Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Juli 2014

Perjalanan yang (sempat) Mengkawatirkan

Dalam sebuah kegiatan yang mengharuskan kontribusi  peserta didik sebagai wakil atau duta kesenian, kami disibukkan oleh isu dan kekawatiran yang sangat terhadap keselamatan perjalanan. Ini tidak lain karena adanya kejadian sebelumnya, yang menimpa armada dari maskapai penerbangan, yang terjadi hanya beberapa saat sebelum perjalanan itu berlangsung.

Sebuah kejadian yang fatal, yang wajar jika beberapa orangtua dari peserta didik kami, mendesak kami selaku penanggungjawab perjalanan untuk merubah rute perjalanan. Kekawatiran itu juga menjadi dan bertambah besar karena air line yang akan kami gunakan memang mencatat sejarah dalam keamanan perhalanan. Maka, dari sisi inilah kami di sekolah mencoba untuk berpikir jernih, sekaligus mencoba menemukan alternatif yang mungkin dapat menjadi jalan keluar sebagai jawaban atas kekawatiran tersebut.

Dan salah satu ya dari alternatif tersebut adalah mencoba mencari rute berbeda. Artinya, kami harus menghitung dan mengkalkulasi refund yang ada, jika memang ada, jadwal kegiatan yang harus dijalani selama misi kebudayaan di negeri tirai bambu itu, dan termasuk berapa ongkos tambahan atas selisih harga.

Atau, kami tetap jalani rute perjalanan yang dipilih dikali pertama saat membuat rencana kegiatan, dengan tentunya, meminta masukan dan pendapat peserta, serta mengubah mind set. Yaitu meyakini akan pertolongan Allah dengan kebaikan atas kekawatiran yang muncul.

"Betul Pak. Tetapi apakah orang-orang yang mengalami kecelakaan lada penerbabgan sebelumnya juga tidak berdoa? Bukankah mereka itu berdoa untuk diberikan kebaikan? Jadi saya minta solusi atas kekawatiran ini kepada Bapak selaku penanggungjawab perjalanan." Demikian bunyi SMS dari salah satu orangtua peserta didik kami yang ikut serta dalam rombongan.

SMS itu membuat kami sedikit tercambuk untuk memberikan jawaban dan sekaligus pandangan atas rasa kawatir. Kami yakini bahwa apa yang telah terjadi dengan maskapai penerbangan itu sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolak. Sesuatu yang bersifat post major bagi seorang penumpang. Dan itu adalah jalan sejarah. Dan kami tidak ingin bahwa rasa kawatir itu tetap tertanam dalam sanubari kami yang ada dalam rombongan, yang menjadi bagian dari bawah sadar. Oleh karena itulah, maka kami mengumpulkan seluruh anggota rombongan  untuk diberikan alternatif yang telah ada. Sekaligus juga meminta semuanya untuk berkomitmen atas pilihannya tersebut. Dan yang pasti, merubah bawah sadarnya, untuk meyakini kabaikan dari Allah.

Jakarta, 31.07.2014.

Tidak ada komentar: