Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 Juli 2014

Hati-Hati dengan Anganmu!

Dalam perjalanan hidup, tidak jarang kita bertemu dengan sebuah pengalaman baru, yang baru kita alami, tetapi seolah-olah itu adalah pengulangan dari sebuah kejadian yang kita sendiri sulit untuk mendeskripsikan kapan dan dimana kejadian semacam itu kita rasakan. Dan jangan tanyakan seperti apa. Karena apa yang kita alami memang benar-benar persis sebagaimana yang pernah kita rasakan. Itylah yang orang banyak sebut sebagai de javu.

Peristiwa seperti itu juga yang saya alami dalam berbagai peristiwa indah dan positif di perjalanan kehidupan ini. Bahwa pengalaman baru yang kita dapatkan adalah bentuk pengulangan dari peristiwa yang pernah saya impikan. Bukan dari mimpi, tapi dari sebuah imajinasi. Atau mungkin juga sebuah anganan berupa visi.

Sebagaimana juga cerita teman saya yang berprofesi sebagai guru di sekolah dasar. Bukan sebagai guru pns, tetapi 100 persen sebagai guru partikelir. Maka ketika usia pernikahannya masih belia, dan keinginannya untuk memiliki uang muka sebuah rumah mungil dengan luas tanah 60 meter persegi sulit untuk dapat diwijudkan, maka angannya melambung menjadi impian untuk dapat memiliki rumah tipe 45.

Rumah dengan tipe 45 dianggapnya sebagai rumah yang pas sesuai dengan statusnya sebagai guru. Benarkah? Tidak juga. Logikanya; bagaimana mungkin memilih tipe rumah 45 kalau yang tipe 21 pun tidak memiliki kemampuan untuk membayar uang muka dan cicilannya tiap bulannya?

"Tidak Pak Agus. Saat itu saya diberikan keyakinan untuk mampu membayar secara mencicil tipe rumah tersebut. Saya juga tidak tahu bagaimana saya menggunakan rumus mampu itu." Kata teman saya memberikan testimoni kehidupan yang dialaminya.

"Bagaimana Bapak yakin mampu mencicil rumah dengan tipe 45 kalau yang 21 saja tidak terbayar uang muka dan bulanannya?" Tanya saya ingin tahu. Sebuah alur berpikir yang aneh bukan?

"Itulah yang terjadi. Dengan keyakinan yang saya punya. Saya berkata kepada istri saya. Ibu, Bapak yakin bahwa kalau sekarang dengan gaji kita, sulit bagi kita untuk dapat memiliki rumah meski hanya untuk tipe rumah 21. Tapi kita akan dimampukan diwaktu nanti untuk dapat memiliki rumah dengan tipe 45." Demikian jelasnya lwbih lanjut. Sebuah penjelasan yang memang bukan untuk dilogikakan tetapi langsung saja saya ikut meyakininya.

Karena memang itulah yang terjadi di hari ini. Dimana teman saya yang guru itu tinggal di perumahan tipe 45. Jadi apa yang dialaminya sekarang itu, adalah rangkaian peristiwa yang telah diangankan, digambarkan, dan diyakininya jauh sebelum hari ini.

Ini adalah bentuk nyata buat saya sendiri untuk belajar mengambar masa depan saya dengan penuh semangat dan keyakinan untuk menapaki dan mewujudkannya. Juga melatih diri untuk membuat gambaran dan angan-angan  yang baik. Semoga. Amin.

Jakarta, 22-23.07.2014.

Tidak ada komentar: