Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

18 Agustus 2013

Mudik 2013 #15; Nonton Wayang Kulit

Ini menjadi pengalaman anak bontot saya di saat mudik kemarin, yaitu menonton pertunjukan wayang kukit di sebuah gedung joglo yang ada di tikungan yang ada di alun-alun utara dari Keraton Yogyakarta. Lokasi persis dari gedung yang menyelenggarakan wayang kulit itu berdampingan dengan gedung sebuah bank plat merah yang berseberangan dengan kantor pos besar Yogyakarta.

Sebenarnya, beberapa waktu sebelumnya kami bersama-sama akan menonton. Namun karena siang harinya saya harus berjuang dengan jalanan padat, maka ketika sore menjelang ada rasa malas dan lelah yang menjadikan semangat menonton itu sirna. Beruntung bahwa bontot saya berjumpa dengan teman sekelas SMAnya. Dengan dialah bontot saya mendatangi gedung atau bangunan joglo milik Dinas Kebudayaan itu untuk menonton.

"Bagaimana Dek perasaanmu setelah menonton wayang kulit?" Tanya saya setelah anak saya itu sampai kamar hotel.

"Wah, seru sekali Yah. Kami berdua menjadi orang asing dalam pertunjukan itu. Karena hanya kami berdua saja penonton orang Indonesianya. Penonton lainnya semua orang bule." Jelas anak saya sumringah luar biasa.

"Jadi kamu bangga dong ya bisa punya pengalaman seperti itu?"

"Ya bangga ya sedih. Karena banyak orang kita yang memadati sepanjang Jalan Malioboro tetapi mengapa hanya kami berdua yang mengunjungi dan menonton wayang?"

"Ya, mungkin saja orang lain itu sudah sering nonton wayang. Atau mungkin saja para pengunjung Jalan Malioboro itu tidak tahu lokasi-lokasi budaya. Sehingga mereka hanya mengunjungi Jalan Malioboro dan Pasar Bringharjo ketika datang ke Yogyakarta." Jelas saya dengan persfektif berbeda.

"Tapi tadi kami mendapat diskon membayar tiket masuknya Yah. Mestinya berdua kami membayar 60 ribu rupiah. Tapi kami tadi hanya diminta membayar 30 ribu saja." Lapor anak saya.

"Kok bisa Dek?" Tanya saya.

"Penjaga loket dan temannya bertanya sama kami tentang identitas kami. Terus juga bertanya apakah kami tahu wayang. Juga mengapa kok bisa nonton? Ya aku jelasin semua. Termasuk juga aku sampaiin kalau aku sebenanya ngak paham wayang dan ceritanya. Tapi aku penasaran karena ayah sering nonton di you tube tentang Ki Manteb Soedarsono."

Kami semua, ibunya dan kakaknya, juga saya, sedikit banyak ikut bangga. Bahwa ada anak remaja yang tumbuh di luar budaya wayang kulit, bisa ikut serta sebagai penonton di pertunjukan yang hampir setiap malam ada di tempat itu. Meski pengalaman itu belum dapat diambil kebermaknaannya. Tapi  semoga dapat menjadi awal penasaran yang bagus. Dapat menjadi simpul inkuiri...

Jakarta, 18 Agustus 2013.

Tidak ada komentar: