Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

07 Mei 2015

UN 2015 #1; Terlambat Masuk Ujian

Apa yang dapat kita katakan sebagai guru di sekolah ketika melihat peserta didik kita yang datang terlambat ke sekolah pada saat UN ketika teman-temannya sedang menuliskan nama dan nomor ujian di kertas jawaban ujian? Tentu beragam. Ada yang sabar, ada yang langsung memberondong dengan pertanyaan dan pernyataan yang miring dan pasti ada nada kesal. Dan itu semua, dalam situasi senyap sebagaimana saat pelaksanaan UN menjadi wajar. Paling tidak ini tanggapan saya terhadap realitas seperti itu. 

Prioritas

Paling tidak itulah yang menjadi kenyataan pada hari-hari UN yag berlangsung di sekolah di Indonesia sejak April lalu dan Mei sekarang ini. Sekolah dan orangtua sibuk bukan main dalam menyelenggarakan hajat besar pendidikan Indonesia, termasuk juga anak-anak yang akan menjalaninya. Dan itulah maka setia sekolah, setiap orangtua, dan peserta didiknya menjadikan hajat UN sebagai bagian prioritas dalam kalender kegiatan mereka. 

Apa bentuk prioritas tersebut? Tidak lain adalah menyediakan budget, waktu, perhatian, dan ikhtiar. Meski Pak Menteri mengingatkan bahwa hasil UN bukan menjadi prasyarat kelulusan seorang peserta didik. Namun UN tetap menjadi prioritas.

Sekolah akan mengerahkan daya upayanya untuk mempersiapkan peserta didiknya berhasil dalam UN dengan hasil yang baik-baiknya. Maka di tahun terakhir anak-anak di jenjang sekolah masing-masing akan sibuk mengatur jadwal bimbingan. Pun lembaga bimbingan belajar. Ada berbagai program untuk mempersiapkan diri lolos dan lulus UN dengan angka bagus di lembaga-lembaga semacam itu.

Orangtua dan anak juga setali tiga uang. Semua sepakat memaknai UN sebagai pintu gerbang sejarah perjalanan. Dan tidak heran jika daya dan dana tercurah kepada anak yang duduk di kelas terakhir di jenjang pendidikan mereka.

Saya sendiri di hari terakhir menjelang UN, wanti-wanti agar anak-anak mengatur dengan cermat irama hidup di saat menjelang UN ini. Jaga makanan, jaga pola istirahat, dan tentunya mengatur jadwal belajar. Ini tidak lain agar ketika hari H pelaksanaan UN anak pada kondisi sehat dan penuh konsentrasi.

Bagaimana dengan anak yang terlambat datang di ruang UN? Tidak lain karena masih ada beberapa orangtua yang kurang terlibat dalam mengatur irama anak. Ini karena dari kasus yang ada di sekolah saya, keterlambatan mereka lebih disebabkan oleh faktor terlambat berangkat dari rumah ke sekolah. Meski ada bumbu macet di jalan atau argumentasi yang lain.

Bagaimana jika anak yang terlambat adalah anak yang kalau dalam kurva normal kemampuan akademik di kelas berada di awal kurva? Kompetensi yang telah berhasil ia himpun di minggu, hari, atau bahkan jam sebelumnya pasti akan terhambat ketika ia harus tidak nyaman ketika pengawas UN memberinya lembar soal dan jawaban. Sementara teman di kelasnya sudah mulai mengerjakan soal-soal? Allahu a'lam bi shawab.

Jakarta, 7 Mei 2015.

Tidak ada komentar: