Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

02 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #1

Dalam beberapa kesempatan ketika bertemu dan berdiskusi dengan teman sejawat, saya selalu mendapat cerita beban berat yang sedang teman-teman usung di masing-masing pundak lembaga yang sekarang sedang menjadi tanggung jawabnya. Memang beban itu tidak ringan, kebalikannya, berat. Dan karena beratnya, maka selalu saya bertanya kepada teman tersebut; "Adakah teman yang mendampingi Anda untuk seia sekata?"

Satu teman ada yang memang memulai perjuangannya bersamaan waktunya dengan teman. Ada yang dia terlebih dahulu yang berada dalam lembaga tersebut, ada juga temannya yang terlebih dahulu kemudian mengajaknya bergabung. Maka dalam tataran sosial yang masih berlaku di masyarakat umum, ada beberapa teman yang lebih senior atau ada juiga yang lebih junior. Tetapi pertanyaan saya di atas membantu teman saya untuk sedikit menyingkirkan realitas senior-junior, tetapi mencoba untuk memberikan analisa akan sebuah kenyataan yang dialaminya.

"Pada awalnya memang saya kesulitan menemukan  teman seirama dalam mengajak teman untuk melihat apa yang sedang terjadi di 'luar'. Karena banyak kendala. Ini tidak lain karena apa yang saya usahakan sebagai orang yang baru bergabung atas amanat yang diberikan kepada saya dari para pengelola di tataran yayasan dipandang sebagai bagian yang akan memberikan gangguan kepada kenyamanan teman-teman yang terlebih dulu sudah berada di lembaga tersebut. Untuk itu maka langkah yang paling awal yang saya lakukan adalah mengajak teman-teman tersebut untuk bisa melihat dengan kaca mata yang jernih apa dan bagaimana lembaga lain sedang berbuat. Lembaga lain itu saya perkenalkan sebagai wahana atau cermin buat kita semua." Begitu teman saya memulai kisahnya. Tentu ini sebuah hal yang tidak mudah ketika dahulu ia memulai berada di lembaga yang diamanatkan kepadanya.

Dan saya menjadi semakin salut akan apa yang telah dijalaninya sehingga ketika sepuluh tahun sesudahnya lembaga tersebut semakin mantap dalam menerapkan kultur atau budaya bersaingnya.

Dalam budaya yang telah dan selalu sedang ia jalani bersama 'segerombolan' teman-temannya di lembaganya itu adalah kepercayaan masyarakat akan lembaga pendidikan itu. Dan sekaligus, bahwa setiap program yang menjadi program tahunan sekolahnya, meski itu menjadi berulang, tetapi bersama teman-temannya selalu ada perluasan dan kedalaman yang selalu berbeda.

"Apa yang menginspirasi atau menyemangati Anda dan teman-teman di sekolah selalu membuat sesuatu yang berbeda dengan apa yang terjadi dan berlangsung di tahun-tahun sebelumnya?" Demikian pertanyaan saya kepadanya disuatu hari yang lalu. Tentu setelah apa yang ia keluhkan tanpa kawan 'seperjuangan' itu berlalu.

"Saya mengajak teman-teman untuk tidak puas atas apa yang kita lakukan tahun lalu. Saya mengajak mereka mencoba lagi sesuatu yang berbeda meski dengan nama yang tetap sama. Dan setelah itu kami lakukan, kami mendapatkan sensasi kebahagiaan yang tiada kira. Maka semangat itulah yang menjadi spririt kami ketika akan membuat rencana terhadap program tahun depan. Selalu ada energi untuk tidak mengulang kegiatan yang persis sama di tahun depan. Meski program kegiatannya tetap sama namanya." Demikian penjelasannya dengan penuh semangat. Saya memahami apa yang menjadi keterangannya itu. Itulah jalan 'perubahan' yang bagi saya sendiri juga membawa nikmat!

Jakarta, 24 Februari-2 Maret 2016.

Tidak ada komentar: