Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

01 May 2010

Martabat


Pernahkah Anda berpikir bahwa, bila menduduki jabatan baru, menjadi sesuatu, itu berarti juga akan memperoleh martabat yang lebih dibandingkan sebelum Anda diangkat atau sebelum Anda menjadi sesuatu itu?
Yang juga berarti kebalikannya, bahwa kalau Anda turun dari menjadi sesuatu itu berarti pula martabat dan penghargaan orang di sekitar Anda menjadi luntur atau berkurang?
Jika demikian apa yang menjadi model berpikir Anda, sebaiknya Anda memulai sadar akan kekeliruan itu. Karena, setidaknya ini menurut saya, bahwa martabat atau penghargaan seseorang terhadap seseorang yang lain dalam jangka waktu yang panjang ada dan terletak pada diri orang yang bersangkutan.
Jabatan dan kedudukan dengan ketiadaan integritas diri yang mulia, hanya menghantarkan penghormatan terhadap orang yang bersangkutan dalam tempo yang singkat. Model manusia seperti ini paling lama akan dihormati orang disekelilingnya hanya selama jabatan itu ada pada dirinya. Dan orang sekilingnya itu mungkin bahawannya sendiri. Namun sesudah itu orang akan melupakannya dan menjadikannya teladan bagi ketidakmuliaan.
Bahkan beberapa hari ini kita bisa melihat di tv atau membaca di surat kabar bagaimana orang menjadi tidak begitu dihargai martabatnya setelah diketahui hal atau bagian dari hidupnya yang tidak mencerminkan integritas. 

Demikian juga sebaliknya. Bilamana diri dan pribadi tersebut dengan hiasan aklak integritas kemuliaan, maka dimanapun ia, terlebih dengan kedudukan dan jabatan yang menjadi amanahnya, martabat yang pantas akan tersandang mapan.


Tapi mengapa masih ada beberapa sahabat dan kolega atau tetangga kita yang mengejar penuh nafsu jabatan dan kedudukan demi mencita-citakan martabat diri yang tinggi? Orang-orang model seperti ini akan mengalami masa frustasi bilamana jabatan atau kedudukannya hilang. Sekalipun jabatan dan kedudukan yang dimilikinya tidak terlalu tinggi di sebuah lembaga yang juga tidak terlalu besar itupun lenyap dari genggamannya.

Maka jika kita menemukan teman yang memiliki model manusia seperti itu, segeralah ingatkan untuk melihat bahwa implikasi dari keseluruhan atmosfir yang ada dalam lingkungannya bermula dari diri sendiri. Inilah sesungguhnya konsep kausalitas yang adil bagi siapapun juga.

Dan semoga kita masuk dalam bagian yang menyadari bahwa memperbaiki diri sendiri berarti memperbaiki masa depan sendiri dan seluruh konstelasi lingkungannya.

Jakarta, 1 Mei 2010

13 April 2010

Mengapa Mesti Repot-Repot?

Mengapa mesti repot-repot untuk melakukan atau untuk membuat kegiatan belajar menjadi lebih menarik, menyenangkan dan menantang siswa? Pernahkan kita mendengar kalimat seperti itu? Kalau belum pernah, mungkin ada baiknya saya akan menjelaskan apa yang pernah saya dengar.
Saya mendengarnya beberapa waktu lalu dengan seorang Kepala Bagian di sebuah lembaga. Ia menceritakan setelah kami meningalkan tangga Masjid seusai menunaikan Salat Magrib. Dia menceritakan ini mengingat himbauan dan ajakannya, sebagai panitia di sebuah kepanitiaan, yang mengharuskannya untuk mengundang teman-teman guru guna mengikuti pelatihan yang diselenggarakannya. Namun betapa kagetnya dia saat Pak Guru itu menolak tawarannya dengan kalimat yang lebih kurang seperti judul di atas.


Benar. Mengapa harus repot-repot? Harus membuat perencanaan yang lebih matang, yang oleh karenanya harus memerlukan informasi yang lebih banyak lagi berkenaan dengan ide tentang proyek belajar? Pilih saja kegiatan belajar yang pernah ada sebelumnya, yang tidak lagi menuntut kita untuk berusaha lebih keras lagi dalam pembuatan rencana. Flat saja. Lakukan seperti apa yang pernah kita lakukan. Lakukan sebagaimana biasanya. Tidak perlu lagi membuat sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita lakukan. Karena itu berarti kita sedang menciptakan pekerjaan baru? Jadi, ngapain harus repot-repot?


Inilah logika bagi penganut faham: mengapa mesti repot-repot? Saya menyampaikan ini bukan karena berkepentingan dengan ada sebuah pembahruan di sebuah lembaga. Ini murni saya sampaikan karena betapa ruginya hidup bagi penganut faham itu. 

Ada beberapa alasan mengapa saya memiliki kesimpulan seperti itu. Pertama, bahwa dalam usaha memperbaiki diri secara terus menerus guna mencapai derajat mulia atau yang bermartabat, maka proses melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dalam kerangka pengembangan, penumbuhan dan penyempurnaan adalah inti dari sebuah makna kata survive. Wujud paling nyata dari makna kata itu yang dapat kita saksikan bersama dalam kehidupan ini adalah, bagaimana pelaku usaha selalu merubah tampilan produknya dengan selalu menyesuaikan diri dengan apa yang sedang tumbuh dan hidup dipemakai produknya. Dan tanpa ikhtiar ini, maka berhentilah kelangsungan hidup usahanya (?).

Untuk itu maka guna mempertahankan eksistensi, diantara ikhtiar dan perjuangan untuk mendaatkanya dan wajib kita lakukan adalah untuk tidak sungkan melakukan sesuatu yang berbeda dengan tujuan mencapai pertumbuhan menuju yang lebih baik. 

Kedua, Nikmatilah hidup ini dengan cara yang berbeda-beda. Maksudnya? Jangan pernah kita mau untuk melihat, mendengar, merasai, ataupun melakukan sesuatu dengan menggunakan kaoordinat yang sama. Linier terus menerus dan berkepanjangan. Jauh lebih baik kita menggunakan semangat eksploratif. Jika jalan berbeda yang kita tempuh dan karena itu kita akan menjadi gamang, jalan terus. Bukankah sesuatu yang berbeda kan membuat pengalaman kita bertambah dari apa yang kita lakukan kemarin? Bagaimana jika keberbedaan itu kita jadikan kredo berpikir dan bertindak kita, apakah tidak berarti kita jauh memiliki pengalaman yang lebih kaya? Lalu bagaimana dengan bertambahnya kerepotan yang harus kita jalani? Justru semakin repot itulah yang menjadikan pengalaman yang akan kita dapatkan menjadi lebih berharga.

Ketiga, Berpikirlah selalu dari kata mungkin. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua hal serba mungkin. Jika demikian, maka keberhasilan dan eksistensi yang orang lain dapatkan juga dapat pula menjadi bagian dari diri kita.


Dan sebelum saya berpisah dengan teman saya itu, saya sempat berguman pada diri sendiri. Bahwa orang yang mengatakan ngapain repot-repot itu sangat boleh jadi kalau dirinya berada pada posisi bahwa dia tidak tahu kalau ia menjadi bagian dari orang-orang yang tidak tahu. Kasihan.

Jakarta, 15 April 2010

Belagu

Kalau dalam bahasa Ibu saya, istilah yang paling cocoknya adalah kemlinthi. Penjelasannya adalah sikap sok. Misalnya saja sok punya. Maka bagaimana menampilkan diri menjadi seperti punya , misal saja seperti orang yang punya uang. Padahal sesungguhnya sikap sok menjadinya itu adalah upaya mengelabuhi diri sendiri yang memang kontras dengan apa yang ditampilkannya. itulah penjelasan saya tentang sikap atau perilaku belagu.
Pagi itu, Ahad, 18 April 2010, kebetulan saya mendengarkan siaran Radio dalam acara Talk Show Tilawah Al Quran yang menghadirkan Ustad Yusuf Mansur dan Ustad Efendi. Dalam selingan ceramahnya, Ustad Yusuf bercerita bahwa masih ada beberapa orang yang menjadi imam ketika shalat di masjid, yang bacaan shalatnya masih belum tuntas benar. Dimikian Ustad muda ini mengawali ceritanya. Repotnya, lanjutnya, ketika saya mencoba untuk menyampaikan beberapa bacaan yang kurang benar itu, si imam justru nanya; memang antum siapa?
Diceritakan pula saat rombongan Ustad ini jamaah di suatu tempat di tanah Arab, dan kebetulan imam masjidnya ada yang kurang benar dalam bacaannya, dan disampaikan kekurangannya itu, maka sang imam langsung meminta agar seluruh bacaan Qur'annya di koreksi. Nah!

Dari apa yang saya dengarkan pagi itu saya memperoleh pencerahan kalau belagu juga dekat dengan kebodohan. Artinya, seseorang yang memiliki sikap belagu, akan membuat dirinya untuk menjadi yang paling benar dan yang paling pintar diantara orang yang ada, sehingga sikap ini akan membuatnya lupa bahwa ada hal penting dalam dirinya yang masih perlu diperhatikan dan diperbaiki. Sikap inilah yag memperlambat pengembangan potensi dirinya.
Sikap ini menutupi potensi kita untuk berkembang melejit. Karena sikap belagu akan membuat seseorang menjadi pongah. Dan sikap pongah akan memunculkan keyakinan pada diri sendiri yang mungkin menjadi berlebihan, yang tidak memungkinkan seseorang menjadi lebih ikhlas dalam menerima masukan. Artinya, sikap belagu sangat boleh jadi milik mereka yang tidak tahu kalau dirinya kurang atau bahkan tidak tahu.

Dari sini jugalah saya akan mulai bergerak sekuat tenaga untuk belajar menjadi orang yang bukan siapa-siapa yang memungkinkan saya melihat diri saya tidak lebih dari pada orang lain yang ada di sekitar saya. Berat. Karena saya terlanjur dewasa. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Dan usaha ini harus saya lakukan karena masa di depan saya masih terbuka lebar untuk apa saja yang saya impikan.

Saya berharap, ikhtiar ini membawa keberkahan hidup. Amin.

Jakarta, 18-27 April 2010

12 April 2010

Pelajaran di Hari Libur Sekolah


Ada pelajaran berharga sekali ketika libur saya kembali ke kampung beberapa waktu lalu. Saat dimana Bapak saya masih ada. Dimana sembari menengok Bapak saya memberitahukan keberadaan saya di kampung kepada sahabat saya seperjuangan di kampung yang mengelola sekolah swasta.

Sahabat meminta saya untuk meluangkan satu hari disaat-saat menengok Bapak, guna memberikan pelatihan bagi teman-teman gurunya yang berjarak lebih kurang 60 kilometer dari rumah Bapak saya. Maka pukul 05.30 saya telah bersiap sedia di pinggir jalan raya menunggu bus AKAP Jogjakarta-Purwokerto yang bisa saya tumpangi.

Pukul 08.00-15.00 pelatihan itu berlangsung. Meriah sekali. Saya mengajak peserta untuk melihat potensi yang paling mungkin dieksplorasi dalam mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna di dalam kelas. Kadang mereka serius memperhatikan apa yang saya sampaikan. Atau kadang mereka sendiri yang mempresentasikan hasil analisa kelompoknya atau menyimak hasil kerja kelompok lain. Sesekali mengajukan pertanyaan yang operasional berkenaan dengan apa yang saya sampaikan. Bahkan ada kalanya kita termangu seperti tidak percaya bahwa dengan modal yang sederhana dapat menjadikan belajar menyenangkan dan menantang siswa.

Berapa gaji sebagai guru di sini? Tanya saya kepada teman yang memboncengkan saya untuk mengantarkannya di pool bus Sumber Alam. Saya lupa siapa nama guru itu. Tapi sepengatahuan saya, ia adalah kelompok awalun ketika sekolah swastanya didirikan beberapa tahun lalu. Artinya masuk dalam kelompok guru senior di sekolahnya yang baru tersebut.

Guru baru dua ratus ribu. Sedang guru yang tergolong senior ditambah sebagai guru kelas dan koordinator ekskul bisa dapat limaratus lima puluh. Kalau kepala sekolah tujuh ratus lima puluh. Jawabnya tulus. Terus terang, saya yang menjadi guru swasta di Jakarta tidak terbayangkan dengan jumlah gaji sebesar itu.

Hebat. Pikir saya. Karena selain guru-guru yang mengajar di sekolah swasta, saya kebetulan juga bersahabat dengan teman SPG dulu yang sekarang menjadi PNS. Rata-rata sahabat SPG saya sekarang telah memiliki golongan 3. Dan bahkan ada yang telah menjadi Kasi Dikpora. Dan pastinya memiliki pendapatan yang jauh lebih besar dari itu. Itu keyakinan saya ketika saya mengunjungi rumah mereka yang mentereng.

Hebat karena dengan pendapatan sebesar itu jam kerja mereka tidak kalah dengan kita yang ada di Jakarta. Rata-rata mereka harus sudah di dalam kelas pukul 07.00 dan kelas kosong dari siswa sekitar pukul 15.30! Dan jam pulang siswa itu belum berarti mereka bisa meninggalkan sekolah. Karena sangat sering masih ada kegiatan di luar mengajar. Mungkin ada diskusi, mempersiapkan kegiatan belajar hari berikut atau rapat tentang kegiatan ekstra kurikuler lainnya.

Hebat karena ada beberapa diantara mereka adalah sarjana dari Lampung, Bogor, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Jogjakarta dan juga Surakarta. Bahkan ada juga lelaki separuh baya yang memiliki akta IV, korban PHK di Tangerang dan memilih kembali ke kampung halamannya. Selain pengusaha pupuk kompos adalah juga guru Matematika di kelas 4, 5 dan kelas 6.

Inilah sekelumit pelajaran yang saya dapatkan di saat libur sekolah tahun 2008 yang lalu. Menengok Bapak yang saat itu masih ada dan memberikan pelatihan kepada teman-teman guru yang hebat.

Jakarta, 12 April 2010.

04 April 2010

Mempertajam Radar Sosial

Inilah kata saya kepada salah seorang keponakan saat kami berkumpul di sebuah arisan keluarga. Kata ini saya sampaiakna dihadapan para keponakan setelah ada kejadian kendaraan yang tidak bisa melintas di jalanan komplek di mana kami berkumpul karena adanya dua kendaraan yang parkir berdekanan satu dengan yang lainnya namun berada pada sisi yang berbeda.


"Kendaraan yang mana yang tadi parkirnya lebih awal?" Tanya saya.
"Yang warna putih Om." Jawab salah satu keponakan mencoba menjelaskan.


Dan dengan keterangan ini cukup bagi kami untuk menentukan siapa pemilik kendaraan yang tidak berperikendaraan. Yang memakirkan kendaraan di sisi kendaraan yang parkir terlebih dahulu tanpa berpikir apakah jalan yang juga menjadi tempat parkir tersebut masih memberikan akses bagi kendaraan lain untuk melewatinya?


Di sinalah saya menjadi sangat terheran-heran. Apakah kendaraan yang parkir belakangan dikendari oleh pengemudi yang lulus dari sekolah kita? Apakah tidak sampai diakalnya jika jalanan dimana dia memarkirkan kendaraannya adalah bukan jalan buntu?


Bentuk sikap dan perilaku yang telah ditunjukkan oleh pengemudi mobil yang parkir belakangan itu saya sebut sebagai penyakit tumpul radar sosial. Yaitu ketidakpedulian seseorang terhadap implikasi sosial atau implikasi lingkungan dari tindakannya.


Meski ia adalah orang yang memiliki gelar akademis yang baik dan reputasi kerja atau jabatan yang bagus, namun sikapnya tersebut telah memberikan gambaran bagi kita, atau memberikan bukti bagi kita bahwa yang bersangkutan adalah pemilik kecerdasan sosial yang lemah. Atau pemilik dari radar sosial yang tumpul. Yang menyebabkannya sulit membaca lingkungan sosial yang berkorelasi dengannya.


Pengalaman yang saya alami ini sangat mungkin juga pernah pembaca lain alami pula. Meski dalam bentuk empiri yang berbeda.


Itulah pentingnya bagi kita untuk mampu memetakan konstelasi sosial yang berada dalam lingkungan dimana kita berada dan berinteraksi. Yaitu dengan terus menerus mempertajam kemampuan menangkap sinyal dari lingkungan sosialnya. Mempertajam radar sosial.


Jakarta, 4 April 2010

03 April 2010

Mungkin


Saya menemui dan menemani tamu yang melakukan kunjungan studi di sekolah kami. Mereka rombangan dari sebuah Kabupaten di Jawa Timur yang dipimpin oleh Wakil Bupatinya. Rombongan ini terbilang lengkap untuk sebuah kerangka perubahan di sebuah Kabupaten yang mereka impikan. Ada dari ekskutif; Wakil Bupati, wakil dari Dinas Pendidikan, wakil dari sekolah dan juga dari Legeslatif; yaitu beberapa anggota DPRD yang membidangi pendidikan. Ini kami lakukan untuk membuat pilot project sebuah sekolah yang dapat diunggulkan. Demikian penjelasan kepala rombongan.

Namun setelah presentasi tentang sekolah yang kami sampaikan selesai, dilanjutkan kunjungan ke kelas-kelas dan melihat fasilitas yang ada, saya banyak mendengar kata-kata yang diungkapkan anggota rombongan yang tidak menyiratkan optimisme dan semangat Oh Ya!.

  • "Sekolah ini luar biasa Pak Agus. Semua fasilitasnya lengkap. Semua serba kondusif untuk menjalankan program-program unggulan. Beda sekali dengan apa yang ada di sekolah kami. Apa yang bisa kami contoh ya Pak?" Kata salah satu anggota rombongan ketika berada di ruang Komputer.

  • "Bagaimana ngak maju Pak, biaya yang dikeluarkan juga wah? Beda dengan kita yang di daerah." Kata anggota rombongan lainnya.

  • "Luar biasa sekolah ini Pak. Jika sekolah ini nanti yang akan menjadi patokan kami di daerah, wah ngak kebayang bagaimana kami harus mengejar semuanya. Kami pesimis Pak Agus." Komentar yang lain lagi.
Pendek kata, banyak komentar anggota pengunjung yang datang ke sekolah kami yang bernada pesimis, minder, serta sama sekali tidak melihat bahwa diri dan potensi mereka memungkinkan untuk mampu berbuat apa yang telah kami capai atau bahkan melakukan sesuatu yang jauh lebih baik dan maju dari pada apa yang dilihatnya.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di ruang pelatihan atau ruang guru yang ada di sekolah, sikap semacam ini, sesungguhnya tidak hanya menjadi milik anggota rombongan studi lapangan itu saja. Banyak diantara kita ketika melihat sesuatu yang berbeda atau sesuatu yang baru atau juga sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah menjadi milik kita hari ini, kita menyikapinya dengan nada yang tidak mencerminkan keoptimisan.

Banyak diantara kita ketika pada posisi itu pikiran pertama yang muncul adalah ketidakmungkinan. Dan pikiran dan sikap inilah, menurut saya, yang pertama harus kita singkirkan agar kita tidak selalu bangga dengan apa yang sudah kita punya. Kita harus berani atau nekat jika diperlukan untuk merubah pikiran dan sikap ketidakmungkinan tersebut menjadi mungkin!

Mengapa kita perlu terus menerus belajar dan melakukan studi banding jika dalam dasar benak kita hanya ketidakmungkinan yang akan kita rekomendasikan sebagai tindaklanjutnya? Bukankah jauh lebih efisien jika kita tetap tidak melakukan apa-apa jika konsep ketidakmungkinan yang menjadi jalan keluar setiap ikhtiar kita?

Maka sangat korelatif jika ikhtiar untuk maju dan berkembang serta tumbuh pada diri kita dan pada sebuah lembaga itu dilandasi pikiran dan sikap mungkin. Karena hanya dengan semangat mungkin-lah yang akan menghantarkan kita menuju tujuan yang telah kita buat dalam koordinat hidup kita sendiri-sendiri atau bersama-sama dalam sebuah lembaga yang bernama sekolah.

Semangat mungkin, hanya mampu dimiliki oleh kita yang menjadi penganut faham optimisme. Faham bahwa berubah adalah sebuah perjalanan hidup yang harus selalu dilalui. Semoga.

Jakarta, 1-12 April 2010

30 March 2010

Catatan untuk Peserta UN

Selasa, 30 Maret 2010, adalah Ujian Nasional SMP hari kedua dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Saya telah datang ke sekolah pukul 05.50 bersamaan dengan panitia UN dan Pengawas Independen yang datang dari Rayon dengan membawa soal ujian.

Mempersiapkan sesuatu yang memungkinkan peserta merasa nyaman ketika akan menghadapi soal di mejanya masing-masing. Kami sambut beberapa siswa yang mulai berdatangan di 'gerbang' sektor pelaksanaan UN di SMP kami. " Bahasa Inggris Nak. Semoga sukses ya!" Kata saya kepada siswa yang datang dengan senyum yang menyiratkan optimisme. " Amin. Terima kasih pak Agus!" Jawabnya tulus. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit.

"Bagaimana hari ini?" Tanya saya kepada siswa yang lain.
"Biasa saja Pak Agus." Jawabannya ringan.
"Bagaimana soal yang kemarin?" Lanjut saya.
"Ya begitulah Pak." Sahutnya.

Wajah dan penampilannya khas remaja merdeka. Saya istilahkan demikian karena remaja saya, menurut asumsi saya, ini memiliki prinsip hidup merdeka tanpa tekanan. Masa UN atau tidak tidak tergambar di raut mukanya. Ekspresi tubuhnya menyiratkan sikap rileks tanpa beban. Perilaku saat UN seperti yang ditampilkan pada hari ini, berkorelasi samadengan dengan apa yang dia tampilkan jauh sebelum persiapan UN dilakukan. Perolehan angka akademik saat TO yang lalu, yang menjadi patokan dalam pelaksanaan UN kali inipun, tampaknya tidak atau belum membuatnya terpancing untuk berperilaku sungguh-sungguh.

Saya melihat jam tangan, waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Belum terlambat memang. Karena peserta UN diharapkan memasuki ruang UN tepat pukul 07.30. Namun pada pukul tujuh lewat dua puluh menit itu ada kegiatan Shalat Dhuha yang dilakukan oleh seluruh siswa peserta UN di Ruang Serba Guna. Tentu dengan bimbingan guru yang menjadi panitia UN.

Saya bergerak ke Ruang Serba Guna untuk ikut menikmati suasana kepasrahan, keikhlasan dan kekhusuan yang tergambar di hampir sebagaian peserta UN dalam melaksanaan Dhuha. Khidmat sekali suanananya. Saya bangga dengan remaja-remaja ini. Mereka bisa begitu menghayati apa yang mereka ingin capai. Yaitu lulus UN dengan hasil nilai angka UN setinggi-tingginya. Karena hanya saya setelah itu yang menjadi impiannya. Yaitu memasuki gerbang SMAN pilihannya dengan berbekal angka tersebut.

Saya keluar ruangan dan merenung. Inilah tantangan saya sebagai guru bagi remaja-remaja itu. Satu sisi ada remaja merdeka yang tidak tahu dan tidak sadar akan 'posisi' dirinya. Dan di lain sisi ada remaja-remaja yang menikmati keremajaannya dengan penuh perjuangan untuk memperoleh apa yang menjadi impiannya.

Saat seperti ini, tidak ada yang bisa saya lakukan selain bermohon kepada Allah SWT bagi kemudahan dan kesuksesan serta keberhasilan terhadap apa yang siswa kami telah ikhtiarkan pada UN tahun ini.

"Ya Allah, Engkaulah yang Maha Agung. Berikanlah selalu hidayah dan panduan-Mu kepada remaja-remaja saya ini. Kami bermohon kepada-Mu untuk keberhasilan mereka semua. Baik yang ada di sekolah atau yang ada di rumah kami sendiri. Amin."

Jakarta, 31 Maret 2010

28 March 2010

Membuat Display Kelas

Display atau pajangan kelas, merupakan pengalaman baru bagi saya sebagai guru di sekitar bulan Juli 1996 yang lalu. Baik dalam ranah pengertiannya, pemahamannya, urgensinya, dan juga pada sisi operasionalnya, yaitu saat saya harus mengerjakannya.
Pengalaman baru, karena sebelum ini, selama sebelas tahun saya menjadi guru kelas di tingkat sekolah dasar, membuat display bagi saya tidak masuk dalam jobdes sebagai guru kelas. Lalu apakah pajangan yang ada di kelas saya sebelum itu? Yang ada adalah foto Garuda Pancasila, Presiden dan Wakil Presiden, serta pahlawan nasional yang berbingkai. Pajangan itu lestari sejak awal tahun pelajaran hingga penerimaan rapor kenaikan kelas.

Dan sekarang, saya memiliki tugas tambahan sebagai guru kelas lima sekolah dasar itu dengan latar belakang sebagaimana yang telah saya sebut. Jadi bagaimana saya memulai pembuatannya itu. Inilah nukilan pengalaman saya.

Pertama saya bertanya pada teman pararel kelas saya berkenaan dengan fungsi dari papan-papan display itu. Istilah display ini pun baru saya kenal saat hari pertama saya berada di sekolah baru saya itu. Hari pertama saya masuk adalah lima hari kerja sebelum siswa masuk sekolah.

Dari uraian teman, saya menyiapkan karton buffalo sebagai back ground dan list atau bingkai dari papan display yang tersedia. Di dalam kelas, semua ada 4 papan display. Tiga papan ukuran 240 sentimeter kali 120 sentimeter dan satu ukuran 240X60 sentimeter.
Dengan ketiadaan pengalaman dan cita rasa tentang warna, saya seharian memasangi papan display itu dengan warna yag beragam. Ada warna merah dengan list warna hitam. Warna kuning dengan list warna hitam. Warna coklat muda dengan list coklat tua. Dan pilihan warna-warna itu setelah melihat apa yang dipilih oleh teman pararel. Dan ketika sore hari, teman saya yang lain memberi komentar terhadap hasil kerja saya, yang membuat saya nyaris putus asa. Komentarnya: Agus, warna di kelasmu seperti warna mau pesta!

Komentar itu telah memberikan bukti kepada saya bahwa pengalaman mengajar sebelas tahun mengajar sebagai guru, seolah tidak memberikan kontribusi kepada saya pada hal kecil. Yaitu membuat display kelas. Saya malu pada diri sendiri. Tapi saya coba berpikir berbeda; Inilah sekolah baru saya, tempat saya belajar menjadi guru pada fase yang berbeda.

Mengapa saya memaknai sebagai fase berbeda? Karena saya ingin sekali untuk menjadi guru yang terus menerus memperbaiki koordinat berubah menuju kebaikan. Dan pengalaman membuat display itu adalah indikatornya. Karena saya bergerak dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada menuju ke ada.

Apakah pergerakan tidak ada menjadi ada itu sederhana? Dalam artikel ini sangat mungkin sederhana kelihatannya. Namun dalam praktek yang saya alami pada Juli 1996 yang lalu, hal itu merupakan pergulatan perasaan rendah diri, ketidakberdayaan, keputusasaan dan kepasrahan yang memeras integritas saya.

Namun optimisme untuk menjadi lebih baik sebagai semangat hijrah saya, telah menghantarkan saya untuk tidak mudah menyerah dan menyalahkan ketidakberdayaan kepada lingkungan sekitar. Dalam artikel ini pula saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman satu kolega yang ikut berkontribusi kepada usia saya di tahun-tahun itu.

Dari pengalaman saya yang mengalami gegar budaya ketika menjadi guru baru di sebuah lembaga yang bernama sekolah dengan paradigma yang tidak sama dengan apa yang saya dapatkan sebelumnya, akhirnya memberikan hikmah pada diri saya. Yaitu untuk membentangkan tangan selebar yang diinginkan kepada teman baru saya di tahun berikutnya.
Dimana saya sudah menginternalisasikan budaya yang ditahun sebelumnya baru bagi saya pada tahun berikutnya kepada teman baru saya. Tidak saja dalam bentuk orientasi kepada mereka yang menjadi guru baru. Tetapi juga dokumen yang dapat mereka jadikan pegangan. 

Hikmah itu menggarisbawahi bahwa pengalaman meraba-raba dan menduga-duga tentang budaya apa yang menjadi garis perjuangan di sebuah lembaga, yang pernah saya alami ketika menjadi guru baru, jangan berulang kembali kepada teman baru saya. 

Namun sering keterbukaan tangan saya menjadi tidak lebar lagi ketika menemukan teman baru saya yang tidak memiliki rasa kekurangan pada diri mereka.

Jakarta, 30 Maret 2010.

19 March 2010

Menjadi Guru yang Tidak Hanya Pengajar

Kalimat dari judul artikel ini, bukan suatu paradigma yang baru jika konteksnya hari ini. Namun ketika niat itu yang saya kemukakan pada saat interviu di sekitar bulan Maret tahun 1996, saya marasakan hal itu adalah suatu pendobrakan dari model, gaya dan budaya kerja yang mengakar sebagai seorang guru.
Sebuah pencerahan yang baru saya temukan bukan dari hingar bingar artikel di media, seminar atau obrolan. Itulah masa gersang yang saya alami sebagai bagian dari perjalanan menjalani profesi yang bernama guru.
Pencerahan dari pengalaman empiris yang sangat serta selalu menggelisahkan. Menjadi guru di sekolah swasta dengan siswa yang jumlahnya gemuk di setiap kelasnya. Membelajarkan siswa tidak lebih adalah memberikan penjelasan tentang materi pelajaran yang harus dikuasainya. Lalu memberikannya pekerjaan rumah kepada mereka. Dan di ujung penghabisan materi pelajaran, saya akan memberikannya kertas ulangan harian.
Kegiatan itu terus berulang hingga pada akhirnya kegelisahan menyeruak. Pikir saya: Kalau menjadi guru berkutat pada kegiatan berulang seperti ini, dan ini sudah menjadi sistem yang hidup di sebuah lembaga yang bernama sekolah, maka sulit bagi saya untuk mempu memberdayakan diri sebagai guru yang menjadi seorang manusia dengan bernilai lebih. Maka hijrah bagi diri saya menjadi pilihan yang baik.
Hijrah?
Ya. Saya memutasikan diri. Mencari sekolah yang memiliki sistem yang lebih baik bagi pengembangan siswa dan gurunya. Sekolah yang tidak hanya menjadikan kegiatan belajar hanya membuka dan membaca serta mengerjakan soal yang ada di buku teks. Belajar yang tidak sebatas menguasai meteri pelajaran. Sekolah yang memberikan tuntutan kepada gurunya untuk berbuat lebih banyak dan lebih luas lagi dalam menunaikan kewajibannya sebagai guru.
Dan ketika saya diminta untuk mengemukakan pertanyaan sebagai penutup dari acara wawancara, saya mengajukan dua pertanyaan yang menurut saya standar saja. Dan salah satu pertanyaan saya adalah: Apakah menjadi guru di sekolah ini nantinya hanya diminta untuk ceramah, memberi pekerjaan rumah kepada siswanya, membuat soal, memeriksa pekerjaan siswa, dan memberikan penilaian kepada hasil kerja siswa?
Pertanyaan ini tidak membuat pewawancara menertawakan saya pada waktu itu. Justru mereka memberikan jawaban yang semakin membuat saya bersemangat untuk bisa menjadi bagian dari guru di lembaga yang menjadikan kegiatan edukasi tidak sekedar mengejar ketuntasan kognisi.
Dan hingga hari ini, berjuang untuk menjadi guru yang tidak sekedar sebagai pengajar, masih menjadi perjuangan. Karena pada realitanya, masih ada sebagian dari masyarakat yang melihat bahwa hasil belajar adalah nilai angka yang ada di buku rapor siswa. Dan kalau di kelas akhir pada jenjang SD, SMP dan SMA, hasil itu dalam wujudnya yang bernama nilai Ujian Nasional Murni. Maka masih subur lahan bagi guru yang hanya merasa cukup sebagai pengajar.
Itulah lahan bagi saya, dan pastinya Anda, untuk mengajak semua guru yang ada di lembaga masing-masing untuk menjadi guru yang tidak hanya sebagai pengajar! Semoga.
Jakarta, 21 Maret 2010.

15 March 2010

Cita Rasa: Tidak Ada Ekskul


Inilah kisah saya yang lain tentang guru. Kisah ini sangat erat dengan apa yang pernah saya sampaikan dalam artikel sebelumnya yang berjudul Cita Rasa. Dalam Cita Rasa, saya menyampaikan bahwa kadang ada perbedaan standar (baca:cita rasa) antara kita dengan orang lain terhadap suatu hal yang sama. Halaman sekolah bagi kita bersih. Tetapi ketika pemilik sekolah atau pengawas sekolah datang, ia meminta para pramubakti untuk melakukan pembersihan. Peristiwa seperti ini sangat mungkin terjadi karena kita memiliki latar dan pengalaman yang berbeda dalam melihat sesuatu. Dan perbedaan ini jika masuk dalam ranah kualitas (bukan kuantitas), maka itulah yang saya maksud dengan cita rasa.

Sama halnya jika sesuatu yang saya maksud adalah tentang bagaimana mengawasi siswa. Dalam hal ini siswa di luar kelas intra kurikuler kita. Katakanlah saat ekskul. Karena inilah pengalaman yang akan saya sampaikan. Mengajar ekstra kurikuler Sepak Bola.

Ekskul ini menjadi pilihan saya karena dengan demikian saya dapat berolah raga (baca: lari) sambil mengajar dan menemani siswa bermain sepak bola. Meski sepekan sekali, cukuplah bagi saya untuk membuat mata berkunang-kunang saat membawa lari bola dan dikejar siswa kelas 5-6 SD yang menjadi tim lawan saat latih tanding.

Tapi bukan saat bermain bola yang saya ingin sampaikan. Namun justru saat ekskul tidak dapat dilaksanakan karena sore itu hujan begitu lebat. Hujan turun begitu klami selesai melakukan pemanasan di lapangan rumput yang ada di sisi bangunan kantin sekolah. Tak sempat saya dan teman membuat dan mempersiapkan program pengganti untuk menghabiskan waktu 45 menit berikutnya. Menonton vedio di AV Room? Sudah keduluan orang lain dengan serombongan siswa yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam kebingungan itu, saya meminta siswa untuk duduk menunggu hujan di pendopo TK yang terletak di arah sebelah timur kantin. Setelah diskusi dengan teman, saya berupaya mengambil alat bermain yang ada di store room bawah tangga sekolah. Sebelum alat yang kami inginkan ketemu, saya tergoda untuk melaksakan Shalat Ashar. Suatu niat baik. Tapi tidak dengan skala prioritas yang benar. Dan ketika saya kembali ke pendopo, waktu ekskul telah usai. Alat permainan gagal kami gunakan. Kami memulangkan siswa.

Esok harimya, kawan saya mengajak saya berdiskusi di salah satu ruang kelas. Dia menyampaikan protes kepada saya dengan apa yang saya perbuat kemarin sore. Dia protes mengapa begitu lama mengambil alat mainan. Dan ketika saya sampaikan bahwa kemarin saya melaksanakan Shalat lebih dulu, dia mengutarakan kekecewaannya dengan kelimat yang lebih kurang begini: Agus, kemarin saat kelas Sepak Bola adalah tanggung jawab kita bersama. Tetapi dengan alasan untuk mengambil alat bermain kamu tinggalkan saya sendirian mengawasi siswa ekskul Sepak Bola yang berjumlah 30. Kalau terjadi apa-apa dengan salah satu dari siswa itu karena saya hanya sendirian mengawasi mereka, maka kita berdua akan kehilangan pekerjaan sebagai guru...

Kalimatnya itu, telah memberikan pengajaran kepada saya tentang makna pengawasan terhadap siswa yang menjadi tanggungjawab kita. Sejak itu, saya memahami sekali bahwa menjadi guru, tidak hanya berhenti ketika kami menunaikan kewajiban mengajar sesuai jadwal pelajaran yang dibuat oleh Kepala Sekolah. Tetapi juga tuntas dalam memberikan pengawasan kepada siswa selama berada di sekolah. (Terima kasih Mick!).

Menurut saya, cita rasa mengawasi siswa agar selalu aman dan dalam lingkungan edukasi pada perkembangan pendidikan sekarang ini, harus menjadi bagian integral dan sistemik, dari ikhtiar seorang pendidik. Karena selain keamanan fisiknya, siswa juga akan lebih terawasi dan pada akhirnya terhindar, dari praktek hubungan senioritas yang sekarang ini lebih dikenal dengan istilah bullying. Semoga!
Jakarta (Slipi Palmerah), 1996/1997-15 Maret 2010.

09 March 2010

Belajar Teori Berlalu Lintas

Etika berlalu lintas akan disiapkan dalam program pendidikan di sekolah. Demikian kalimat yang tertulis dalam berita di Koran Tempo, Selasa tanggal 9 Maret 2010. Program ini akan dimulai pada tahun pelajaran 2010/2011.


Jika yang dipelajari tentang rambu-rambu lalu lintas, maka sesungguhnya ini pernah dan ada dalam pelajaran yang saya sampaikan sewaktu saya mengajar di kelas 1 sekolah dasar pada tahun 1985-1990-an. Bahkan, hingga kini, siswa di tingkat Pra Sekolah atau taman kanak-kanak sudah mengenal rambu-rambu itu. Sebagian sekolah memiliki alat peraganya.

Pertanyannya; apakah hanya seperti itu yang dimaksudkan dengan belajar etika berlalu lintas sebagaimana isi nota kesepahaman antara Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh dengan Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri? Saya belum tahu.

Namun berikut saya akan mengutarakan apa yang sesungguhnya sedang terjadi dengan etika itu. Kita semua menyadari bahwa para pengendara di jalan raya adalah anak bangsa yang sebelumnya mengenyam sedikit banyak pendidikan di Indonesia. Maka ketika mereka sedang mengerjakan soal ulangan: Jika lampu lalu lintas menyala merah maka kendaraan harus?

Soal ulangan tersebut memang tergolong soal ulangan ranah kognitif pada aspek ingatan. Dengan tingkat kesulitan soal yang tergolong rendah. Oleh karenanya soal itu akan dijawab dengan sangat baik oleh seluruh anak didik. Dan soal ini hanya mengukur pengetahuan peserta didik. Soal ini belum mengukur sejauhmana peserta didik dapat beretika di jalan raya.

Dan ketika si peserta didik tersebut sekarang ini menginjak dewasa dan telah mengendarai kendaraan, maka jika di perempatan jalan lampu lalu lintas menyala merah, sangat boleh jadi pengendara akan melakukan beberapa alternatif.

Alternatif satu; Ia akan berhenti. Karena ia tahu sebelum lampu itu menyala merah akan terlebih dahulu didahului lampu kuning yang menyala. Alternatif dua; Dengan alas an terburu-buru untuk lekas sampai tujuan, dan dilihatnya tidak ada petugas, maka begitu lampu kuning berganti dengan lampu merah, ia segera memcu kendaraannya.

Alternatif satu atau dua, adalah sebuah kenyataan yang ada di setiap rambu lalu lintas. Dan semakin ‘pelosok’ keberadaan lampu lalu lintas tersebut, makin banyak pula yang memilih alternatif kedua dari pada alternatif pertama. Juga jangan hanya dilihat dari jenis kendaraannya. Jenis kendaraan yang bagus dan super mahal sekalipun, masih sering kita temui yang memilih alternatif dua.

Dari sekelumit cerita itu, saya mengajak kita semua berpikir: bahwa beretika dalam berlalu lintas tersebut sangat berimplikasi kepada keselamatan kita di jalan. Jadi bukan hanya karena petugas dan tilang. Jangan sampai karena keyakinan kita yang kedua ini menginspirasi pihak berkompeten untuk membuat patung petugas disetiap perempatan jalan seperti yang sudah ada di wilayah Jawa Tengah.

Jakarta, 9 Maret 2010.

08 March 2010

Belajar Menerima Kritik dan Masukan

Sebagai pegawai yang memiliki tugas selayaknya penjaga gawang di sebuah lembaga swasta bidang pendidikan, maka menerima kritik dan masukan dari manapun pernah saya terima. Apakah kritik dan masukan dari pihak orangtua siswa atau rekan guru atau juga teman sejawat yang kebetulan menjadi sesama penjaga gawang di lembaga swasta lain.

Orang menyampaikan kritik atau saran atau memberikan masukan biasanya karena yang bersangkutan memilki kaitan emosi atau kaitan interaksi dengan kita. Dan keterkaitan emosi dan interaksi tersebutlah yang mendorongnya untuk menyampaikan pandangan mereka tersebut.
Tidak semua kritik dan masukan bertujuan negatif pada diri atau lembaga kita. Kadang justru sebaliknya. Dengan kritik dan masukan itu disampaikan demi kesempurnaan kita dalam menjalani pertumbuhan. Namun ada juga kritik atau masukan yang menjebak, menghina atau bahkan bermaksud menjatuhkan. Ranah terakhir ini, saya tidak akan membicarakannya.

Ada beberapa kritik dan masukan yang disampaikan dengan data informasi yang amat gamblangnya sehingga membuat saya sendiri terhenyak atas fakta yang ada. Tetapi ada pula kritik dan masukan yang setelah kita eksplor ternyata mengambil data dan fakta yang kurang valid atau pernah juga data atau fakta yang telah kedaluwarsa.

Ada pula kritik dan masukan yang memang berharga untuk kita ambil sebagai bahan bagi memperkaya atau memantapkan pada masa tumbuh. Baik kritikan atau masukan untuk diri saya pribadi maupun bagi lembaga dimana saya adalah penjaga gawangnya.

Pernah dalam sebuah pertemuan dengan orangtua siswa di awal saya bertugas di sekolah ini; Agar jika Bapak atau Ibu yang memiliki masukan atau kritik kepada kami, kata saya, agar tidak sungkan-sungkan untuk menyampaikannya kepada kami. Karena kami meyakini itu akan membantu pertumbuhan kami secara sehat dan kuat serta kokoh. Dan himbauan ini nampaknya mujarab. Karena beberapa saat kemudian kritik dan masukan dari pihak orangtua deras mengalir kepada kami. Ada yang langsung disampaikan kepada saya. Ada yang melalui kepala sekolah. Atau juga ada yang menyampaikan kepada bagian admission.
Dan situasi seperti ini menimbulkan rasa khawatir dari sebagian teman. Khawatir keterbukaan yang ada menjadi ternganga tanpa dapat dijaga. Tapi saya selalu meyakinkan bahwa dalam ranah tertentu kita harus terbuka selebar-kebarnya. Namun pada ranah yang lain akan tetap menjadi otoritas kita.

Dan disinilah saya melihat bahwa untuk menerima kritik dan masukan tampaknya kami masih memerlukan banyak belajar. Yaitu belajar untuk tetap berwajah yang menyiratkan kecerahan. Karena kadang atau sering ketika kritik dan masukan datang pada kita, maka tampang defensif yang selalu akan lahir dan meloncat dari raut wajah.

Belajar menerima kritik dan masukan memang butuh latihan. Untuk kali pertama menerima kritik dan masukan, mungkin emosi kita langsung meloncat keluar. Maka kritikan dan masukan ketiga, kelima atau mungkin hingga kesepuluh sikap dan perilaku kita sudah dapat dengan baik kita kontrol.

Dan memang, dalam pelatihan, praktek secara riil, yang saya coba lakukan sendiri beberapa tahun belakangan ini akhirnya membersitkan kesimpulan sementara saya bahwa untuk tidak pernah memberikan alasan apapun terhadap kritik dan masukan yang disampaikan. Semua dsaya terima dengan sepenuh dan setulus hati. Jika pun ada argumentasi yang akan saya kemukakan, msaka itupun atas persetujuan orang yang sedang menyampaikan kritik dan masukan kepada saya.

Allahua'alam.

Jakarta, 8 Maret 2010

Pemilik Angkot

Hal yang biasa jika saya bisa ngobrol dengan tetangga dimana saya tinggal. Tetapi yang menjadi tidak biasa adalah ketika tetangga tersebut memberikan beberapa informasi berkenaan dengan per-angkotan-nya yang dia miliki dan kebetulan saat saya mengajaknya mengobrol, angkot tersebut sedang direparasi total. Reparasi secara mandiri. Dan saat saya menemani tetangga itu bekerja, ia sedang memberikan sentuhan terakhirnya kepada angkotnya itu.

Dia menceritakan betapa beratnya 'memelihara' angkot di Ibu Kota. Angkot jurusan Kebon Jeruk-Tanah Abang, yang awalnya dia miliki pada lima tahun lalu dengan harga pembelian seratus juta rupiah. Angkot itu telah memberikan kontribusinya kepada dia dan keluarga dalam mengarungi hidup di Jakarta.

Namun dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, kontribusi yang diawalnya dulu lumayan besar semakin hari semakin tipis. Bahkan untuk menghidupi dirinya sendiri, angkot itu harus megap-megap. Industri angkutan umum di Jakarta pada umumnya, dan khususnya untuk jurusan Kebun Jeruk-Tanah Abang, terpuruk tidak terkirakan.

Pengguna angkutannya semakin hari semakin menurun. Sementara ongkos perawatan justru kebalikannya. Demikian pula dengan uang setoran dari para supirnya. Jarang ia menerima uang setoran secara tetap dan ajeg untuk setiap harinya. Ia sebagai pemilik angkot, tidak mungkin memprotes para penumpangnya yang sekarang sudah banyak yang beralih ke sepeda motor. Maka hari-harinya bersama angkotnya itu adalah sebentuk kesedihan dan kekuatan untuk bertahan.

Uang setoran tidak lagi dapat menjadi agunan bagi kehidupannya sehari-hari. Apalagi untuk membayar uang sekolah putranya di sebuah SMK Swasta. Melepas angkot untuk dilego? Juga tidak mungkin ia rela melakukannya. Perasaan untuk tidak mau rugi lebih besar lagi, memberinya kekuatan untuk terus bertahan dan mempertahankannya. Karena begitu angkot itu dia lepas, maka tidak akan ada lagi pegangan yang menemaninya dalam melakukan ikhtiar hidup selain menjadi montir panggilan.

Maka angkotnya, tak ubahnya adalah harga dirinya sebagai laki-laki. Sebagai kepala rumah tangga. Bahwa ia masih eksis dengan pekerjaannya sebagai pemilik dan pengelola angkot.

Jakarta, Senin, 8 Maret 2010.

07 March 2010

Kepel

Inilah buah kepel yang kebetulan tumbuh dan menjadi besar di halaman rumah orangtua saya di Wojo, Dadirejo, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah.


Foto ini saya ambil pada hari Sabtu tanggal 30 Januari 2010. Bersamaan saya menjenguk anak di Yogyakarta.

Musim buah kali ini merupakan yang paling lebat sejak pohon itu mulai berbuah. Dan saya pesan sekali dengan keluarga yang ada di Wojo untuk memberitahukan bila buah tersebut masak. Saya ingin anak dan istri mencoba buah yang sangat jarang ditemukan ini.


Mengapa saya sangat berkeinginan agar anak dan istri dapat merasakan kenikmatan buah ini? Karena terlalu sulit memberikan gambaran tentang buah ini. Sering saya memperbandingkannya dengan buah kecapai. Tetapi perbandingan ini hanya pas pada model buahnya. Yaitu kulit dan cara makannya. Dimana daging buah yang harus dimakan ada pada diantara biji yang ada di dalamnya. Tetapi soal rasa sangat berbeda.

Nah, Sabtu tanggal 6 Maret 2010, saat saya ada pertemuan di Al Ikhlas Cipete, Cilandak, Jakarta Selatan, ada kabar bahwa buah ini telah matang. Tandanya? Ketika kuku tangan kita goreskan pada kulit buah yang berwarna cokelat, maka kulit ari tersebut akan tergores dengan meninggalkan warna kuning.

Benar saja. Pada Ahad, 7 Maret 2010, buah itu telah sampai di rumah. Dan ketika istri saya mencoba buah ini. Ada sensasi yang baru pertama kali dirasakannya!

Inilah bagian dalam dari buah itu. Bagaimana seperti yang saya gambarkan sebelumnya. Dari bijinya, tumbuhan baru tumbuh. Dan itu telah saya coba untuk sebarkan kepada teman-teman. Di sekolah pun, saya telah menanamnya. Mungkin tahun 2020, pohon itu sedah mulai berbuah. Tahun dimana saya pensiun sebagai karyawan tetap menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Jakarta, 7 Maret 2010.


02 March 2010

Teladan atau Telatan?


Ini adalah ungkapan yang saya dengar dari Bapak Drs. Kamsul Abraha, Ph.D. dari UGM, yang bertemu saat mengisi sebuah seminar pendidikan di Sekolah Islam Terpadu Al Furqon, Palembang, pada Sabtu, 27 Februari 2010 lalu. Dua kata yang bermakna saling bertolak belakang.

Hal ini berkaitan dengan apa yang saya sampaikan sebelumnya bahwa seorang guru hanya mampu berperan sebagai pembina moral atau perilaku baik di kelas bilamana guru tersebut mampu dan tuntas melakukan tiga (3) peran utamanya sebagaimana yang Thomas Lickona sebutkan (Lickona.1992.Educating for Charakter). Ketiga peran itu adalah: (1). Guru sebagai pengajar atau ethical mentor; (2). Guru sebagai pendidik atau caregiver; dan (3). Guru sebagai teladan atau model.

Nah, pas menyebutkan fungsi guru yang selain mengajar adalah juga teladan, Pak Kamsul memperbandingkan kata teladan dengan telatan. Telatan berasal dari kata telat (kata serapan dari Bahasa Jawa) yang berarti terlambat (termasuk terlambat sampai di kantor).

Teladan VS Telatan

Untuk pemaknaan dari fungsi guru sebagai teladan dan bukan telatan, tampaknya kita yang berlatar belakang sebagai guru di sekolah memiliki cita rasa yang sama. Terutama kata teladan. Dimana semua hal yang berkait dengan apa yang guru lakukan, maka akan menjadi acuan perilaku bagi siswa. Dan semakin muda usia siswa, maka semakin giat pula pemodelan yang dilakukan siswa.

Berat? Inilah salah satu resiko atau konsekuensi sebagai guru. Tetapi saya justru melihatnya sebagai sesuatu yang positif. Betapa tidak? Jika guru melakukan sesuatu yang tidak sesuai norma, maka bukankah siswa akan menjadi korektor. Yang tidak sungkan-sungkan akan memberikan sinyal kepada kita tentang apa yang semestinya terjadi? Siswa menjadi semacam cermin yang jujur. Dan bukankah hal ini menjadikan diri kita semakin hari menjadi semakin lebih baik? Dan jika demikian maka bukankah ini persis sama dengan apa yang Rasulullah kabarkan bahwa hidup harus berarti pula untuk memperbaiki akhlak?

Bagaimana dengan telatan? Guru yang telatan ini juga adalah guru yang sedang memberikan teladan tidak baik. Apakah itu telat datang di pagi hari atau telat datang saat jam belajarnya di kelas.

Biasanya, guru yang telatan akan memiliki satu bab agumentasi yang berisi kalimat permohonan maaf kepada atasan atau juga kepada teman yang menganntikannya di kelas. Misalnya saja telat karena alasan macet. Telat karena busnya mogok. Telat karena adanya kecelakaan di jalan raya yang dilaluinya. Telat karena ban sepeda motornya terkena ranjau paku atau kempes. Telat karena anaknya sakit. Karena banyak alasannya, maka saya katakan guru telatan itu punya satu bab!

Sama esensinya dengan tulisan saya sebelumnya tentang; Rasa Khawatirnya Telah Sirna, bahwa seseorang akan datang dan sampai di kantor akan telat-pun sebagian besarnya sangat dapat diprediksi. Karena begitu mudahnya diprediksi maka saya sendiri juga sudah tahu apakah saya akan telat datang di sekolah atau di kantor begitu saya melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah saya.

Bagaimana dengan Anda?

Palembang, 27 Februari-Jakarta, 2 Maret 2010.

25 February 2010

Rasa Khawatirannya Telah Sirna

Begitulah bunyi SMS teman saya saat mengomentari pesan saya agar kita, guru dan manajemen di sekolah lebih meningkatkan pengawasan kepada siswa di sekolah. Tidak saja saat siswa berada di dalam kelas ketika belajar bersama guru, tetapi juga saat istirahat dan setelah jam pulang sekolah dan sembari menunggu jemputan.

SMS ini bermula saat saya me-reply berita dari teman berkenaan dengan musibah yang menimpa siswa di sebuah sekolah setelah jam sekolah usai (http://www.detik.com/.24Februari2010). Diberitakan bahwa siswa bermain bola saat menunggu dijemput. Sangat dimungkinkan bahwa ketika siswa bermain tanpa pengawasan guru. Meski itu memang telah usai jam sekolah.

Dalam konteks yang berbeda, teman saya yang mengirim SMS tersebut juga pernah melihat siswa yang ada di sekolahnya bermain sepak bola pada tempat yang tidak semestinya. Dan karena dia pikir hal itu dapat mengundang bahaya kepada si siswa, maka ia menghentikan permainan tersebut. Anehnya, di lokasi yang sama ia menemukan temannya yang juga guru hanya terdiam ketika melihat para siswanya bermain bola. Maka ungkapan bahwa guru tersebut telah sirna rasa kekhawatirannya, adalah ungkapan kata yang pas menurut saya.

SMS teman dengan kalimat yang saya buat judul pada artikel ini adalah sebuah sindiran yang satiris. Mengejek. Menghina. Karena kita yang dalam posisi seperti itu tidak memiliki prediksi akan adanya potensi bahaya yang sangat mungkin timbul terhadap apa yang siswa lakukan. Dan ejekan serta hinaan ini dalam perspektif saya, tidak lain adalah untuk mengingatkan akal kita agar supaya ia (baca: akal) ikut terlibat untuk lahirnya sebuah rasa kasih sayang dan rasa khawatir.

Atas kejadian tersebut, saya juga akan mengaitkan dengan pengalaman yang lain lagi. Yaitu yang berkenaan dengan komplain dari anggota komunitas sekolah terhadap unsur lain yang ada dalam komunitas yang sama. Kejadian seperti ini hampir pasti ada di setiap lembaga.

Yaitu guru komplain terhadap anggota Satpam yang kurang betul saat melaksanakan suatu tugas. Sayangnya, temuan ketidakbenaran tersebut tidak disampaikan dalam kerangka problem solving. Tetapi lebih kepada ejekan. Karena Satpam di lembaganya adalah Satpam dari lembaga lain yang kebetulan bekerjasama dengan sekolahnya.

Maka saya berkomentar melalui e-mail seperti ini: Saya juga ingin sekali menggugah ingatan kita semua, berkenaan dengan per-Satpam-an, bahwa peran user (baca: komunitas sekolah) sangat penting sekali dalam memberikan masukan untuk perbaikan terhadap Satpam. Tetapi harap juga dilihat bahwa masukan tersebut harus dalam dalam bentuk atau kerangka problem solving, dimana ketika ada sekecil apapun masukan, tolong disampaikan kepada yang berkompeten, berarti penanggungjawab Satpam, dan sebisa mungkin saat itu juga. Jangan ditunda dan akan menumpuk. Demikian tulis saya dalam e-mail untuk seorang teman yang sedang dirundung malasah per-Satpam-an.

Dan saya melanjutkan tulisan saya tersebut:
Saya mengibaratkan hal tersebut dalam kerangka interaksi antara guru dan siswanya di kelas. Ketika sesuatu yg tidak diinginkan terjadi, tetapi kebetulan itu adalah siswa dari unit lain, misalnya, guru TK melihat kejadian di siswa SD. Maka bentuk CARE kita terhadap sesuatu yang terjadi tersebut bisa diimplementasikan dengan cara:

1. Menegur langsung siswa yang bersangkutan. Untuk kemudian memberitahukan kepada kepala unit dimana siswa itu berada, untuk menjadi laporan dan untuk penindakan selanjutnya. Atau,
2. Kita mencari tahu nama anak yang bersangkutan, mengingat detil kejadiannya, lalu melaporkan kepada kepala unit dimana siswa itu berada untuk menjadi laporan dan penindakan selanjutnya.

Dan tulisan itu saya akhiri dengan kesimpulan:
Jika pilihan 1 yang Anda lakukan, maka Anda telah menjadi guru yang memilki rasa sebaik-baik CARE. Jika pilihan 2 yang Anda lakukan, maka Anda telah menjadi guru yang memilki rasa lumayan CARE. Dan jika tidak ada pilihan yang Anda lakukan, maka Anda telah menjadi guru yang belum CARE.
Saya hanya ingin mengingatkan kita semua bahwa menjaga siswa selama yang bersangkutan berada di sekolah, adalah tugas utama kita sebagai pendidik. Yaitu guru yang tidak sekedar mengajar di dalam kelas!

Jakarta, 25 Februari 2010

16 February 2010

UN, Mununtut Kejujuran

Rabu, 10 Februari 2010, salah seorang Kepala Sekolah di tempat saya bekerja melaporkan beberapa hasil rapat dinasnya dengan pihak Dinas Pendidikan pada Senin, 8 Februari 2010 tentang pengarahan Ujian Nasional/Ujian Akhir Sekolah.

Seperti ada setiap rapat dinas sebelumnya yang digelar oleh dinas, isinya ya pidato tuntutan para pejabat yang dalam bentuk pengarahan. Dan ketika temanya tentang UN, maka tidak ada bentuk pengarahan lain yang keluar dari para pejabat tersebut selain; harus sukses UN. Ranking UN wilayah harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika tahun pelajaran lalu sudah berada di ranking 2 se-Provinsi, misalnya, maka bagaimana menjadi peringkat satu di tahun pelajaran sekarang.

Laporan Kepala Sekolah itu membangkitkan ingatan saya tentang apa yang pernah saya tulis bahwa, pejabat hanya peduli hasil dan tanpa berempati kepada proses. (Pak Mendiknas, Siapa yang Peduli Proses?, KOMPAS, Senin, 17 Mei 2004 dan juga UN, Belajar, dan Kualitas Pendidikan. Kompas, Senin, 7 Februari 2006).

Artinya, sebagai pejabat, ia akan memberikan tuntutan tentang hasil UN, jika perlu dengan ancaman pemutasian, tanpa ikut terlibat diskusi pada bagaimana memperoleh hasil UN terbaik dan optimal dengan selalu berprinsip kepada kejujuran.

Mengacu pada Permen
Dalam Peraturan Meteri Pendidikan Nasional No 74 tahun 2009 tentang UN SMP/MTs dan sederajat, pasal 3; Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk; ( butir d disebutkan) : Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

Apa yang yang tercantum dalam Peraturan Mendiknas tersebut adalah panduan bagi para Pengawas Pendidikan atau institusinya yang berada di atas institusi satuan pendidikan, untuk terus menerus memantau (baca: melakukan pembinaan dan pemberian bantuan) kepada satuan pendidikan yang memerlukan di daerahnya masing-masing. Tentu berdasarkan hasil UN/UASBN tahun sebelumnya. Artinya? Tuntutan untuk hasil UN 100 % dan peningkatan ranking daerah, harus diimbangi dengan pemberian pembinaan dan pemberian bantuan pada satuan pendidikan yang membutuhkan.

Hal ini sangat perlu diingatkan supaya masing-masing kita mengambil bagian tugasnya masing-masing sejak dari hulu, baik pada tataran tuntutan maupun pada tataran proses pencapaiannya. Atau sejak UN masih dalam persiapan. Menuntut hasil dengan tanpa memberikan pembinaan dan pemberian bantuan, hanya akan menjerumuskan praktek UN yang tidak menjamin kejujuran.

Untuk itulah, ketika UN masih berada beberapa pekan di depan, saatnya kita semua melipat gandakan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan yang menjadi wilayah kerja kita masing-masing.

Dan saya sebagai bagian yang berkepentingan di satuan pendidikan, harus juga melibatkan diri dalam proses persiapan tersebut.

Jakarta, 11-16/2/2010.

12 February 2010

Pekerja VS Pemilik Lembaga

Saya memiliki beberapa teman kenalan. Karena saya sendiri dari awal berkarir hingga kini tetap di dunia pendidikan, maka tentunya banyak teman-teman dan kenalan yang berasal dari dunia pendidikan pula. Ya, kami semua guru. Walau ada diantara kami yang tetap guru di kelas, adajuga yang kepala sekolah, atau pengelola sekolah. Namun saat bertemu dan berkumpul, kami tetaplah bangga pada keguruan kami. Sebuah profesi yang tidak akan selalu flat saat menjalaninya.


Ada satu tambahan keterangan lagi tentang komunitas kami ini. Kami adalah para pendidik yang mengejawantahkan pikiran dan tenaga kami di lembaga pendidikan swasta. Dan oleh karenanya, kami adalah pekerja yang menunaikan visi serta misi mulianya para pemilik lembaga dimana kami berada sebagai pekerja.


Pekerja dan Pemilik


Dalam hal ini, bukan maksud kami mendekotomikan dua kelompok tersebut. Tetapi keberadaan dari dua kelompok itulah yang sering menjadi batu sandungan kami di lapangan. Terutama ketika kami adalah orang yang diamanahkan untuk menjadi kepala sekolah atau pengelola lembaga itu. Meski posisi kami adalah kepala sekolah atau pengelola sekolah sekalipun, kami adalah tetap sebagai pekerja yang wajib menjunjung tinggi adab sopan santun kepada pemilik selain , tentu saja, kepada seluruh komunitas lainnya di sekolah.


Adab sopan-santun yang saya maksudkan adalah menjaga diri agar, meski kamilah yang menguasai lapangan, tetap menghargai apa yang menjadi pemikiran pemilik. Kami harus mengukur diri untuk tidak merasa sombong bahwa kamilah yang lebih beerjasa atas eksistensi lembaga kami dibandingkan pemilik atau pendiri lembaga. Sebagai contoh konkritnya misalnya, ada salah satu keluarga pemilik lembaga yang berkeinginan untuk menyekolahkan putera atau puterinya di sekolah kami. Maka prosedur pertamanya adalah ikut serta dalam penerimaan siswa baru (PSB) di sekolah. Tetapi saat akan diputuskan untuk diterima atau tidak, kepada yang bersangkutan harus diberikan bantuan untuk menjadi diterima karena ada kekurangan saat bersaing dengan calon siswa lain..


Diantara teman-teman ada yang mengusulkan agar kita tetap teguh memegang pendirian untuk memilih calon siswa yang benar-benar tersaring secara normal dengan tanpa memberikan bantuan sedikitpun. Itu artinya kita menisbikan titipan. Ini mengusik nurani saya kepada pemilik yang telah menyampaikan titipan. Lalu saya sampaikan pendapat saya kepada teman agar perlunya kita menjaga adab kesopanan tersebut dengan cara menerimanya sepanjang calon siswa tersebut adalah siswa standar, meski kita memberikan bantuan.


Namun ketika teman mamaksa saya untuk hanya menggunakan argumentasinya, maka saya, dalam rangka menunjukkan adab sopan santun tersebut, mengajak teman untuk berpikir rasional dan riil. Bagaimana keputusan kita bila calon siswa itu adalah putera atau puteri dari
kita sendiri? Akankah kita tetap menggunakan kriteria pada umumnya tanpa memberikan bantuan sedikitpun jika ternyata putera-puteri kita itu memerlukan bantuan dari kita?


Dari sisi inilah kadang kita, sebagai karyawan, sering bersikap kurang menjunjung adab sopan santun. Dan ini muncul mungkin, karena anggapan bahwa para pendiri lembaga itu tidak cukup berjasa dalam membesarkan lembaganya. Inilah yang kadang memunculkan perebutan konsesi antara pihak operasional dengan pihak pemilik lembaga.

Dan inilah yang saya maksudkan dengan adab sopan santun. Dan pada sisi lain kadang juga melahirkan sikap yang kurang hormat dari kita. Ini memang murni dari sikap saya. Karena bagiu saya, jika saya sudah tidak cocok dalam pengembanan dari visi dan misi pemilik, lembaga maka resign akan menjadi pilihan saya. Bagaimana dengan Anda?


Allahu a'lam bi Shawab.


Selesai di Jakarta, 13 Februari 2010.

04 February 2010

Berhasil di Ujian Nasional, Siapa Takut?

Ada beberapa tanggapan terhadap apa yang ditulis oleh anak saya berkenaan dengan UN yang pernah dijalaninya pada tahun 2009 lalu. Dimana dalam tulisannya tersebut, anak saya bernada mempertanyakan kebermanfaatan UN dengan keberhasilan seseorang. Dia menilai bahwa jika ukurannya adalah mendapat pekerjaan, maka UN sepertinya belum memberikan jaminan. Kalau demikian mengapa siswa dikejar-kejar hanya untuk berhasil UN? Begitulah ringkasan yang dapat saya sampaikan disini.

Tentang Ujian Nasional, UN atau apapun namanya yang ada di Indonesia ini saya sendiri selalu menyuarakannya dalam bentuk tulisan. Yaitu:
1. Pak Mendiknas, Siapa yang Peduli Proses? KOMPAS, Senin, 17 Mei 2004
2. UAN dan Otonomi, Harian PELITA, Selasa, 23 November 2004.
3. UN, Belajar, dan Kualitas Pendidikan (Mendiknas Tak Perlu Baca Artikel Ini), KOMPAS, Senin, 7 Februari 2005
4. Ujian Nasional, Harian PELITA, Selasa, 8 Februari 2005.
5. Lulus Ujian Nasional, Harian PELITA, Selasa, 12 Juli 2005.
6. Peningkaan Mutu (Pendidikan) Berbasis UN, Harian PELITA, Selasa, 24 Januari 2006.
7. Harap Tenang, Ada Ujian. Harian PELITA, Selasa, 23 Mei 2006.
8. UN 2006 dan Implikasinya, Harian PELITA, Selasa, 4 Juli 2006.

Pada prinsipnya ada 4 (empat) hal pokok yang selalu saya sampaikan berkenaan dengan Ujian Nasional yang ada di Negara kita tercinta ini. Empat hal tersebut adalah sebagai berikut: Pertama; Bagi kita sebagai sekolah atau masyarakat yang ada di NKRI, maka ujian akhir (nasional) adalah penting. Dan ini menjadi kenyataan yang hidup di dalam masyarakat. Dengan apapun yang menjadi argumentasinya. 

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 75 tahun 2009 tentang UN SMP/Mts dan sederajat untuk tahun pelajaran 2009/2010, diuraikan dalam pasal 3 bahwa; Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: (a). Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; (b). seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (c). Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (d). Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Dua hal dari empat makna UN bagi siswa sebagaimana yang dimaksud dalam Permendiknas di atas adalah menjadi bagian dari syarat kelulusan dan sebagai syarat masuk ke jenjang SMP dan SMA. 

Dengan itulah, maka UN adalah hal yang utama. Tapi saya ingin sekali mengajak kita semua untuk melihat dengan lebih holistik. Yaitu bahwa hasil UN bukan merupakan satu-satunya dari hasil pendidikan. Karena soal UN tidak mengujikan bagaimana siswa mandiri, percaya diri, berani, menghormati sesama, toleransi, atau karakter positif lainnya dalam bentuk operasional. Dengan demikian maka, sekolah jangan terjebak dalam arus utama hanya mengejar sukses UN titik. Sekolah harus mengembangkan seluruh potensi siswa baik dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. 

Kedua; Ketika UN dilaksanakan hanya menggunakan bentuk soal PG, dan dengan kualifikasi soal yang hanya mengujikan aspek mengingat, memahami, mengaplikasi serta sedikit aspek menganalisa dalam Taksonomi Bloom, maka itu masih masuk dalam kognitif dangkal. Kita tidak sedang menguji kemampuan siswa untuk memiliki kemampuan analisa, evaluasi dan mencipta sesuatu yang baru dari pembelajaran yang selama ini di dalam kelas mereka. Generasi model apa yang sesungguhnya kita harapkan jika siswa hanya dituntut untuk mengingat, memahami, dan mengaplikasi saja?

Padahal harus kita sadari bersama bahwa cara kita mengevaluasi akan memandu siswa kita untuk bagaimana belajar. Dan cara evaluasi kita dengan model UN selama ini telah menyuburkan model belajar Bimbel (bimbingan belajar).
Ketiga; Komitmen kita untuk sukses UN hanya pada hasil akhirnya saja yang berupa nilai (baca:angka). Hanya pada hasilnya. Ini kultur pejabat kita. Baik yang memegang otoritas wilayah, dinas, pengawas sekolah hingga satuan pendidikan paling primer. Proses pencapaiannya? Nyaris dilupakan. Apa yang terjadi? Akibatnya, tidak ada kontrol pejabat terhadap proses belajar di kelas. Guru dan sekolah tidak ‘ditemani’ dalam melaksanakan strategi proses belajar di lapangan. Pengawas sekolah datang ke sekolah cukup sampai di ruang KS?

Akibat berikutnya? Keberhasilan UN digenjot justru selain diproses persiapannya juga di pelaksanaannya. Di sini kejujuran kadang menjadi sangat mahal. Akibat berikutnya lagi? Sistem kebut semalam! Padahal 6 bulan sebelum UN berangsung, pemerintah sudah mengeluarkan ada standar kelulusan, SKL. 

Apa urgensinya SKL dengan UN? SKL adalah peta perjalanan untuk menempuh atau menuju UN yang berhasil. Karena dari SKL inilah kita dipandu untuk menguasai apa yang menjadi ekspektasi BSNP tentang kompetensi yang harus kita punya dan sekaligus kita bisa memprediksi dan tahu soal macam apa yang akan keluar di UN nantinya. Jadi? SKL bukanlah peta buta untuk keberhasilan siswa kita menempuh UN. (Berikut saya lampirkan lembar self assessment SKL SMP).

Keempat; Dengan model berpikir dan berperilaku: Yang penting hasil tanpa berkeringat dalam prosesnya sebagaimana uraian saya tersebut, kesimpulan saya tentang UN adalah; bahwa UN bentuk konkrit dari model atau prototipe dari budaya kerja kita. Yaitu budaya instan. Budaya pragmatisme! Budaya untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan ikhtiar yang secukupnya?

Untuk itulah saya ingin meneriakkan tekad saya bahwa: untuk melaksanakan dan berhasil di Ujian Nasional, siapa takut?

Jakarta, 4 Februari 2010.

01 February 2010

Saya Sadar, Kalau Sudah di Zona Mapan

Benar, saya sedang belajar untuk menangkap sinyal dari alam semesta yang bijaksana, apakah saya sedang pada posisi mapan? Atau orang sering mengatakannya sebagai zona aman. Tentu saja kemapanan yang berkait dengan posisi saya sebagai pekerja di sebuah lembaga milik orang. Dan dalam proses pembelajaran itu, saya mencobanya untuk merenung dan merefleksikan di depan cermin perubahan, dan merabanya untuk menemukan indikator kemapanan itu.

Pernah saya deklarasikan pada diri sendiri untuk selalu merubah posisi atau tepatnya untuk me-mutasikan diri sendiri setiap 3 sampai dengan 5 tahun ketika sedang berada dalam satu posisi yang sama. Itu adalah waktu yang paling ideal, menurut saya, untuk menjaga stamina kecemerlangan dalam berpikir sehat yang saya miliki, untuk tetap terus bersinar. 

Karena mengaca pada teman-teman yang mayoritas menandatangani kontrak kerja hanya satu kali putaran, dan itu 3 tahun durasinya, saya melihat mereka tidak pernah lelah merajut mimpi masa depan yang akan penuh warna. Karena setelah kontrak itu selesai, mereka akan mencari tantangan baru di tempat lain, bahkan di Benua yang berbeda. 

Tapi hampir selalu durasi 3 hingga 5 tahun itu, yang menjadi pegangan saya, selalu saya ingkari sendiri. Ada yang hingga 11 tahun, 8 tahun, dan sekarang nyaris 7 tahun. Ketika saya menilik ke dalam diri sendiri, petualangan saya itu terhenti karena faktor internal dan eksternal.

Sekali lagi, bahwa tekad untuk memutaikan diri tersebut bukan karena saya menjadi pekerja yang mumpuni bahkan hingga mendekati perasaan angkuh untuk itu? Sama sekali tidak. Itu semua karena saya sendiri merasakan enaknya hidup dalam situasi yang tertantang. Dalam situasi yang baru, hampir selalu menyajikan tantangan-tantangan yang penuh gairah untuk diarungi. Dan pada saat tantangan demi tantangan dapat kita taklukkan sebagai peluang dan keberhasilan, maka ia akan melahirkan semangat dan energi dahsyat untuk terus menggali pengetahuan dan strategi dalam mencapai tujuan. 

Eksternal dan Internal


Untuk kultur eksternalnya, saya harus mengakui kultur kerja yang ada di masyarakat teman-teman dari luar itu lebih kondusif. Saya melihat bahwa mereka hanya mengenal bekerja atau menganggur. Sedang kita selalu berpikir bekerja di tempat yang senyaman dan semapan mungkin. Faktor eksternal ini juga dibarengi dengan kualitas mereka sendiri sebagai pekerja.
Sedang faktor internal yag ada dari dalam diri saya sendiri adalah keharusan untuk adanya sesuatu keterjaminan pemasukan bagi keluarga. Untuk itulah, perlu atau butuh waktu bagi saya mengeksplorasi lahan 'persawahan' yang cocok dalam semua sisinya. 

Dalam kondisi seperti ini, bagaimana keberadaan zona mapan itu bisa kita tepis sehingga energi pembaharuan tetap terus mengalir deras? Hal yang saya lakukan adalah sebagai berikut: Asah gergaji. Ini adalah stetmen dari Stephen R Covey dalam bukunya yang terkenal itu, 7 Kebiasaan Orang Sukses. 

Dengan cara apa saya mengasah gergaji? Dengan bertemu teman seperjuangan. Siapapun mereka. Komunikasi dengan mereka akan memacu degup jantung kreatifitas untuk selalu berlari kencang. Cerita teman selalu menjadi lahan baru bagi pengembaraan pembaruan. Tentu saja teman-teman yang tulus membagi dan sekaligus jujur pada bayangan dirinya ketika menyampaikan testimoninya. Selain bertemu teman, saya juga akan sekaligus mengunjungi dimana dan apa yang mereka lakukan selama ini. Ini adalah pelesiran rohani kreatifitas. Dan juga menyantap bagaimana yang orang lain paparkan melalui lontaran ide di ruang seminar atau pelatihan atau uraian narasi dalam bentuk buku.

Itulah cara saya menjaga diri dari wilayah gelap yang bernama kemapanan. Mungkin berbeda dengan Anda?

Tulisan selesai di Jakarta, 12 Februari 2010.