Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

05 Mei 2015

Melihat Anak SD Sempoyongan

Pagi ini, ketika jam masih juga belum menunjukkan pukul 06.00 pagi, saya sudah ada di jalan inspeksi Kali Ciliwung yang dekat dengan stasiun kereta api. Saya sengaja berdiri di sisi jalan untuk mencegat kendaraan yang bisa ditumpangi. Membelakangi deretan sepeda motor yang tertata rapi. 

Hari ini hari Selasa, hari kedua Ujian Nasional tingkat SMP untuk mata pelajaran Matematika. Saya harus segera sampai kantor. Namun karena situasi separuh jalanan yang sudah saya lalui tadi tidak begitu lancar, alhasil menjelang 15 menit ke pukul 06.00 saya masih harus menempuh separuh perjalanan berikutnya. 

Tapi saya bersyukur pagi itu berdiri di sisi jalan tersebut. Karena tidak berapa lama setelah saya berada di  sisi jalan yang tidak terlalu ramai lalu lalang kendaraan itu melintas bocah kecil dengan seragam merah putih. Kalau saya taksir mungkin duduk di kelas 2 atau 3 SD. Yang pagi itu menenteng tas sekolah di punggungnya, dengan kedua tangannya sibuk dengan tempe goreng yang dia konsumsi sembari jalan.

Dan ketika jarang tidak kurang 20 meter sebelum anak yang jalan kaki itu melewati dimana saya berada, nampak sepeda motor, bajaj, dan mobil yang akan mendahuluinya direpotkanya. Ini tidak lain karena dia berjalan tidak persis di pinggir jalan, justru pada detik dimana saya melihatnya, ia nampak sempoyongan mengarah ke tengah  jalanan. Tidak ayal lagi kendaraan tersebut berbarengan membunyikan klakson.

"Awas mobil!" Teriak saya kepada anak kecil yang tetap asyik mengunyah tempe goreng tepung tanpa sedikitpun ada rasa kaget atas suara saya yang sedikit melengking di pagi itu.

"Minggir kamu. Mobil ada di belakangmu!" Begitu kalimat yang keluar dari seorang laki-laki paruh baya yang selama saya berada di sisi jalan tersebut sedang mengelap motornya di pinggir jalan tidak jauh dari saya. Laki-laki itu sedikit berlari untuk meraih lengan si anak yang tetap tanpa ekspresi meski telah dikagetkan oleh bunyi klakson. Tetap mengunyah potongan tempe yang dibawanya.

"Biasa Pak, habis ngelem." Kata laki-laki paruh baya itu memberikan keterangan kepada saya yang tetap belum mendapat kendaraan yang saya tunggu.

"Dia dan semua keluarganya pada demen ngelem." Lanjutnya pria itu.

"Turunan emaknya juga."

Atas informasi tersebut, saya bengong. Hidup di zaman seperti yang saya alami pagi ini, luar biasa menegangkan...

Jakarta, 5.05.15

Tidak ada komentar: