Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

28 Maret 2016

Mudik 2016 #2; Keliling Naik Sepeda

"Mudik berikut kita musti keliling naik sepeda." Begitu kalimat yang disampaikan anak sulung saya ketika kami berhenti sejenak untuk mengambil nafas sekaligus melihat dan menyaksikan percakapan seorang  ibu yang memetik bunga turi dan seorang bapak yang memelihara dan menjual tanaman dalam polibek di sekitar Selokan Mataram, Jogja. Kami beristirahat setelah lebih kurang 5 kilometer berboncengan.

Dan ini menjadi pengalaman pertama kali untuk saya mengayuh sepeda setelah lebih kurag dua tahun mengistirahatkan sepeda di rumah hingga banya kempes kehabisan angin. Dan ketika mudik akhir pekan  tahun ini, Saya kembali memompa sepeda anak di bengkel dekat penginapan mereka, yang dia beri nama Gemmy, yang kebetulan sekali juga kekurangan angin. 

Saat itu kota Jogja lumayan panas di waktu seputar pukul 10.00. Maka istirahat di bawah pohon kersen dengan beberapa sangkar burung prenjak yang tergantung di dahannya menjadi pelepas keringat yang mengasyikkan. Sesekali dialog seorang bapak pejual tanaman tadi dengan seorang ibu pemetik bunga turi itu terus berlanjut.

"Ini pohon cincau Bu. Monggo menawi ngersani. Saya jual. Pohon ini nanti sampai rumah ibu hanya perlu memindahkan ke tanah. Karena pohon ini sudah tumbuh bagus di dalam polibek. Ibu hanya perlu memberi air secukutnya sampai pohon ini benar-benar tumbuh. Selanjutnya daunnya tinggal dipetik untuk dibuat cincau." Kata Bapak itu kepada seorang ibu. Kami duduk di kanstein pinggir jalan yang menjadi pembatas tanggul selokan.

Dalam waktu istirahat itu juga saya manfaatkan dengan mengirim pesan kepada istri dan anak-anak tentang alamat lokasi kami janjian makan. Karena sejak kami berpisah di penginapan tadi, hanya arahnya saja yang saya tahu. Lokasi persisnya saya masih mengira-ira.

"Perempatan warung Soto ambil jalan arah yang ke kanan. Persis di perempatan stadion. Ikuti saja jalan itu nanti ketemu angkringannya." Begitu balasana pesan dari anak. Kami masih mendiskusikan dengan anak sulung rute yang akan kami ambil. Dari masukan Bapak Penjual tanaman, kami akhirnya menyusuri sepanjang jalan selokan tersebut hingga ketemu perempatan yang dimaksud.

Pengalaman naik sepeda dengan tujuan bukan untuk berolah raga tiba-tiba menjadi bagian dari aktivitas kegiatan mudik kami. Ini tidak lain karena moda transportasi kami ketika mudik ini adalah kendaraan umum. Sementara kami butuh bergerak. Maka sepeda menjadi pilihan untuk berkeliling di seputar Selokan Mataram...

Jakarta, 28 Maret 2016.

Tidak ada komentar: