Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kepada seluruh pembaca semua,
Terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Harapan saya, semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

08 April 2012

Nenek dengan Cucunya


Bertemu di Toyan, Kokap saat bus Prayogo yang saya tumpangi penuh sesak. Nenek itu naik bersama rombongan yang lebih kurang berjumlah delapan orang yang sebelumnya adalah penumpang dari bus BUMN yang berangkat dari Bogor dengan tujuan akhir perjalanan adalah Yogyakarta. Jam di tangan saya menunjulkan pukul 16.15 saat nenek itu naik bus saya setelah di oper. Sementara pertigaan Toyan, lokasi dimana operan penumpang antar bus tersebut  itu, sedang disiram gerimis.

Nenek itu naik ke bus yang saya tumpangi dengan menggendong seorang anak balita, dengan kain batiknya. Ditangannya masih ada tas tangan Ibu-Ibu warna hitam. Anak balita yang digendongnya bermata cerdas dengan topi woll yang menutupi kepalanya. Anak itu perempuan dengan anting yang menyembul keluar dari topinya. Saat bicara, anak itu tampak benar-benar smart. Saya dan anak yang baru mendapat duduk di sekitar Temon, memepersilahkan nenek itu duduk menmpati tempat duduk anak saya.

  • Maturnuwun nggih Mas. Nenek itu menyambut kesempatan yang kami  berikan. 
  • Kulo niki saking Bogor wingi dalu jam wolu. Kok yah menten nembe dugi mriki... Keluhnya bercerita tentang perjalannannya. Perjalanan yang tidak mudah dan tidak ringan untuk seorang nenek yang lebih kurang telah berusia 60 tahunan bersama cucunya.
    Alhamdulillah putu kola niki mboten rewel babar blas. Alhamdulillah mas. Niki sampun nderek kulo Wiwit alit. Bapak kalian ibunipun wonten Bogor pados damelan. Saya diam tidak memberikan komentar apapun. Saya hanya membayangkan apakah para peminpin kita punya pengalaman atau empati terhadap apa yang dialami oleh nenek itu.
Dikatakannya bahwa kendaraan yang ditupanginya terjebak macet panjang di tanjakan Ciregol, Tonjong, Kabupaten Brebes. Antrian itu butuh waktu lima jam untuk dapat melaluinya. Maka tidak keliru jika nenek itu bersama rombongan saya temui di pertigaan lampu lalu lintas Toyan.

***
Masalah antrian dan kemacetan yang dialami oleh nenek itu sesungguhnya juga saya alami. Hanya mungkin saya lebih beruntung karena bus malam saya tiba di Ciregol lebih dahulu. Sehingga antrian saya ada di depan kendaraan yang ditumpangi nenek itu. Dan pasti bukan menjadi milik nenek dan saya saja, mengingat hari itu adalah hari pertama untuk libur panjang akhir pekan.

Namun bagi saya pada saat pertemuan itu lebih trenyuh pada kondisi nenek bersama cucunya. Dimana orangtua sicucu harus meninggalkan anaknya untuk bekerja di luar kota. Mengapa orangtua itu harus meninggalkan anaknya dan tidak membawa serta? Dugaan saya karena dalam hitungan Ibu-Ayah tersebut pendapatan mereka akan kurang bilamana salah satu dari mereka harus tinggal bersama anaknya atau juga bila mereka berdua bekerja dengan seorang pembantu yang harus merawat anaknya.

Dengan kondisi demikian, maka pilihan bahwa nenek itu harus bersama Cuçu yang tinggal di tempat yang jauh dari kedua orangtua si Cuçu tersebut merupakan pilihan yang paling mungkin. Benarkah? Allahua'lam.

Yang jelas, bahwa nenek itu tetap belum selesai dan pensiun dari merawat balita. Meski usianya sudah lewat dari usia tua. Tapi itulah realitas hidup yang ada di sekitar kita. Lalu bagaimana nenek atau Ibu dari kita masing-masing. Jugakah mereka sedang menggendong cucunya yang adalah anak-anak kita? Lalu adakah hak pensiun bagi mereka dari tugas terhadap generasi para cucunya?

Gamping, 06/04/2012.

Tidak ada komentar: