Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

21 Agustus 2014

"Jelly-nya Sudah Tamat Pak."

"Jelly-nya Sudah Tamat Pak." kata seorang peserta didik kami yang sekarang sudah di bangku kelas 1 SD. Saya terus terang sering sekali terhenyak dengan kota anak-anak. Meski di usia mereka yang masih muda sekali, namun memiliki perbendaharaan kata yang kadang menakjubkan. 

Seperti kata tamat yang dikemukakan seorang siswa saya itu. Dipahaminya bahwa kata tamat artinya selesai. Maka ketika jeli rambutnya sudah habis, maka dijelaskannya bahwa jeli rambutnya sudah tamat. Dan rangkaian kalimat dengan pilihan kata tamat itu, membuat saya sedikit banyak menjadi takjub.

Jelly Rambut

Kata tamat itu saya temukan darinya ketika saya bertemu disuatu pagi ketika sekolah belumj dimulai. Seperti biasanya, bahwa anak ini selalu mengenakan jeli rambut ketika dia masih duduk di bangku kelompok B di Taman Kanak-Kanak satu tahun yang lalu. Dan karena selalu mengenakan jeli itulah maka ia menjadi trend setter bagi anak laki-laki di TK B tersebut untuk mengenakan jeli rambut setiap berangkat ke sekolah. Jadi, gayanya itu diikuti setidaknya oleh dua temannya yang lain.

Tetapi setelah menginjak di bangku sekolah dasar, saya perhatikan bahwa rambutnya yang lurus tersebut tidak lagi ber-jelly. Oleh karenanya menjadi menarik perhatian saya untuk mengajukan pertanyaan kepadanya. Apakah memang sudah tidak rend lagi baginya untuk mengenakan jelly rambut? Ataukah memang sudah tidak merasa cocok lagi dengan rambut yang selalu diberi jelly ketika berangkat sekolah? Atau memang ada alasan lain? Rasa ingin tahu saya itulah yang menjadikan saya mengajukan pertanyaan kepadanya di halaman sekolah pagi itu.

"Nang, " panggil  saya  ke[pada anak yang selalu sibuk dengan teman-temannya itu di halaman sekolah.

"Bapak perhatikan sekarang rambutnya sudah tidak berminyak lagi?" lanjut saya setelah ia berhenti berlari mengejar temannya.

"Memang Pak. Saya sekarang tidak pakai jelly rambut lagi." Jawabnya dengan tangan kanannya mengusap rambut di kepalanya. 

"Mengapa tidak ber-jelly lagi?" tanya saya selanjutnya.

"Iya Pak. Jelly rambutnya sudah tamat." jelasnya.

Itulah sekelumit dialog saya dengan seorang peserta didik di pagi hari sebelum jam pelajaran sekolah dimulai. Dalam dialog itu, saya menemukan kosa kata tamat yang dirangkai menjadi kalimat, dan karena tidak pas, maka menjadi bahan buat saya untuk sedikit tertegun.

Jakarta, 21 Agustus 2014.

Tidak ada komentar: