Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

28 Agustus 2013

Saya Bersyukur, Karena Saya Melihat Keberbedaan

Kalau mau melihat rekam jejak teman saya ini, maka sepanjang karirnya di sekolah, ia telah memasuki tidak lebih dari enam sekolah formal. Tetapi jangan salah dulu, karena di enam sekolah yang pernah menjadi bagian dari karir keguruannya itu, ia  selalu berada di dalamnya tidak kurang dari enam tahun! Artinya, dia bukan bagian dari kutu loncat. Ia memigrasikan karirnya ketika ia menganggap ada tantangan baru yang akan menjadi bagian dari perjalanan kematangan karirnya. Dan sekarang, diusia menjelang pensiunnya, ia bersyukur telah berada di beberapa lembaga. Karena dengan  pernah berdomisili di lembaga-lebaga yang berbeda itu, ia memperoleh cara pandang, tekanan kerja, atmosfer berorganisasi, dan tentunya pendapatan yang berbeda. Dan dengan itu, ia menjadi lebih luas pandangan dan cara memandang tentang ekspektasi, kontribusi, dan konsekuensi sebagai pekerja.

Wujud dari bersyukurnya itu misalnya tentang apa yang dia sampaiakan kepada saya pada sore itu, dimana ia merasakan kasihan kepada teman-teman seprofesinya yang kalau dihitung secara potensi  akademik, adalah generasi pendidik yang prosfektif. Karena selain lulusan megister, juga adalah generasi yang pintar berbahasa asing. 

Artinya, dua modalitas itu cukup bagi benerasi semacam itu untuk mendapatkan posisi sebagai pendidik di sekolah bagus dan tentunya dengan konsekuensi imbalan yang bagus pula. Tetapi dua modalitas itu justru tidak atau mungkin kurang memberikan dampak nilai tambah hanya karena cara pandang dan etos berpikir serta etos berperilaku yang kurang matang.

Bahkan ada dari generasi mereka itu yang kurang bisa menghargai lembaga atau organsasi dimana mereka berdomisili dan berbakti dalam rangka mendapatkan rizeki. Bahkan dihadapan para costumer atau orangtua siswa jika di sekolah. Mereka salah memposisikan diri dan sekaligus martabat. Mereka berpikir jika mereka berseberangan dengan tempat domisilinya akan membuat mereka menjadi lebih hebat?

Sebagian anggota dari generasi itu sesungguhnya sedang salah dalam mengambil posisi dan paradigma dalam berpikir dan menempatkan diri. "Bagi saya, kata teman saya itu, dengan mengambil posisi seperti itu, sesungguhnya mereka sedang mempertontonkan betapa tidak liniernya potensi akademik yang dimilikinya dengan potensi sukses bagi dirinya."

"Itulah syukur saya. Dengan melihat bagaimana opersionalisasi di lembaga-lembaga yang pernah ikut serta di dalamnya, saya mensyukuri selalu dimanapun saya berada. Bagi saya, lanjutnya, tidak ada lembaga yang tidak layak untuk dijadikan lahan dalam mengemban etos syukur dan iklas kita."

Saya, ketika menulis catatan ini, juga mengcap syukur atas hopotesis  perenungan teman saya. Saya dapat belajar darinya...
 
Jakarta, 27 Agustus 2013.

Tidak ada komentar: