Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

05 April 2012

Buah Jatuh tidak Jauh dari Pohonnya # 4

Ini kisah saya yang keempat pada pokok bahasan yang sama. Ini karena peristiwa pagi ini benar-benar mengingatkan saya akan 'koordinat' yang relatif sama antara orangtua degan anak-anaknya. Koordinat yang saya maksudkan adalah tata krama atau sopan santun keduanya. Luar biasa. Menginspirasi saya, baik sebagai guru atau juga pastinya sebagai orangtua dari anak-anak saya sendiri.

Terima kasih Pak...

Kalimat itulah yang selalu saya dengar dari kakak yang selalu datang ke sekolah bersama adiknya. Baik ketika berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Ayah atau Ibunya, atau kedua-duanya. Yang biasanya, ketika anak-anak tersebut telah turun dari kendaraannya, orangtua itu terus melanjutkan perjalanannya. Mungkin ke kantor.

Seperti pagi ini. Saya bertemu kakak adik itu jauh sebelum bel masuk kelas berbunyi. Dan seperti biasanya, ketika berjumpa, kakak terlebih dahulu menyapa kami dengan salam dan tidak ketinggalan senyumnya yang sempurna. Adiknya tersenyum mengiringi salam sang kakak yang berjalan agak sedikit di depan. Kami pun, menyambut salam itu dengan senyum yang lebar. Lalu seorang dari kami menyapa: Apa kabarnya hari ini? Dan sang kakak dengan tetap tersenyum ramah menjawab pertanyaan teman saya; Baik Pak, terimakasih...

Nah, pada kata terima kasih dan kalimat yang menyertai  tersebut, seingat saya, selalu diucapkan dengan nada, ritme, kehangatan, dan keramahan yang selalu sama. Baik ketika anak itu bertemu dengan saya sendiri atau beramai-ramai seperti hari itu. Saya kagum luar biasa. Anak yang masuk berusia lebih kurang sembilan tahun atau masih duduk di kelas empat SD, sudah dapat menggunakan keramahannya dalam berkomunikasi dengan kami para gurunya? Pertanyaan saya pada diri saya sendiri: Darimana sopan satun dan keramahan itu dia dapatkan?

Bertemu Orangtuanya

Beberapa waktu yang lalu memang saya pernah bertemu dengan Bunda dari anak tersebut. Disebuah acara pengambilan rapot semester. Ketika bertemu, kami bercakap-cakap tentang topik sosial. Dan dari seluruh percakapan itu, saya menangkap ketulusan dan keramahan. Suara dan gaya bahasa serta pilihan katanya, tidak menunjukkan bahwa ia berasa level yang berbeda dengan saya sebagai lawan bicaranya. Dan itu, yang saya rasakan bahwa apa yang ada pada Bundanya, atau mungkin ayahnya, adalah identik dengan apa yang dilakukan oleh anak itu. Maka tidak salah kalau saya menjadi yakin bahwa; buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Siapa yang tidak merasa gembira atau bahkan bahagia mendapatkan anak dengan keramahan dan kesopanan sebagaimana yang saya gambarkan pada artikel ini? Saya memastikan bahwa semua kita menginginkan dan mengafirmasikannya. Dan itu jugalah yang menjadi harapan saya. Tetapi dalam hati kecil saya ragu. Bukan kepada apa yang anak-anak saya yang sudah dan sedang  tumbuh itu, tetapi lebih kepada komitmen saya sendiri untuk menjadi model  atau pohon bagi mereka.

Dan meski tidak ideal, saya selalu memimpikan situasi bahagia seperti itu. Amin. Mungkin juga Anda?

Jakarta, 05 April 2012.

No comments: