Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

12 Desember 2014

K-13 #12; Perubahan Kurikulum = Perubahan Etos Kerja

Pada catatan saya sebelumnya, bahwa disinyalir perubahan kurikulum yang dilakukan oleh pemeintah, utamanya sejak era masa percobaan KBK menjadi Kurikulum 2006 atau yang ternama dengan istilah KTSP, dan kemudian Kurikulum 2013 atau K-13 atau Kurtilas, tidak berdampak kepada praktek operasional pembelajaran di dalam kelas, maka sesungguhnya yang ada dalam kebijakan kurikulum itu adalah perubahan dokumen. Karena praktek guru mengajar di banyak sekolah masih menjadikan buku paket sebagai satu-satunya sumber belajar dan guru sebagai pusat pembelajaran.

Meski berbagai upaya untuk memastikan bahwa guru tahu, paham dan seharusnya dapat mengaplikasikan konsep kurikulum baru dalam bentuk workshop, pelatihan, lokakarya, pendampingan, yang memakan banyak waktu, dana, dan tenaga. Tetapi pada pratek akhirnya pola interaksi guru-peserta didik kembali kepada pakem sebelumnya.

Dan realita tersebut, tidak salah jika saya mengatakan bahwa perubahan kurikulum selama ini baru berada atau baru sampai pada tataran paradigma. Bagaimana paradigma membuat rencana pembelajaran, bagaimana melaksanakan kegiatan belajar, bagaimana membuat evaluasi, bagaimana melakukan assessment, dan juga bagaimana melaporkan hasil belajar.

Namun ketika bagaimananya tersebut masih dalam bentuk konsep dan belum ada tuntutan yang nyata dari pengambil kebijakan, maka sesungguhnya perubahan kurikulum tersebut masih belum merubah kinerja atai etos kerja para teman-teman guru. Meski, sekali lagi, tidak semua guru mewakili apa yang saya sampaikan tersebut. Tetapi banyak dari teman-teman guru yang masih melakukan hal yang sama baik sebelum atau sesudah dokumen kurikulum tersebut berganti.

Maka ketika sistem pembelajaran dan peniaian serta pelaporan dari praktek K-13 sedang hangat menjadi perbincangan teman-teman guru, baik yang setuju sekali maupun yang tidak setuju sekali, diputuskan oleh Pak Menteri Anies, menjadi tampak jelas model guru yang bersangkutan. 

Dari fenomena itulah saya mencatat bahwa sesungguhnya K-13, diluar dari masalah teknis yang ada, kekurangan yang mungkin disandang, serta tentunya kelebihannya, kurikulum ini benar-benar memaksa guru untuk berubah. 

Dalam pembelajaran, misalnya, guru dipandu dengan model buku paket yang sudah menjadi rujukan teknis. Saya pikir akan mati lambat laun penerbit buku pelajaran yang sebelum ini benar-benar menguasai pasar buu anak-anak sekolah. 

Juga dalam mebuat laporan hasil  penilain yang berbasis komputer dan internet. Maka jika masih ada guru yang ada hambatan dalam melakukan kerja berbasis komputer dan internet, akan menjadi bagian dari kesulita dari keterlaksanaan Kurikulum 2013.

Dengan logika itulah saya berpendapat bahwa K-13 sesungguhnya akan mampu melakukan pola kerja guru. Dan ini harapan baru bagi saya, bahwa perubahan kurikulum akan menyeret pad perubahan pola kerja guru. Yang jika dilanjutkan akan menjadi peningkatan etos kerjanya.

Jakarta, 12.12.2014

Tidak ada komentar: