Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 April 2015

Lagi, Terlambat Kerja #2

"Pak Agus apakah pernah menjadi pegawai yang juga punya masalah dengan datang terlambat ke kantor? Kok kalau bicara terlambat selalu dengan sudut yang berbeda?" Tanya teman saya suatu kali ketika kami berjumpa dalam rehat diskusi. Nah, kebetulan dalam diskusi tersebut perbincangan melebar hingga ke keterlambatan teman ke kantor.

"Kalau pertanyaannya seperti itu, pasti pernah sekali." Jawaban saya ringan dan lepas. Karena memang seperti itu kenyataan yang pernah saya hadapi. Dan kalau bicara datang ke sekolah terlambat, terakhir kali saya alami karena saya baru saja sampai Lebak Bulus sekitar pukul 05.45 sekembali dari Jawa Tengah. Maka jam itu telah membuat saya terjebak oleh kondisi jalan yang luar biasa ramai. 

"Artinya pernah ya Pak? Alasan apa yang Bapak berikan ketika Bapak harus terlambat sampai di kantor?" Desak teman saya. Ia sepertinya sedang ingin mengetahui sejarah kehadiran saya di kantor. Mungkin untuk mencari pembenaran.

"Kebetulan belum pernah sekalipun atasan saya bertanya tentang keterlambatan yang pernah saya alami. Saya tidak faham mengapa hingga sampai disitu? Mungkin karena keterlambatan saya tidak berpola?" jelas saya kepadanya. Meski begitu sesungguhnya ketika saya datang terlambat, selalu ada rasa tidak nyaman. Ini ketika saya mulai masuk gerbang sekolah dan disambut oleh Satpam sekolah, di lokasi parkir pun saya akan bertemu dengan orang atau karyawan lain yang kebetulan ruang istirahatnya berlokasi dekat tempat parkir, juga ketika saya harus masuk ke ruang guru yang jarang sekali kosong.

Jadi, meski tidak ada yang bertanya kepada saya mengapa saya datang terlambat, selalu ada rasa bersalah. Atau setidaknya tidak mungkin saya tidak merasakan apa-apa. Sebagaimana kalau saya datang lebih awal dari jam kantor?

"Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan Bapak pernah terlambat kantor?" Kejar teman saya. Saya merasa bahwa dia sedang mencari bench marking untuk keterlambatan masuk kerja. 

"Berbagai rupa Pak. Tapi lebih sering karena saya terlambat mengawali hari kerja. Sejak bangun tidur, subuh, beres-beres, keluar rumah, hingga menempuh perjalanan." Jawab saya lugas. Karena memang seperti itulah yang saya alami. 

"Karena hampir selalu saya tahu kalau saya akan datang terlambat kantor ketika saya keluar rumah Pak." Jelas saya lagi lebih detil.

Jakarta, 29 April 2015.

Tidak ada komentar: