Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

13 Mei 2015

Rekrut Guru #2; Wawancara Kandidat

"Sudah berapa lama Ibu mengajar di tempat sebelumnya?" Pertanyaan saya kepada seorang kandidat yang akan kami ambil sebagai guru menggantikan sahabat kami yang mengundurkan diri karena harus mengikuti suami bertugas ke luar daerah. Maka kandidat baru ini antara lain harus saya wawancarai diantara wawancara lain yang dilakukan oleh pihak sekolah. Dan selain wawancara, kandidat juga diminta untuk menulis artikel pendidikan di komputer sekolah. Selain juga harus praktek mengajar di kelas yang telah disepakati.

"Sudah tiga tahun Pak." Jawabannya singkat. Lalu supaya saya dapat menggali informasi lebih banyak tentang siapa kandidat yang melamar tersebut, bagaimana ia mengajar di sekolahnya, bagaimana bentuk sekolah yang selama ini dia menjadi staf pengajarnya, juga wawasannya tentang dunia pendidikan, maka saya bertanya dengan berbagai cara dan tentang berbagai hal.

"Bagaimana Ibu memaknai perjalanan karier Ibu sebagai guru di sekolah tersebut? Adakah hal-hal yang menarik untuk Ibu sehingga Ibu dapat bercerita kepada saya tentang sesuatu yang menjadi perhatian Ibu?"

"Saya merasa biasa-biasa saja Pak dalam menjalani waktu tiga tahun sebagai guru. Tidak ada sesuatu yang saya anggap istimewa."

"Apa yang memotivasi Ibu untuk mencari lokasi mengajar di sekolah lain?"

"Saya ingin mencari tantangan baru Pak. Saya merasa sudah bosan dengan lingkungan mengajar saya selama ini. Siapa tahu saya mendapat sesuatu yang berbeda dengan pindah mengajar."

"Apa yang Ibu petik sebagai pengalaman bagus bagi karier Ibu selama tiga tahun itu?"

"Saya merasa tidak terlalu signifikan Pak pengalaman yang saya dapatkan. Malah belakangan saya ikut tidak nyaman dengan kondisi sekolah."

"Mengapa Itu menjadi kesimpulan Ibu?"

"Karena di sekolah saya sekarang Yayasan sekolahnya terlalu ikut campur dengan masalah sekolah."

"Dari mana kesimpulan itu Ibu ambil?"

"Kebetulan ada kantin baru di sekolah kami. Dan Yayasan membuat keputusan agar semua guru wajib makan di kantin sekolah."

"Apakah Ibu sudah siapkan bahan ajar yang akan menjadi kegiatan Ibu bersama anak-anak?"

"Sudah Pak." Kata guru itu sembari menunjukkan lokasi lap top yang akan ia pergunakan sebagai alat belajar nanti ketika melakukan praktek mengajar. Saya mengangguk menandakan kefahaman saya kepadanya. Dan selanjutnya saya mohon diri untuk menggalkannya di ruang tunggu sekolah kami.

Esok harinya, ketika kami mengevaluasi hasil interviu para kandidat yang ada, saya merasa ada yang kurang sreg pada kandidat tersebut. Bagaimana dengan yang lain? Alhamdulillah ternyata ada sinergi antara saya dengan pihak unit sekolah. Alahamduliallanh.

Jakarta, 13 Mei 2015.

Tidak ada komentar: