Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

28 Maret 2016

Mudik 2016 #1: 3 Kenangan Mudik di Musim Buah

Dalam kunjungan saya untuk menengok keluarga yang tinggal di Purworejo dan Jogjakarta kemarin, menjadi kenangan baik buat saya dan keluarga besar. Ini tidak lain karena mudik kemarin menjadi mudik dengan anggota keluarga saya yang lengkap tidak ada yang harus absen karena alasan tertentu. Itulah yang menjadi kenangan tersendiri. 

Pertama, bagaimana susahnya memilih waktu yang pas dengan harga tiket yang tersedia dan masih terjangkau. Ini mengingat akhir pekan kemarin adalah akhir pekan yang panjang dengan 3 hari merah. Dan meski satu bulan sebelumnya saya memesan tiketnya, tetapi tetap juga harus naik ekonomi dengan harga tiket yang paling mahal. Itu juga dengan keberangkatan yang mengharuskan saya mengambil cuti setengah hari.

Mengendarai kendaraan sendiri atau memilih armada bus malam dalam perjalanan yang hanya ada 3 hari 3 malam, pada saat ini sudah bukan menjadi pilihan yang cocok untuk segi waktu. Ini tidak lain karena kondisi jalanan pada saat libur akhir pekan yang sedikit panjang, yang dipenuhi kendaraan. Dan dengan kondisi yang tidak pasti seperti itu, maka memilih selain jalur kendaraan non rel, menjadi tidak pasti dan bisa jadi melelahkan.

Maka kereta api dan pesawat adalah pilihannya. Kereta api selalu terkendala dengan ketersediaan tiket dan jam serta waktu keberangkatannya. Sedang pesawat terkendala dengan harganya. Demikian juga dengan kepulangan kembali ke Jakarta. Menjadi persoalan yang sama dengan keberangkatan saya ke Jogjakarta.

Menyepakati memilih moda transportasi dalam kegiatan mudik akhir pekan dengan berbagai kondisi dan pertimbangan sebagaimana di atas, menjadi hal yang juga tidak kalah serunya. Meski keterlibatan dunia maya sangat memberikan kemudahan bagi kita untuk lebih cepat dan cepat dalam menentukan pilihan.

Kedua, menjadi pengalaman bagi saya dan anak sulung ketika kami 'terpaksa' harus dijemput oleh adek saya yang defabel, sehingga harus mengendarai R3 dengan jarak tempuh rumah-stasiun kereta dimana kami turun lebih kurang 25 kilometer.

Dan kami bersyukur bahwa kami sampai stasiun kereta sudah pukul 21.00. Sehingga persaingan sesama pengguna jalanan Nasional tidak begitu kami rasakan. Ini karena tidak lain dengan kendaraan R3, yaitu R2 yang dimodifikasi untuk kami bertiga, laju kendaraan harus benar-benar sabar dan santai. 

Dan kami tetap menikmati perjalanan yang relatif panjang tersebut. Terlebih dengan 'hidangan' buah durian yang berjejer di sepanjang jalan daerah Bayan dan Bagelen, yang diterangi oleh lampu listrik yang terang. 
Main di pantai di kala mudik, menjadi syarat sejak dia balita.

Ketiga, kami menengok kampung halaman, dan juga menjenguk keluarga dan anak-anak saya yang tinggal di Purworejo bertepatan dengan musim beberapa buah yang sedang masak-masaknya. Ini menjadi hiburan tersendiri buat saya dan si sulung. Dan selain durian, buah yang sedang masak adalah jeruk, kepel, dan duku. 

Hiburan karena setelah sekian puluh tahun anak saya mudik dengan 'hidangan' buah yang ada di pekarangan rumah tersebut, menjadi hiburan dan kenangan tersendiri. Sebuah pengalaman yang memang saya rencanakan agar anak-anak saya yang kelahiran Jakarta, tetap senang dan terkenang dengan kampung atau udik orangtuanya. Setidaknya dengan buah-buahan yang langsung dapat mereka petik dari pohon halaman depan rumah. Semoga.

Jakarta, 28 Maret 2016

Tidak ada komentar: