Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

11 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #5; Seperti Perjalanan Pulang Kampung

Sebagai orang yang berasal dari kampung, dan sanak keluarga berada dan berdomisili di kampung, maka melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman adalah menjadi kegiatan tahunan. satu, dua, tiga, atau empat kali perjalanan itu saya lakukan. Baik dengan transformasi umum atau mengendarai sendiri. Dan ini menjadi masalah ketika saya harus pulang kampung mengajak istri dan anak-anak, yang mereka tidak begitu menarik melakukan perjalanan jauh dan lama menuju lokasi kampung halaman. Berbeda ketika perjalanan yang kami lakukan untuk menuju lokasi wisata.

Meski ini menjadi halangan ketika di awal-awal dahulu, namun hal itu menjadi tantangan tersendiri buat saya. Caranya? Saya memodifikasi bahwa kegiatan pulang kampung adalah juga kegiatan wisata. Dan karena kegiatan wisata, maka perjalanan yang kami rancang tidak serta-merta menuju ke kampung halaman. Tetapi melingkar-lingkar sesuai dengan lokasi wisata yang kami hampiri. Dengan cara ini, alhamdulillah istri dan anak menjadi antusias ketika perjalanan itu kami lakukan. Meski itu hanya perjalanan berdua, saya bersama istri dengan mengendari kendaraan sendiri.

Bagaimana konkritnya? Suatu kali saya ke kampung halaman dengan memulai perjalan dari Jakarta menuju Kuningan Jawa Barat dengan antusiasme 'menjajal' jalan TOL terpanjang. Dari Kuningan perjalanan berlanjut ke Pangandaran. Lusanya perjalanan berlanjut dari Pangandaran ke kampung halaman. Perjalanan panjang itu kami cicil melalui rute jalan yang selalu indah. Jalur Kuningan-Pangandaran adalah jalur yang mangsyikkan mata. Juga ketika dari Pangandaran-Wangon, saya memilih jalur 'pedalaman', yang juga menyejukkan hati. 

Demikian pula dengan lokasi rest area yang selalu ada yang baru dan menawarkan situasi serta makanan yang berbeda. Ini juga menjadi bahan menarik bagi kami untuk 'mengikat' rasa hingga melakukan perjalanan panjang dan jauh adalah sebuah tantangan yang selalu menarik.

Lalu, Hubungan Pulang Kampung dan Perubahan Guru?

Saya memaknainya seperti itu. Teman-teman yang ketika ada hal baru yang harus kami kenakan, juga hal lama yang harus kami tanggalkan, maka filosofi perjalanan ke kampung halaman adalah hal yang menjadi strategi buat saya untuk melakukannya. Tentunya dengan menerapkan pada ranah yang berbeda. 

Ketika sekali waktu saya membuat sebuah program yang lebih mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan siswa, maka untuk kali pertama teman-teman melakukan kegiatan sebagaimana yang kami siapkan bersama. Di beberapa teman yang menyukai tantangan, dan menginginkan percepatan adrenalinnya, maka format kegiatan yang saya buat secara generik akan dibawanya diskusi lanjutan bersama saya. Dan diskusi itu akhirnya membuahkan sebuah kegiatan baru yang lebih segar dan lebih sesuai dengan apa yang diinginkan dan taste teman-teman itu. 

Kegiatan 'baru' ini tentu menjadi bahan diskusi selanjutnya bagi teman kain yang telah melakukan kegiatan generik sebagaimana  yang telah saya susun. Dan ini menjadi benchmark bagi teman-teman yang lain untuk kemudian menjadi tantangan baru di tahun berikutnya. 

Maka tidak mengherankan ketika di tahun berikutnya teman-teman dalam pararel kelas akan membawa kegiatan baru, semangat baru, strategi baru,  dalam mencapai goal yang sama. Dan ketika kegiatan berakhir, dan anak-anak peserta didiknya begitu menikmati dan tertantang akan kegiatan yang telah guru rancang, maka inilah puncak kebahagiaan mereka yang tiada terkira.

Inilah yang saya maksudkan dengan perubahan dengan filosofi perjalanan pulang ke kampung halaman. Akhir dari kegiatan tersebut adalah kebahagiaan tiada terkira. Semoga. 

Jakarta, 11.03.2016.

Tidak ada komentar: