan kegiatan belajar luar kelas yang berupa HAPPY CAMP 2018. Acara dimulai dari pembukaan dengan berbalas pantun selayaknya upacara buka palang pintu di adat Jakarta. Kemudian berlanjut dengan kegiatan senam bersama di hall, dan masuk pada kegiatan inti berupa outbond, bermain angklung, dan yang tak kalah istimewanya adalah belajar memasak dari orangtua siswa.
Khusus untuk kegiatan anak-anak di kelompok TK B ada aktivitas anak TK yang berkolaborasi dengan anak-anak OSIS di SMP, dimana kakak-kakak OSIS menjadi mentor dalam belajar kemandirian kepada adik-adik TK. Anak TK dibagi dalam enam kelompok, anak-anak akan belajar secara bergantian tentang merapikan tempat tidur, membuat omelet dan roti panggang, melipat pakaian dan meletakkannya di lemari pakaian, membersihkan kaca jendela, menyeduh teh manis, serta bernyanyi.
Ketika kegiatan merapikan tempat tidur kakak OSIS memandu adik-adiknya untuk; memasang sarung bantal, merapikan sprei, dan melipat selimut tidur. Juga ketika menyeduh teh manis, kakak OSIS memandu adik-adiknya untuk menuangkan air panas dan gula serta teh celup sebelum teh dihidangkan.
Kegiatan yang sederhana ini memungkinkan anak-anak di TK belajar berbagai hal kemandirian sehari-hari. Sementara untuk kakak OSIS SMP, aktivitas menjadi tutor bagi adik TK juga menjadi wahana bagi mereka belajar. Esok harinya masih ada kegiatan olah raga yang menggunakan lokasi parkir di Jakarta International Equestrian Park, Pulomas. Yaitu olahraga lari dan senam.
Saya ingin menggunakan kosa kata yang pernah digunakan oleh Pak Anies Baswedan ketika beliau menjadi Menteri di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ketika berbicara tentang karakter. Yaitu menumbuhkan karakter baik dan bukan menanamkan. Jadi saya menggunakan kata penumbuhan dan bukan penanaman untuk sebuah sikap dan perilaku yang diinginkan dari seorang peserta didik. Lalu apa yang saya maksudkan dengan wadah? Yaitu tempat, lokasi, area.
Maka ketika saya mengatakan betapa pentingnya sebuah wadah atau area bagi penumbuhan mental berprestasi, maksudnya tidak lain adalah perlunya kebutuhan sebuah lokasi dan arena bagi penumbuhan sebuah kebiasaan yang positif.
Inilah yang terjadi di sekolahan dimana saya berada pada sore ini, Jumat, 16 November 2018, dimana guru-guru merancang kegiatan kolaborasi antara Taman Kanak-kanak dengan siswa kelas VIII yang tergabung dalam Organisasi Intra Sekolah atau OSIS.
Selama dua hari di pekan ini, Tepatnya pada Selasa, tanggal 13 dan Rabu, tanggal 14 November 2018, saya mendapat tugas tambahan dari Guru di SMP untuk mendampinginya memberikan panilaian kegiatan akhir dari LIVE in yang telah berlangsung pada Selasa, 30 Oktober hingga Kamis, 1 November 2018. Kegiatan penutupnya merupakan kegiatan presentasi hasil survey yang dilakukan anak-anak peserta LIVE in di Desa Pulosari, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Ini mejadi tugas yang menantang dari guru. Dan setelah mendengarkan, menyimak, mempertanyakan, dan juga menanyakan kepada seluruh siswa yang mempresentasikan hasil survey mereka dalam kelompok melalui infografis yang dibuatnya, saya menjadi semakin kagum atas kompetensi yang mereka punyai. Sekaligus mensyukuri bahwa anak-anak rata-rata memiliki kemampuan berkomunikasi dan juga penyelesaian masalah. Dan untuk itulah, saya merasa senang sekaligus bangga.
Misalnya, ketika saya bertanya kepada salah satu anggota tentang cara membuat infografis hasil surveynya. Misalnya tentang aplikasi yang digunakan untuk membuat infografis mereka. Ada yang menggunakan program komputer yang memang sering kita pakai sehari-hari. Tetapi juga ada kelompok yang membuatnya dengan telepon selularnya. Dijelaskan bahwa mereka bertanya via google untuk membuat presentasi dalam bentuk grafik di smart phone-nya. Dengan bekal informasi tersebut, diunduhlah aplikasi yang dimaksud untuk kemudian digunakannya sebagai proses menyelesaikan tugas akhirnya. Hebat.
Juga beberapa jawaban yang orisinil saya dengar dari mereka. Baik yang berupa kesan ketika hidup bersama orang di kampung di Desa Pulosari, atau juga filosofi bersyukur. Alhamdulillah.
Ketika melihat foto ini, saya teringat ketika pada Kamis, 3 Juli 2008, dengan tidak membawa perlengkapan apapu untuk menerima tawaran snorkling di wilayah konservasi di pantai Tanjung Karang Donggala. Ini artinya setelah 10 tahun yang lalu.
Ketika dari Palu diajak untuk piknik menuju Donggala dengan kendaraan sewa yang benar-benar masih gres. Baru. dengan kilometer yang tertera di dashbord belum genap 1000 km. Dan karena kendala tertentu, maka justru saya yang ada di belakang kemudi membawa teman-teman yang akan mengantarkan saya piknik!
Saya berharap apa yang telah menimpa saudara-saudara yang tinggal di wilayah Donggala dan Palu pada gempa Palu beberapa waktu llalu, diberikan kekuatan untuk segera bangkit kembali, menapaki jalan yag lebih terang. Amin.
"Kereen sekali Pak Agus. Kreatif guru-gurunya." Kata seorang yang berada di halaman sekolah ketika berjumpa dengan saya pagi ini. Dimana halaman sekolah kami hari ini berubah menjadi area bermain anak-anak usia Taman Kanak-kanak, yang kalau dari pintu masuk, di gerbangnya tertulis Kampung Main.
"Alhamdulillah. Terimakasih Pak. Saya sendiri kemarin tidk turut serta membantu guru-guru membuat lay out permainan ini. Mereka bekerja sampai pukul 19.00." Jawab saya sembari bersiap untuk membuat video.
Pagi ini. Jumat, 16 November 2018, pagi-pagi saya sudah sampai di kampung main. Bukan di suatu daerah di lokasi wisata atau lokasi out bond persisnya, tetapi di sekolah. Benar, bahwa hari ini sekolah telah tersulap sebagai tempat bermain yang di gerbangnya dipampang sebagai kampung main.
Ini tidak lain adalah kreasi guru-guru yag ada di KB dan TK, yang pada Jumat ini mereka akan melakukan kegiatan luar kelas, yang berupa kegiatan out bond dan berkemah. Lokasinya, sekali lagi, bukan ke lokasi bermain atau berkemah di daerah Bogor, tetapi tetap di sekolah.
Pada Selasa, 30 Oktober hingga Kamis, 1 November 2018, siswa saya yang duduk di bangku SMP pergi untuk melaksanakan kegiatan live in yang ke-5 kalinya, yang lokasinya tetap di Kecamatan Pengalengan, Bandung. Dan tahun ini mereka dipilihkan lokasi baru, yaitu di Kampung Kiara Sanding, Desa Pulosari, Kecamatan Pengalengan, Bandung, Jawa Barat.
Ini adalah kegiatan mereka keluar untuk tujuan hidup bersama punduduk di kampung tersebut, yang saya sendiri brhalangan menyertainya. Satu hal yang membuat saya sendiri sedikit kurang senang. Karena biasanya, jika saya menyertai mereka, maka akan banyak yang saya dapat peroleh ketika bermalam dan bercengkerama dengan penduduk di kampung tersebut. Dan tahun ini, pengalaman tersebut tidak saya peroleh.
Selain bekerja dan bermain bersama orang yangtinggal di kampung tersebut, anak-anak melakukan kegiatan yang antara lain adalah; menerima upacara penyambutan dengan musik hadroh yang dimainkan oleh siswa SDN Mulyasari, Pulosari, Pengalengan. Alat musik hadroh tersebut merupakan sumbangan peserta LIVE in yang langsung digunakan sebagai alat musik penyambutan. Sedang pada waktu yang hampir bersamaan, melakukan pelatihan guru yang diperuntukkan untuk guru TPS Al Hasanah, yang berlokasi di Kampung oleh Pak Haris Nuur Hakim. Siswa hidup bersama orangtua asuh mereka masing-masing. Beraktivitas sebagaimana profesi orangtua mereka. Antara lain ada yang berangkat ke lahan pertanian untuk bertani, ke warung untuk berjualan, atau membuat plaka untuk tempat buah atau sayuran, atau kegiatan yang lainnya. Pengobatan gratis, Posyandu, penyerahan sembako, dan bakti sosial kepada masyarakat setempat yang dilakukan oleh para orangtua POMG SMP.
Datang ke Manado? Dulu tidak menjadi bayangan untuk saya. Karena memang untuk tujuan apa datang ke Manado, menjadi hal mendasar buat saya. Karena ke datangan ke tempat-tempat yang ada di beberapa daerah, yang menjadi tujuan utamanya adalah untuk suatu pekerjaan. Sementara Manado, menjadi salah satu kota yang tidak ada jaringan buat saya. Maka ketika bertemu alamat kontak dengan teman lama ketika kami berada di masa muda duu di Purworejo, niatan untuk bisa berkunjung ke Manado tidak menjadi hal yang terlalu saya agendakan.
Makan ikan mujair bakar di warung makan dekat Bandara Samratu Langi, Manado. Dengan lumuran sambal dabu-badu yang didominasi warna merah pedas!
Dan suatu yang tidak teragendakan tersebut akhirnya terbayang akan terjadi ketika sahabat lama, yang ada di kota Gorontalo, meminta saya untuk datang ke sekolahannya guna memberikan penuturan tentang pengalaman selama saya menjadi guru di Jakarta kepada mereka dan teman-temannya sepanjang dua hari dan tujuh sesi penuturan. Dan kesempatan itu menjadi terbuka buat saya.
Daryanto, nama sahabat saya di Manado, mengajak saya untuk berfoto di trotoar jalan yang menjadi ikon kota Manado, Jembatan Soekarno.
Yang pertama kali saya kontak ketika saya benar-benar akan berangkat ke Gorontalo adalah jaringan peta yang ada Sulawesi bagian utara. Saya mencoba mencari jawaban atas pertanyaan saya tentang bagaimana jalan menuju Manado dari Gorontalo dengan waktu yang ada pada saya tidak lebih dari 24 jam. Lalu setelah benar-benar memungkiinkan, maka jalan udara menjadi pilihan saya, setelah sebelunya mencoba mempertimbangkan saya akan memilih jalan dasat dari Gorontalo menuju Manado.
Setelah semuanya positif, maka teman lama saya yang sudah berada di Manado tidak kurang dari 30 tahun lamanya, untuk menyampaikan keiginan saya datang ke Manado. Bersyukur bahwa saya benar-benar menjadi tamu di rumah teman saya yang telah lebih kurang 34 tahun berpisah.
Goroho sudah tersaji di meja dengan sambal roa, pisang goreng, dan kopi hitam. Kami menikmatinya bersama sahabat lama di Pantai Malalayang, Manado, pada hari Minggu, 28 Oktober 2018.
Pisang goroho, menjadi cemilan khas di Gorontalo dan Manado. Setidaknya inilah yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Gorontalo dan berlanjut ke Manado pada akhir Oktober 2018 yang lalu. Dan selain goreng ikan nike yang diberi tepung, maka goroho stik goreng menjadi yang paling unik yang saya dapatkan di daerah tersebut.
Stik goroho yang siap digoreng untuk menjadi cemilan ringan.
"Ini jenis pisang yang hanya ada di wilayah Sulawesi bagian utara Pak Agus. Provinsi Gorontalo dan Selawesi Utara banyak menghasilkan jenis pisang ini, yang menjadi bahan dasar utamanya. Pisang ini tumbuh baik sekali disini. Dan waktu yang bagus pada saat pisang ini belum masak untuk kemudian dijadikan stik goreng. Karena kalau sudah masak rasanya akan berbeda. Akan menjadi kecut." Demikian keterangan teman saya saat di meja makan terhidang dua porsi stik goreng goroho plus sambal roa.