Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 Juli 2014

Mudik 2014 #1; Jembatan Ambles

Pada musim mudik tahun 2014 ini, ada yang istimewa dari saya. Yang pertama, bahwa saya memutuskan tidak akan mudik bersama saudara-saudara yang lainnya, tepat pada musim Idul Fitri ini. Keputusan ini saya ambil bukan karena saya tidak kengen dengan semua yang ada di kampung halaman. Tetapi lebih dari karena waktu libur saya yang terasa mepet untuk berkendaraan Jakarta-Purworejo pergi-pulang. Kedua, bahwa saya ternyata benar-benar sedang memulai dengan kehidupan baru saya. Dan karenanya, saya tidak mungkin mengawali sesuatu yang baru dengan meninggalkannya dan justru menyibukkan diri dengan pejalanan mudik. Itulah setidaknya dua alasan yang membuat saya harus berdiam diri di Jakarta dan tidak ikut serta dalam arus mudik ini. 

Salah satu kicauan pemudik di Twitter, yang di re-tweet oleh sakah satu stasiun radio berita.
Selamat Jalan

Tentunya ada yang kurag, yang harus saya alami dengan ketidak pulangan saya ke kampung pada Idul Fitri ini. Dan itu sudah terasa sekali pada sistem metabolisme saya. Rasa iri untuk melihat patauan jalan menjadi kesibukan saya tersendiri. Meski berita yang ada dari segenap pantauan itu adalah macet, macet, dan macet. Sebagaimana kutipan yang saya ambil dari tweeter hari Senin, 21 Juli lalu. Ketika arus mudik mulai mengalir, dan hambatan karena adanya jembatan yang harus ditutup di daerah Pemalang, Jawa Tengah.

Meski demikian, sekali lagi, saya memberikan semangat kpada para pemudik Idul Fitri 1435 Hijriah, tahun ini, untuk mejaga stamina guna bertemu kebahagiaan di kampung halaman masing-masing...

Jakarta, 21-23 Juli 2014.

Tidak ada komentar: