Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 November 2014

Belajar Menginap #7; Belajar Berempati

Sebagaimana yang sudah saya sampaikan terdahulu, bahwa pelaksanaan kegiatan Belajar Menginap di rumah-rumah warga yang tinggal di Rw. 04 Desa Sidamukti, Kecamatan Pengalengan, Bandung, Jawa Barat, merupakan konversi dari kegiatan Camping Pramuka untuk tiga hari dua malam. Tujuan dari kegiatan ini tidak lain adalah mengembangkan budi pekerti peserta didik.

Salah satu dari budi pekerti yang kami harapkan dapat lahir dalam diri anak-anak antara lain adalah perilaku berempati. Hal ini karena anak-anak kami tempatkan tinggal di rumah-rumah penduduk dalam kelompok yang terdiri dari dua atau tiga anak. Dengan demikian anak sedikitnya akan merasakan sesuatu yang berbeda. Berbeda kondisi antara apa yang ada di rumahnya di Jakarta dengan rumah yang mereka tempati di Pengalengan.

Keberbedaan lokasi tempat tinggal tersebut, meski mereka hanya hidup bersama warga hanya dua malam, pasti membuat anak-anak harus menumbuhkan daya penyesuaian. Terutama dalam hal kondisi fasilitas mck yang membuatnya harus menyesuaikan.

"Apa yang membuatmu tidak betah di hari pertamamu berada di rumah orangtua asuhmu?" Tanya saya pada benerapa anak perempuan yang duduk di kelas tujuh.

"Alhamdulillah toilet dan kamar mandi orangtua asuh saya bagus dan bersih Pak."  Jawab seorang anak dengan sumringah. Ini karena ia tahu bahwa tidak semua temannya seberuntung dia. Tinggal bersama orangtua asuh yang punya cita rasa kebersihan dan kesehatan.

"Saya tidak pergi ke toilet Pak. Karena lantainya pecah-pecah. Belum pakai keramik. Warnanya abu-abu. Jadi saya nebeng ke rumah orangtua asuh teman lain." Jawab anak lain.

Masih ada beberapa  komentar atas pengalaman anak-anak itu yang tidak semua saya sampaikan disini. Dan saya pun sempatkan bertanya kepada anak-anak laki-laki.

"Hari pertama  saya tidak sanggup ke toilet yang lokasinya ada di luar rumah dan hanya menggunakan papan." Kata seorang anak yang duduk di bangku kelas delapan. "Memprihatinkan Pak kondisi rumah dan toilet orangtua asuh kami." Lanjutnya.

"Apa yang kalian lakukan atas apa yang kalian lihat dan alami? Apakah kalian belajar dengan hal-hal itu?" Tanya saya kepada mereka. Dan mereka menjawab beragam. Hampir semuanya mengemukakan hal positif atas kegiatan yang mereka ikuti. Tapi ada yang layak untuk saya sampaikan disini. Yang disampaikan oleh seorang anak yang duduk di bangku kelas sembilan; "Saya hanya menyisakan satu lembar uang dua puluh ribuan di dompet saya. Yang lain saya sampaikan kepada orangtua asuh saya."

Jakarta, 30 Nopember 2014.

Tidak ada komentar: