Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

10 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #4; Berharganya Sokongan Guru

Mengaktifkan kembali menyongsong dan menyambut kehadiran para peserta didik di halaman sekolah di pagi hari ketika anak-anak turun dari kendaraannya, adalah sebuah hal yang menjadi tantangan pertama bagi teman saya ketika mendapat amanah baru sebagai Kepala Sekolah. Ini karena komunitas sekolah telah lama tidak lagi memiliki kultur yang sebenarnya benar-benar ada dan tertulis di dalam program unggulan sekolah mereka, yang kemudian tidak lagi dijalankan, bahkan oleh Kepala dan Wakil Kepala Sekolahnya. 

Maka melakukan hal yang sebelumnya telah ada, juga bukan menjadi hal yang mudah dan remeh. Ini menjadi hal yang sedikit membutuhkan tekad baja dan strategi bagi menumbuhkan kultur bagus dan teladan di sekolah. Meski sekolah yang teman saya pimpin itu adalah juga sekolah swasta. Sebuah lembaga yang seharusnya mudah berubah karena memiliki kultur bersaing untuk mendapatkan siswa sebagai sumber 'kehidupannya'. Kenyataannya, sudah satu pekan teman saya berdiri di bawah gapura pintu gerbang sekolah yang dibangun para pendahulunya.

"Paling satu minggu Pak Kepsek baru bertahan dengan model barunya. Nanti lama-lama akan seperti kita. Jadi kita menunggu kapan beliau kapok." Komentar seorang guru yang seharusnya, dari ukuran umur dan masa kerjanya di lembaga itu layak menjadi teladan bagi guru lain untuk menjadi guru yang menjadi panutan unggul. Tapi dari komentarnya itu, seolah ia sedang 'mengajak' yang lain untuk tetap apatis dan sekaligus menghasut untuk satu barisan dengannya.

Dan ketika mendengar kalimat itu, serta beberapa kalimat lain yang senada yang disampaikan oleh teman yang lain, maka Kepsek teman saya itu menjadi 'terbakar' semangatnya. Dan semangat yang membara itu membangkitkan motivasi untuk tahan banting. Maka pada sore hari menjelang jam kepulangan, teman saya mengajak 3 Wakil Kepala Sekolah untuk bersamanya mulai besok pagi. Dan mulailah kegiatan itu bergulir dengan 'format' tim yang baru.

Apa dan bagaimana situasi berikut yang terjadi? Beberapa kalimat yang kurang sedap dan melemahkan atas perubahan masih tetap terdengar. Dan tentunya tetap dari guru yang sama. Tetapi teman saya sudah bertekad bulat untuk melakukan perubahan. Sekaligus menyusun data statistik berkenaan dengan penurunan jumlah siswa yang terus menerus di tahun belakangan ini. Dan data ini menjadi pemicu bagi teman saya untuk mengajak teman yang lain bergerak ke arah yang lebih menolong dan melayani siswa di sekolah dan juga di dalam kelas.

"Pak, saya ingin ikut serta menyambut siswa ya. Tapi karena belum ada jadwal, dan jga karena saya tidak enak dengan guru yang lain yang ada di ruang guru sebelum bel masuk berbunyi, sementara saya menyambut siswa di koridor lantai 2 ya Pak." Demikian kata seorang guru yang baru saja bertugas di sekolahnya itu tidak lebih dari emat tahun. Namun karena semangatnya itu, teman saya telah beberapa kali memberinya kesempatan untuk menjalankan tugas tambahan.

Dan tidak kepada guru itu saja sokongan datang. Beberapa guru yang lain diluar ruang rapat memberinya jadwal jam kosongnya untuk mendapat tugas tambahan dari teman saya yang Kepala Sekolah. "Saya sudah benar-benar ingin sekolah kita berubah Pak. Karena saya yakin bahwa kita adalah sekolah yang memiliki banyak potensi untuk mempu bersaing." Kata serang teman guru lain di kesempatan yang berbeda.

Jakarta, 10 Maret 2016.

Tidak ada komentar: