Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

14 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #6; Dalam Satu Gerbong

"Untuk sekarang ini, saya belum merekomendasikan ananda putra Ibu masuk ke SMP sini. Karena menurut saya masih banyak yang harus diperbaiki." Demikian kata dan sekaligus pendapat seorang guru ketika dimintai pendapat oleh seorang orangtua si peserta didik yang akan melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi. Ibu orangtua siswa itu meminta pendapat dari guru anandanya mengingat dialah yang lebih tahu tentang sekolahnya. Namun dengan mendengar apa yang disampaikan oleh guru yang bersangkutan itu, maka orangtua tersebut menjadi berpikir. 

Ibu itu kaget dengan rekomendasi yang dibuat guru anandanya. Mengapa pendapatnya justru seperti itu? Mengapa kalau Ibu guru tersebut melihat bahwa ada kekurangan yang dia lihat terhadap jenjang sekolah yang masih dalam lembaganya tidak dia sampaikan kepada atasanya atau kepada pihak yang berkepentingan untuk mendengar dan memperbaikinya? Mengapa pandangan seperti itu justru dia sampaikan dalam bentuk rekomendasi? Bukankah saya, batin si ibu orangtua siswa itu, hanya meminta pandangan tentang sekolah yang baik untuk anandanya?

Dalam Satu Gerbong

Laporan bahwa kenyataan masih belum sinerginya beberapa teman yang ada dalam satu lembaga itulah yang saya maksudkan sebagai tidak dalam satu gerbong. Ini kalau saya umpamakan bahwa lembaga adalah sebuah gerbong. Kalimat yang berupa rekomendasi guru yang ada dalam satu lembaga meski berbeda unit atau jenjang sekolah, adalah bentuk ketidak adanya sikap dan perilaku bahwa mereka berada dalam satu lembaga yang sama. Dan dalam sebuah organisasi atau lembaga, maka ini adalah titik yang harus menjadi perhatian yang sungguh-sungguh.

Terlebih lagi bila lembaga itu adalah lembaga swasta, yang semua sumber dana yang memungkinkan lembaga itu berjalan dengan baik dan lancar adalah dana yang berasal dari masyarakat yang memberinya kepercayaan kepada lembaga tersebut. 

Maka merasa, berpikir dan memahami, serta melakukan berada dalam satu gerbong untuk sebuah perilaku dalam sebuah lembaga tidak dapat dikatakan mudah atau gampang. Tetapi juga, harusnya, tidak pula dikatakan sebagai perbuatan yang tidak mungkin. Tetap dapat dilakukan dengan penuh tekad yang kuat, ketabahan, dan pastinya kesabaran. 

Kuat, tabah dan sabar ketika usaha yang kelihatannya sudah keren dan akan berbuah sukses tetapi dalam sebuah sketsa ternyata masih belum sampai pada tujuan yang diinginkan. Dan ketika situasi demikian yang kita temui itulah butuh kekuatan tekad untuk terus berjuang, perlu ketabahan untuk menerima kenyataan bahwa apa yang kemarin sudah kita ikhtiarkan ternyata masih belum mencapai sinergi yang diingini, dan pasti membutuhkan kesabaran untuk melihat kenyataan bahwa jalan yang kemarin sudah kita jalani membutuhkan jalan yang lain, jalan yang berbeda untuk sekali lagi atau sepuluh kali lagi memberikan ajakan untuk berada dalam satu gerbong.

Menentukan dan memilih jalan atau strategi pemberdayaan yang paling efektif tersebut harus menjadi pemikiran manajemen lembaga. Dan ini menjadi tantangan yang normal bagi sebuah lembaga yang terlanjur besar namun kurang kontrol. Semoga.

Jakarta, 14 Maret 2016.

Tidak ada komentar: