Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

11 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #3; Efektif dan Efisien

Suatu saat saya harus menyampaikan kepada para Kepala dan Wakil Kepala Sekolah, dan bahkan juga manajemen terkait yang ada di lembaga pendidikan dimana saya diberikan amanah untuk ada di dalamnya, tentang efisiensi. Ini saya lakukan tidak lain karena berkenaan dengan budget yang harus lembaga keluarkan atas kebijakan yang diambil oleh teman-teman tersebut. Dan ini saya sampaikan karena memang beberapa teman yang ada masih perlu dorongan untuk melakukan hal-hal di lapangan yang lebih hemat dan tepat guna. Maka untuk kepentingan itulah saya menyampaikan masukan kepada mereka.

Ini tidak lain karena dari mapping yang ada, yang dorongannya saya dapatkan dari pihak lain di dalam lembaga agar saya melakukan kajian atas data yang mereka sampaikan. Dan karena saya menjadi bagian dari mereka yang diberikan tugas sebagai bagian di pendidikan, maka data berkenaan guru, siswa, dan sarana prasarana pendidikan, menjadi jatah saya. Dan beberapa hal diantaranya adalah 'gemuk'nya guru dibanding dengan kelas dan siswa, serta penggunaan alat pendidikan yang kurang maksimal.

Maka itulah yang saya sampaikan kepada teman-teman agar segera mengambil langkah nyata untuk menjadikan operasional pendidikan yang berada di bawah kendalinya sebagai bagian yang harus menerapkan efisiensi serta memaksimalkan apa yang telah dimiliki sekolah sebagai bagian yang integral bagi peningkatan daya saing guru dalam interaksinya dengan siswa atau peserta didiknya.  

"Tugas guru mengajar Pak Agus, jadi mengapa mereka harus melakukan pengawasan siswa di luar jam mengajar?" Demikian antara lain komentar salah seorang dari teman-teman itu. Saya sesungguhnya kecewa sekali dengan kalimat yang terlanjur keluar itu. Dan lebih kecewa lagi karena kalimat itu disampaikan dan dalam forum oleh teman yang mendapat amanah sebagai bagian dari manajemen di sebuah sekolah swasta. 

Saya mencoba untuk mengendalikan diri dan bersabar dengan mengatur nafas. Mencoba menemukan dan menyusun kalimat yang bagus sehingga teman saya ini, serta teman yanglain menjadi lebih pintar dalam melihat fenomena yang saya sampaikan, tentunya dengan paradigma berfikirnya sekolah swasta di sebuah provinsi yang sekolah negerinya gratis. 

"Baik, kalau di kelas kita setiap pekannya terdapat 42 jam pelajaran atau tatap muka, maka untuk jenjang SMP dengan jumlah rombongan belajar 9 kelas, terdapat 378 jam pelajaran tatap muka. Aritinya, jika mengacu pada aturan sertifikasi tentang jumlah minimal jam tatap muka seorang guru, yaitu 24 jam pelajaran per pekan, maka untuk 9 kelas di SMP kita membutuhkan guru 15, 75 guru. Atau mungkin sekitar lebih kurangnya 18 guru. Atau maksimal mungkin sekitar 20 guru. Namun yang terjadi di SMP kita guru yang ada adalah 30. Ini artinya, masing-masing mereka, dalam rata-rata 13 jam pelajaran tatap muka per pekan. Artinya, kalau jujur, maka tidak akan ada guru di SMP kita yang dana tunjangan sertifikasinya keluar." demikian jawaban saya atas pernyataan teman manajemen. Semua menjadi diam. 

Dan atas diskusi kami pada hari itu, maka sekolah akan diminta untuk melakukan pembagian tugas yang lebih efisien. Juga berkenaan dengan proyektor dan alat peraga lainnya, dimana kami meminta sekali kepada teman-teman untuk menggunakannya semaksimal mungkin. 

Sekali lagi, tidak lain karena kami adalah lembaga pendidikan formal swasta, yang harus mempertahankan diri bagi kelangsungan operasional kami dengan usaha kami sendiri sebagai bagian utamanya. Semoga.

Jakarta, 11 Maret 2016.

Tidak ada komentar: