Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

16 November 2014

Bapak Pacaran Diusia Berapa?

Dalam catatan kali ini, saya menyampaikan dialog seorang peserta didik yang telah duduk di bangku kelas IX disaat menunggu dijemput di lapangan sekolah. Kejadian ini mengalir begitu saja ketika saya sedang menunaikan tugas sebagai guru piket di saat jam pulang sekolah. Piket yang tugas utamanya adalah menemani anak-anak pulang sekolah di halaman. Dan seperti juga pada saat piket dipekan-pekan yang lain, selalu ada pengalaman yang menyenangkan yang aya dapatkan dari anak-anak itu. Termasuk dialog singkat yang terjadi pada saat itu antara seorang anak laki-laki dengan saya.

"Kapan Bapak pertama kali pacaran?" Begitu pertanyaan siswa saya. Sore itu masih pukul 15.30, pada saat kami berada di pinggir lapangan basket sekolah, dekat pintu keluar. Sebenarnya tidak hanya kami berdua yang ada di lokasi tunggu itu. Ada beberapa anak berada di situ. Namun selain kami berdua, yang lain tampak begitu asyik dengan jalannya latihan futsal yang dilakukan oleh kelas V sekolah dasar.

"Mungkin bukan pacaran waktu itu yang Bapak rasakan. Ada rasa senang kepada teman perempuan. Kalau itu yang dimaksudkan, Bapak mulai ketika duduk di kelas IX seperti kamu sekarang ini." Kata saya mencoba untuk memberikan penjelasan. Termasuk juga pengertian yang ada di kepala saya tentang perbedaan antara suka dengan teman awan jenis dengan pacaran.

Saya sampaikan bahwa saya pada saat masih duduk di SMP itu, yang ada adalah rasa gembira ketika saya bertemu dengan teman lawan jenis itu di halaman sekolah saat kami sama-sama pulang. Dan rasa bahagia itu ketika bertemu itu disimbolkan senyum tersipu ketika bertemu. Itu saja. Sedang ketika sudah masuk bangku kuliah, ketika kami berada tidak pada kota yang sama, saya baru merasakan apa itu persahabatan yang lebih inten meski hanya dengan bertukar cerita melalui surat yang ditulis tangan dan dikirim via pos.

"Wah... zamannya masih kuno ya Pak?" komentar anak didik saya itu polos.

Cerita itu terputus ketika ada seorang anggota Satpam sekolah yang meminta bantuan kepada saya untuk memanggilkan seseorang.

Jakarta, 16.11.2014.

Tidak ada komentar: