Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

16 Agustus 2013

Mudik 2013 #10; Padat Merayap, Catatan yang Tidak Penting!

Tampaknya, mudik libur Idul Fitri pada tahun 2013, ada yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Khususnya berkenaan dengan kondisi perjalanan yang saya lalui. Setidaknya inilah pengalaman bagi saya yang memiih waktu H+1 Idul Fitri sebagai waktu memulai perjalanan menuju kampung halaman di Jawa Tengah, dab kembali ke Jakarta pada H+7. Karena sepanjang perjalanan tersebut, baik berangkat atau ketika kembali, mengalami ketersendatan yang lumayan panjang dan lama.

Jakarta - Purworejo

Pada perjalanan berangkat, saya meluncur dari rumah di Jakarta pada pukul 06.00, dan sepanjang perjalanan di Pantura Jawa Barat hingga keluar pintu tol Pejagan, semua berjalan normal dan lancar. Lebih kurang pukul 10.00 saya berhenti dan ke toilet di SPBU yang lokasinya berada di sekitar pintu keluar tol itu. Semua masih berjalan lancar dan normal. Asumsi itu saya pertautkan dengan kondisi yang sama pada tahun lalu.

Namun perjalanan mulai mengalami ketersendatan, dimana kondisi  jalana yang padat dan merayap itu ketika kendaraan berada di pertigaan Ketanggungan-Cileduk. Kami mengira bahwa ini karena banyaknya kendaraan parkir di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan itu untuk berbelanja, antara lain telur asin Brebes yang terkenal masir dan gurih itu. Tapi hingga perjalanan masuk ke Prupuk, kondisi jalan tetap sama.

Itulah maka ketika waktu Jumatan tiba di daerah Prupuk pada pukul 12.00, dimana memang kondisi jalan yang memang penuh oleh kendaraan, baik roda 2 atau roda 4, hingga pukul 24.00 kami sekeluarga benar-benar sampai di lokasi yang kami tuju di daerah Jawa Tengah Selatan.

Purworejo - Jakarta

Kondisi serupa dan mirip, kami alami disaat kami melakukan perjalanan kembali ke Jakarta. Saya dan keluarga sepakat untuk memulai perjalanan pada pukul 01.00 dini hari. Ini dilandasi pengalaman pada saat hari kedua kami berada di Purworejo, dimana kami harus mengantar salah seorang anggota tim kami yang sakit diare ke Puskesmas. Pengalaman inilah yang membuat kami sepakat bahwa pada dini hari, situasi jalanan benar-benar sepi. Sangat mudah bagi kami untuk menyeberang jalan. Kontras dengan di saat pagi hingga tengah malam. Situasi hilir mudik kendaraan luar biasa ramai. Hingga kami dan warga lainnya kesulitan dan harus benar-benar bersabar untuk dapat menyeberang jalan.

Karena satu dan lain hal, perjalanan kami benar-benar bisa kami mulai bukan pada pukul 01.00 tetapi mundur satu jam. Alhamdulillah, pada pukul 05.00 kami sudah dapat melakukan shalat Subuh di sebuah SPBU yang ada di lingkar luar kota Bumiayu.
Situasi di depan sebuah SPBU di Pantura Indramayu, Jawa Barat, pada Rabu, 14 Agustus 2013 siang.

Namun seperti halnya saat kami berangkat, saat ke Jakarta ini kami juga masuk dalam rombongan yang antri di sepanjang Pantura wilayah Jawa Barat dari pukul 10.00 di daerah Palimanan hingga pukul 22.00 ketia kami masuk rest area km 42 di tol Cikampek-Jakarta.

Di Kampung Halaman

Tampaknya, dari pengamatan saya di kampung halaman dan juga di hampir semua rumah yang punya pemudik, apa yang saya alami dengan situasi arus lalu lalang kendaraan di jalanan sepanjang kami berangkat dan pulang, adalah refleksi dari keadaan di kampung halaman. Apa bentuknya? 

Di kampung kami, hampir setia rumah yang menerima pemudik, selalu ada kendaraan bermotor bersama pemudiknya itu. Baik itu yang roda 2 atau juga yang roda 4. Dan kondisi inilah yang membuat berbeda sangat dengan Idul Fitri tahun sebelumnya. Setidaknya inilah catatan saya.

Artinya? Saya ikut mensyukuri bahwa kami sekelaurga, dan seleruh tetangga di kampung berbahagia dalam merayakan Idul Fitri tahun ini dengan mudik. Semoga keberkahan selalu mengiri semua ikhtiar kami. Amin. Terima kasih.

Jakarta, 16 Agustus 2013.

Tidak ada komentar: