Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

05 Mei 2015

'Kenapa' Susah-Susah?

Ada penyakit di sebagian teman-teman guru yang untuk memudahkannya saya menamakannya sebagai penyakit 'kenapa susah-susah? Unik ya namanya? Ini untuk memudahkan saja. Jadi nama penyakit yang saya sebut tersebut sama dengan kata atau kalimat yang sering diucapkan oleh mereka yang mengidap penyakit tersebut. Jadi karena penyakitnya adalah 'kenapa' susah-susah? Karena memang kalimat itulah yang sering terlontar oleh si penderita. 

Penderita mengatakan ini sejak membuka rapat pertemuan pertama panitia kegiatan di sekolah, yaitu ketika pembahasan tentang mata kegiatan yang akan dilakukan.  Biasanya ini pada saat panitia membahas proposal kegiatan. Beberapa teman guru yang mempunya idialisme bagus tentunya akan tidak bisa tinggal diam, dalam arti hanya menerima proposal tahun lalu dengan hanya merubah lokasi kegiatannya. Kalimat  'kenapa susah-susah? Keluar begitu seorang ketua panitia menerima masukan dari peserta rapat.

Masukan itu tidak bisa dibilang jelek sebenarnya, tetapi memang membutuhkan ikhtiar berbeda dari panitia. Karena memang model kegiatannya akan berubah dari kegiatan tahun sebelumnya. Dan sebenarnya juga akan menjadi bagus ketika panitia mau sedikit berusaha bereksplorasi dan tidak berkutat kepada rutinitas.

Tetapi hanya dengan sebab ketidakinginan mencoba sesuatu yang berbeda, maka kontribusi bagus dalam perencanaan kegiatan yang berbeda dari apa yang selama ini dijalani. Anehnya, pengusul yang kemudian ditolak usulannya itu redup begitu saja tanpa mendapat topangan dari teman-teman lain yang sebenarnya juga menginginkan sesuatu yang berbeda.

Maka penyakit yang saya sebut sebagai penyakit 'kenapa susah-susah? itu tidak sekedar diidap oleh mereka yang berkutat kepada rutinitas kegiatan sebagaimana yang sudah-sudah saja, tetapi sudah menjadi bagian hidup dan budaya komunitas itu.

Dan perlu diingat bahwa penyakit 'kenapa susah-susah? akan menjadi semakin akut. Ia tidak akan sembuh meski pada akhirnya masyarakat tidak lagi menginginkan kegiatan yang sama seperti itu-itu saja di lembaga tersebut. Dan keakutan dari penyakit 'kenapa susah-susah? benar-benar akan merusak radar kepekaan dari komunitas di lembaga tersebut lenyap dan binasa.

Penyakit yang meski enteng disebutkan, tetapi berdampak membinasakan...

Jakarta, 30 April- 5 Mei 2015.

Tidak ada komentar: