Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 November 2014

Mengobrol dengan Transmigran, Menemukan Makna Visioner

Siang itu, saya tergopoh-gopoh naik Damri menuju Bandara Soeta. Bagaimana tidak, saya adalah satu-satunya orang yang masih belum sampai Bandara siang menjelang sore itu. Sementara semua anggota rombongan sudah berada di ruang tunggu. Maka sembari memberikan laporan secara berkala kepada teman-teman tentang posisi saya, saya terus menerus tidak henti berharap lepas dari kemacetan jalan bebas hambatan.

"Posisi sekarang sudah sampai persimpangan tol Sedyatmo." Begitu pesan terakhir yang saya kirim. Karena benar, setelah lepas persimpangan itu jalanan begitu lancar. Saya menjadi lega. Karena ternyata pesawat harus delay satu setengah jam. Maka meski teman lebih dulu sampai ruang tunggu, saya masih memiliki waktu cukup panjang untuk menemani mereka. Termasuk berbincang dengan sepasang  suami istri asal Jambi yang ingin mengunjungi sanak familinya di Ngawi.

"Saya trans Mas. Tahun 1982 berangkat dari Ngawi ke Jambi untuk menggarap tanah dua hektar." Begitu si Bapak bercerita kepada saya. Sementara si istri yang duduk disampingnya menyimak pembicaraan kami. Kami di ruang tunggu yang sama karena pesawat kami sama-sama memundurkan jam terbangnya karena alasan teknis.

"Berapa lama Bapak dan Ibu prihatin di daerah trans itu,  hingga mendapatkan penghasilan yang mantap?" Tanya saya.

"Lima tahun kami luwih (lapar) Mas." Jawab sang istri. "Setiap pagi kami membawa alat tani dan periuk nasi dengan ikan asin. Nasi kami tanak, dan diatasnya kami masukkan sejenis kembang genjer serta ikan asin. Sore kami kembali. Rutin sepanjang lima tahun. Guna merawat pohon sawit yang kami tanam di dua hektar tanah pembagian." Lanjut si ibu.

"Sawit itu baru memberikan harapan kepada kami setelah usianya lima tahun. Ia kami panen dua kali dalam satu bulan. Alhamdulillah Mas sampai sekarang sawit itu masih menghasilkan tandan-tandan hasil keringat kami dahulu."

"Apakah semua teman trans Bapak Ibu satu nasib dengan Bapak dan Ibu?" Tanya saya.

"Tidak Mas. Banyak juga diantara mereka yang tidak tahan di tahun pertama, kedua, ketiga, atau keempat. Tanah-tanah mereka yang akhirnya kami bayar." Kata si Bapak.

"Ada juga tetangga kami yang tetap bersama kami tetapi nasibnya belum berubah banyak." Lanjut si Bapak.

"Apa mereka tidak ikut menanam sawit seperti Bapak dan Ibu?" Tanya saya.

"Mereka menanam apa yang kami tanam. Tetapi tidak merawatnya." Lanjut si Bapak yang murah cerita itu.

"Mereka malas?" Desak saya tidak mengerti.

"Mereka pekerja keras. Tapi mereka bekerja untuk mendapatkan upah di ladang milik orang lain. Mereka selalu mendapat uang sebagai buruh tani di lima tahun pertama. Sementara kami tidak punya uang." Jelas Bapak dan Ibu itu.

Atas apa yang disampaikan itu, saya belajar bagaimana cara untuk mendapatkan penghasilan atau uang lebih berlipat. Si Bapak dan Ibu ini adalah profil tangguh yang punya visi masa depan. Sementara tetangganya yang menghendaki uang dengan memelihara ladang sawit orang demi upah, adalah sosok  yang hanya berpikir jangka pendek. Berpikir untuk hari ini.

Terimakasih...

Jakarta, 29 Nopember 2014.

Tidak ada komentar: