Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 April 2013

Belajar Hidup Berbeda di House Family

Beberapa waktu lalu saat mempersiapkan anak-anak yang akan menjalani kagiatan Misi Budaya yang antara lain adalah kegiatan home stay di rumah tangga yang ada di kota yang akan dituju, saya memberikan bekal sedikit kepada anak-anak itu. Sebuah pekal pengetahuan dan wawasan untuk bersiap secara mental. Tentu dengan berkaca kepada pengalaman yang pernah saya ikuti beberapa tahun lalu di negara yang total berbeda, atau juga pengalaman anak saya ketika berangkat ke sebuah tempat di Victoria.

Dua pengalaman itu memang pengalaman yang benar berbeda. Berbeda dengan beberapa teman lain yang pernah tinggal di rumah orang di negeri orang namun karena keluarga yang ditinggalinya masih satu ras, maka keberbedaan itu tidak membawanya untuk benar-benar dapat mereguk kehidupan yang berbeda.

Juga seperti pengalaman anak yang lain, yang mengikuti program home stay untuk belajar Bahasa Inggris di sebuah kota di Kabupaten Kediri, Pare. Dimana anak-anak juga akan mengalami hidup yang berbeda. Namun bukan berbeda budaya karena suku atau ras. Melainkan berbeda karena budaya hidup antara buada hidup ada yang mayoritas anak-anak jalani sehari-hari di Jakarta dengan hidup di daerah Kabupaten tersebut.

Maka ketika anak-anak didik kami itu akan berangkat ke sebuah negara yang memiliki kultur budaya yang berbeda, meski itu hanya untuk lebih kurang lima (5) hari, tetap saja saya memberikan wanti-wanti dan sekaligus tantangan kepada anak-anak itu. Saya khawatir jika dalam lima hari anak-anak itu tinggal bersama keluarga yang baru dikenalnya, tetap akan mengalami kendala atau bahkan masalah.

Apa bentuk tantangan itu? Saya berikan gambaran kepada mereka untuk memilih satu yang paling seru dari tiga model pilihan yang akan mereka hadapi nanti. Pertama adalah pilihan bete. Ini adalah pilihan sengsara yang akan menyeret anak-anak itu ke ranah galau tidak ada habisnya sepanjang lima hari mereka berada di lokasi home stay tersebut. Jika pilihan ini yang mereka pilih, maka solusi yang paling dinantinya adalah pindah rumah ke house fam yang berbeda. Walau pjndah house fam seolah menjadi solusi, namun sesungguhnya kita sendiri belum mengetahui pilihan apa yang nanti akan kita pilih? Artinya, jika pilihan ini yang kita ambil, maka memang sengsara itu yang paling mungkin kita rasakan dan nikmati!

Pilihan kedua, adalah pilihan netral. Maksudnya, ketika home stay dan pembagian house familynya sudah terjadi, maka suka atau tidak, ya kita pilih rasa yang tengah-tengah saja. mencoba dinikmat-nikmati meski memang kurang nyaman bila berada di ranah yang berbeda tersebut. Sedang pilihan ketiga, sebagai pilihan terakhir, adalah pilihan untuk enjoy. Kita benar-benar menikmati keberbedaan hidup sebagaimana kita menjalani petualangan!

Dan dalam memberikan tips akan pilihan-pilihan ketika kita harus menjalani hidup bersama house family yang seringnya belum kita kenal tersebut, nyatanya masih juga ada yang tidak lolos, alias fail. Yaitu anak-anak yang merasa tidak kerasan di 'keluarga baru' mereka saat menjalani home stay. Anak-anak inilah yang memilih pilihan pertama saat harus hidup bersama keluarga yang memang berbeda.

Akan tetapi, saya juga merasa senang ketika mendapat cerita bahwa ada seorang anak kami yang ketika kembali ke Jakarta ketika program home stay berakhir, maka seluruh anggota keluarga barunya yang ditinggalkan merasa begitu kehilangan.

Dan dari pilihan-pilihan dan pengalaman kegiatan home stay yang terakhir itu, saya kembali harus membuat kesimpulan bahwa, anak-anak kita yang tinggal di Jakarta ini, sesungguhnya sudah dapat kita lihat pilihan yang mana yang akan dipilihnya ketika program home stay menjadi program yang akan kita jalani. Karena itu terlihat dari karakter dasar anak-anak itu sendiri...

Jakarta, 30 April 2013.

No comments: