Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Desember 2014

K-13 #14; Kurikulum yang Merubah Guru (Terimakasih Pak Anies)

Jadi, berita terakhir dari Pak Menteri Anies adalah, bahwa Kurikulum 2013 tidak di stop total. Ini mungkin klarifikasi dan sekaligus penegasan, karena di luaran, di media facebook yang akunnya dimiliki oleh guru-guru menyampaikan sambutan positifnya terhadap keputusan Pak Menteri Anies yang tidak memberlakukan Kurikulum 2013. Dan selain di media sosial Facebook, teman saya juga menulis statusnya tentang 'kerja kerasnya' atas pembuatan rapot Kurtilas. 

Tampaknya, Kurtilas oleh beberapa guru dilihat sebagai pekerjaan yang amat berat. Maka ketika pengumuman dari Pak Menteri Anies, yang gosipnya adalah bagian dari penggagas atau penyumbang ide terhadap kurikulum ini, pada Jumat tanggal 5 Desember 2015 yang memberikan 3 (tiga) opsi terhadap perjalanan kurkulum baru tersebut, langsung menyambut gembira. Ada teman saya menulis di status BBnya; Terimakasih Pak Anies.

Merubah Guru

Empat belas tahun lalu, ketika saya ikut serta menjadi bagian di sebuah sekolah di Bintaro, Tangerang Selatan, berdiskusi tentang bagaimana strategi mengubah guru-guru. Ini karena kami menganut sekolah yang tidak seluruhnya sama dengan praktek pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah tetangga. Mengapa? Karena besaran uang sekolah kami berbeda jauh dengan sekolah teman-teman itu. Perbedaan ini pasti akan membuat ekspekstasi orangtua siswa kami berbeda dengan kebanyakan orangtua.

Dan karena itulah kami membuat strategi selain memberikan pelatihan dan coaching terhadap guru-guru dalam membuat dan menjalani strategi belajar, mereka juga belajar bagaimana menilai hasil belajar, sekaligus membuat laporannya.

Pada titik inilah kami saat itu menjadi sadar kalau sistem penilaian dan pelaporan adalah bagian paling penting dalam merubah guru. Lalu bagaimana langkah kami berikutnya? Langkah pertamanya adalah tidak ikut serta dalam ulangan umum bersama. Sebagaimana kita yang kami alami saat itu, beberapa dari kami bersatu dalam membuat ulangan unmum bersama, dengan soal yang sudah dicetak oleh 'panitia'. Ulangan umum bersama ada sisi bagusnya. Antara lain adalah menjadi benchmark bagi sekolah-sekolah yang menjadi peserta.

Namun, sisi jeleknya adalah bentuk soalnya yang mayoritas berisi soal ingatan. Bahkan ada beberapa soal yang menampilkan foto tokoh pahlawan dengan pertanyaan siapa nama pahlawan yang dimaksud?

Bagaimana langkah keduanya? Yaitu melakukan penilaian autentik. Ini kami jalani sebagaimana yang dibuat oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI waktu itu, yang meluncurkan KBK versi on line dan sekaligus PBK atau Penilaian Berrbesis Kelas. PBK ini adalah nama lain dari penilaian autentik sebagaimana yang dikehendaki oleh Kurikulum 2013. Dan yang terakhir dari usaha kami adalah membuat Rapot tambahan, yang memberikan gambaran tentang kompetensi yang telah siswa miliki, dalam bentuk deskripsi, yang kemudian kami sebut sebagai Rapot Deskripsi.

Dan sebagai dokumentasi tambahan terhadap Rapot Deskripsi kami itu adalah Portofolio yang dimiliki oleh setiap siswa. Yang memberikan gambaran kongkrit tentang apa yang sesungguhnya sedang anak-anak jalani di dalam kelas dalam proses pebelajarannya. 

Dengan melihat itu semua, saya berpendapat bahwa Kurikulum 2013, khususnya dalam hal penilaian dan pelaporan, telah benar-benar membangkitkan daya kerja guru. Telah memaksa guru untuk melakukan sebagaimana yang dikehendaki oleh dokumen kurikulum. Dan ini menjadi momok tersendiri bagi sebagian besar guru yang tidak siap dalam hal; mejalankan rencana belajarnya secara murni dan konsekuen, melakukan kegiatan belajar bagi para peserta didiknya sehingga  memungkinkannya untuk melakukan pengamatan atas kegiatan yang diberikan kepada siswanya, kompetensi menggunakan komputer, dan konsep mengajar adalah bekerja keras.

Sementara itu, sistem penilaian yang telah terlanjur dibuat oleh pemerintah, tampak sekali tidak dilakukan oleh praktisi kelas atau guru. Sehingga sistem yang ada kelihatan sekali kalau dibangun tidak dari konsep yang ada di lapangan.

Jakarta, 17 Desember 2014.

Tidak ada komentar: