Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kepada seluruh pembaca semua,
Terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Harapan saya, semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

28 Maret 2010

Membuat Display Kelas

Display atau pajangan kelas, merupakan pengalaman baru bagi saya sebagai guru di sekitar bulan Juli 1996 yang lalu. Baik dalam ranah pengertiannya, pemahamannya, urgensinya, dan juga pada sisi operasionalnya, yaitu saat saya harus mengerjakannya.
Pengalaman baru, karena sebelum ini, selama sebelas tahun saya menjadi guru kelas di tingkat sekolah dasar, membuat display bagi saya tidak masuk dalam jobdes sebagai guru kelas. Lalu apakah pajangan yang ada di kelas saya sebelum itu? Yang ada adalah foto Garuda Pancasila, Presiden dan Wakil Presiden, serta pahlawan nasional yang berbingkai. Pajangan itu lestari sejak awal tahun pelajaran hingga penerimaan rapor kenaikan kelas.

Dan sekarang, saya memiliki tugas tambahan sebagai guru kelas lima sekolah dasar itu dengan latar belakang sebagaimana yang telah saya sebut. Jadi bagaimana saya memulai pembuatannya itu. Inilah nukilan pengalaman saya.

Pertama saya bertanya pada teman pararel kelas saya berkenaan dengan fungsi dari papan-papan display itu. Istilah display ini pun baru saya kenal saat hari pertama saya berada di sekolah baru saya itu. Hari pertama saya masuk adalah lima hari kerja sebelum siswa masuk sekolah.

Dari uraian teman, saya menyiapkan karton buffalo sebagai back ground dan list atau bingkai dari papan display yang tersedia. Di dalam kelas, semua ada 4 papan display. Tiga papan ukuran 240 sentimeter kali 120 sentimeter dan satu ukuran 240X60 sentimeter.
Dengan ketiadaan pengalaman dan cita rasa tentang warna, saya seharian memasangi papan display itu dengan warna yag beragam. Ada warna merah dengan list warna hitam. Warna kuning dengan list warna hitam. Warna coklat muda dengan list coklat tua. Dan pilihan warna-warna itu setelah melihat apa yang dipilih oleh teman pararel. Dan ketika sore hari, teman saya yang lain memberi komentar terhadap hasil kerja saya, yang membuat saya nyaris putus asa. Komentarnya: Agus, warna di kelasmu seperti warna mau pesta!

Komentar itu telah memberikan bukti kepada saya bahwa pengalaman mengajar sebelas tahun mengajar sebagai guru, seolah tidak memberikan kontribusi kepada saya pada hal kecil. Yaitu membuat display kelas. Saya malu pada diri sendiri. Tapi saya coba berpikir berbeda; Inilah sekolah baru saya, tempat saya belajar menjadi guru pada fase yang berbeda.

Mengapa saya memaknai sebagai fase berbeda? Karena saya ingin sekali untuk menjadi guru yang terus menerus memperbaiki koordinat berubah menuju kebaikan. Dan pengalaman membuat display itu adalah indikatornya. Karena saya bergerak dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada menuju ke ada.

Apakah pergerakan tidak ada menjadi ada itu sederhana? Dalam artikel ini sangat mungkin sederhana kelihatannya. Namun dalam praktek yang saya alami pada Juli 1996 yang lalu, hal itu merupakan pergulatan perasaan rendah diri, ketidakberdayaan, keputusasaan dan kepasrahan yang memeras integritas saya.

Namun optimisme untuk menjadi lebih baik sebagai semangat hijrah saya, telah menghantarkan saya untuk tidak mudah menyerah dan menyalahkan ketidakberdayaan kepada lingkungan sekitar. Dalam artikel ini pula saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman satu kolega yang ikut berkontribusi kepada usia saya di tahun-tahun itu.

Dari pengalaman saya yang mengalami gegar budaya ketika menjadi guru baru di sebuah lembaga yang bernama sekolah dengan paradigma yang tidak sama dengan apa yang saya dapatkan sebelumnya, akhirnya memberikan hikmah pada diri saya. Yaitu untuk membentangkan tangan selebar yang diinginkan kepada teman baru saya di tahun berikutnya.
Dimana saya sudah menginternalisasikan budaya yang ditahun sebelumnya baru bagi saya pada tahun berikutnya kepada teman baru saya. Tidak saja dalam bentuk orientasi kepada mereka yang menjadi guru baru. Tetapi juga dokumen yang dapat mereka jadikan pegangan. 

Hikmah itu menggarisbawahi bahwa pengalaman meraba-raba dan menduga-duga tentang budaya apa yang menjadi garis perjuangan di sebuah lembaga, yang pernah saya alami ketika menjadi guru baru, jangan berulang kembali kepada teman baru saya. 

Namun sering keterbukaan tangan saya menjadi tidak lebar lagi ketika menemukan teman baru saya yang tidak memiliki rasa kekurangan pada diri mereka.

Jakarta, 30 Maret 2010.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

betapa bijaknya kepala sekolah waktu mengingatkan saya mengenai penempatan judul display ; er, bisa bantu pindahkan judul display ke bawah lagi ? (he he he maksudnya mengingatkan saya kalau penempatan judul kurang pas)