Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

19 Desember 2014

Terjerembab pada 'Tampilan Luar'

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari amanah yang saya harus pikul ini. Pelajaran hidup tentunya. Dan itu datang tidak saja dari buku-buku perpustakaan yang menarik untuk saya bawa pulang dan baca, tetapi juga datang dari semua teman yang berinteraksi dengan saya selama ini, dari peserta didik kami di sekolah, termasuk diantaranya dari orangtua siswanya. Semua menjadi bagian paling berharga dalam lembaran-lembaran pelajaran hidup itu.

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menuliskan satu cerita saja, yang saya dapat dari orangtua siswa. Tidak lain yang berkain dengan tampilan luar atau kalau tukang bajaj yang saya naiki ketika saya kembali dari Masjid Raya Pondok Indah di Jakarta Selatan seusai menghadiri pernikahan dari putri teman ketika di SPG menuju sekolah dimana saya harus mengemban amanah. Dimana kami terlibat percakapan dari sebab bajaj yang saya tumpangi jalannya diserobot oleh kendaraan roda empat yang tergolong mewah.

"Banyak orang bilang kalau bajaj yang merusak tatanan perilaku berlalu lintas yang benar, tapi Bapak melihat langsung kan? Betapa kendaraan di depan kita itu tadi menyerobot jalur kita ketika macet? Jadi sebenarnya sekarang ini semua kendaraan sama saja Pak. Yang mewah dan yang bajaj beda kesing saja." Begitu komentar tukang bajaj pada saat itu. Saya tidak mengatakan setuju atau tidak. Tepi dari fakta yang baru kami alami, saya hanya tersenyum. Tidak saja pada ulah mobil seharga 400-an juta yang menyodok jalur kami itu, tetapi juga karena kekaguman saya pada kecerdasan analisa dan pernyataan si tukang bajaj.

Lalu apa hubungannya antara kisah saya dengan tukang bajaj itu dengan apa yang menjadi catatan saya ini? Nah, dengan logika dan  pernyataan Pak Tukang Bajaj itulah saya mencoba merangkai logika tampilan luar itu dengan apa yang saya alami di sekolahan.

Yaitu ketika saya disodori oleh bagian keuangan tentang daftar tagihan atas tunggakan uang sekolah. Data itu menakjubkan di hadapan saya. Terbayang nama-nama yang masuk daftar tersebut dengan tampilan sehari-hari mereka ketika datang ke sekolah dengan segala aktivitasnya. Saya yang melihat itu jadi malu. Sungguh!

Dalam sejarahnya, ada tidak kurang sekitar 20 orang yang nyaris masuk daftar tunggakan setidaknya tiga bulan uang sekolah. Dan saya cukup tercengang bahwa ada diantaranya mereka itu datang ke sekolah di pagi hari untuk mengantar putri atau putranya dengan menunggang kendaraan seharga nyaris 700 juta! Bahkan ada yang lebih. Dahsyat bukan?

Dan yang terakhir kali saya melihat daftar uang sekolah yang masih belum lunas hingga menjelang penerimaan rapot adalah beberapa waktu lalu menjelang keberangkatan tim dari siswa kami keluar negeri. Karena ternyata ada dua dari mereka yang memiliki tanggungan uang sekolah yang sejak bulan April 2014!

Kok tega ya? Ya itulah kenyataannya. 'penampilan luar' jauh lebih penting. 

Orang-orang model seperti ini menjadikan penampilan luar sebagai prioritas pertama. Karena penampilan luar itu langsung dapat dilihat oleh tetangga atau koleganya. Penampilan luar menjadi standarnya untuk dinilai sebagai 'orang berada' meski dalemanya ditambali dengan tagihan uang sekolah. Remeh temeh bukan? Dan ini menjadi pelajaran untuk saya. Sungguh!

Jakarta, 19 Desember 2015

Tidak ada komentar: